Orkestra Fatamorgana

Orkestra Fatamorgana

Kekasih, sengaja kubuat tulisan ini sebagai ruang singgah, tempat di mana aku mengajak riak sains Barat dan keheningan mistis Timur untuk sekadar bertukar cerita, tegasnya itu hanya untuk menjelaskan kepadamu tentang apa yang berkecamuk di sebalik dadaku. Baik tentang keliaran Fisika Kuantum yang dimulai dari eksperimen celah ganda, efek pengamat, hingga kegelisahan Einstein tentang semesta yang tak pasti, dan seterusnya kemudian kusandingkan dengan kebijaksanaan Socrates lewat tiga pintu ucapannya, keluhuran kisah klasik Laila Majnun, hingga perenungan sunyi tentang ketegasan batas diriku.

Di sini, seluruh gagasan berharga itu tidak sedang kusalin secara mentah untuk membacamu. Melainkan lewat bentukan rasa yang jernih, aku menenunnya kembali secara hibrida, mengubahnya menjadi ‘selembar surat cinta’—sebuah perenungan yang sengaja dihamparkan, khusus untuk kau baca dan kau pahami. Singkatnya, aku mulai tulisannya dari sini: Sebelum dunia dikotakkan oleh jam dinding dan garis peta, segalanya hanya berupa kemungkinan, seperti kabut tebal yang menunggu embusan napas pertama untuk berubah jadi gerimis.

Laju kau datang membawa tuduhan itu. Kau bilang aku egois. Kata itu telanjur mendarat, dingin dan tajam. Namun tunggu dulu. Mari kita duduk sebentar saja, sambil pelan-pelan menengok ke jendela laboratorium tempat para pemikir dunia pening kepala. Sebagaimana yang kau tahu perihal eksperimen celah ganda? Elektron yang tadinya melesat liar tanpa arah, mendadak patuh dan memilih satu jalur pasti kala ada mata yang mengawasi. Sains menyebutnya mekanika kuantum.

Akan tetapi buatku, justru ini tentang kita. Alam semesta ini partisipatif—ia tidak berjalan sendiri secara kaku. Sebagaimana realitas baru mau mewujud saat ada interaksi. Maka, saat kau menuduhku egois, kau sedang bertindak sebagai pengamat kuantum itu. Kau memaksakan satu sudut pandang, lalu—boom—begitu saja kau putuskan itulah sifat hakikiku. Padahal, sebelum tuduhan itu lepas dari rahim mulutmu, aku adalah ketidakpastian yang menampung ribuan kemungkinan baik. Kenapa pula kau memilih melihat yang buruk?

Sama seperti Albert Einstein yang sempat dongkol setengah mati. Ia tidak percaya Tuhan bermain dadu dengan alam semesta. Ia ingin segalanya pasti, terukur, bisa ditebak. Manusia memang punya penyakit bawaan seperti itu, bukan? Kita selalu ingin memegang kendali penuh. Kita ingin menggenggam hari esok seolah-olah besok adalah tanah liat yang bisa kita bentuk sesuka hati. Namun alam semesta selalu punya cara untuk menampar ego kita. Kekasih, lihatlah Qays:

Lelaki yang kehilangan akal sehatnya di bawah terik matahari gurun Arab hanya demi seorang wanita bernama Layla—wanita yang pada akhirnya tak berdaya di hadapan paksaan perjodohan dan terpaksa tunduk pada aturan itu. Orang-orang mengira Qays gila karena ditinggalkan. Tragis, kata mereka. Padahal Qays sudah melampaui fase Einstein. Qays, tidak lagi berusaha mengendalikan takdir, memaksakan kepemilikan, atau menjinakkan jarak yang memisahkannya dari Layla yang telah bersanding dengan orang lain.

Qays membiarkan dirinya hancur, melebur bersama pasir dan angin. Saat Qays berhenti menggenggam, di situlah Qays justru menemukan Layla di mana-mana. Di batu, di bayang-bayang pohon, di dalam dadanya sendiri. Cinta Majnun bukan lagi soal memiliki tubuh fisik, melainkan kesadaran bahwa batas antara “aku” dan “kamu” sebenarnya sudah runtuh. Lantas, di manakah posisi kita sekarang? Tentu saja jawabannya itu hanya ada di tengah badai kata-kata.

Sebagaimana kau tahu juga, bahwa Socrates dulu punya saringan ketat, sebelum sepotong kalimat boleh keluar dari mulut: Apakah itu benar? Apakah itu baik? Dan apakah itu perlu? Tiga pintu ucapan. Sederhana di atas kertas, tapi berdarah-darah saat dipraktikkan. Bayangkan, kalau tuduhan “egois” yang kau lemparkan padaku itu harus melewati pemeriksaan pos penjagaan Socrates. Apakah tuduhan itu benar-benar valid, atau hanya sekadar letupan emosi sesaat? Apakah kalimat itu membawa kebaikan, ataukah justru sengaja dirancang untuk meremukkan hatiku? Dan yang paling penting: perlukah itu diucapkan?

Ya, sering kali kita gagal di pintu pertama. Kekasih, kita bicara bukan karena tahu kebenaran, tapi karena ego kita sedang kelaparan dan butuh memangsa ketenangan orang lain. Namun, aku juga belajar sesuatu dari semua kekacauan ini. Aku tidak bisa lagi menjadi pengamat yang pasrah menerima distorsi realitas dari luar. Aku harus menarik garis batas. Batas diri—boundaries—bukan diciptakan untuk membangun tembok permusuhan atau mengurung diri dalam menara gading. Tidak dan tak.

Alias sama sekali bukan. Batas itu adalah tanda persaksian atas kedaulatan batiniahku sendiri. Ini adalah ruang suci di mana aku berhak menentukan narasi siapa yang boleh masuk dan menetap di kepala. Di sisi lain, aku menghargai caramu memandang dunia, termasuk caramu menilaiku. Namun jalanku bukan untuk memenuhi ekspektasi atau takaran yang ada di kepalamu. Sebagaimana yang kau alami, ketika kendali palsu itu runtuh, justru yang tersisa hanyalah kebebasan yang jujur. Kita semua adalah simfoni yang sedang dimainkan di atas gurun ketidakpastian ini. Berubah setiap detik. Jauhnya, tak bisa diramal.

Jadi, jika kau masih ingin melabeliku dengan kata egois, silakan. Anggap saja itu adalah riak kecil di permukaan samudera kuantum kita, tapi di kedalaman yang paling terdalam, aku sudah selesai dengan keinginan untuk membuktikan diri. Aku memilih berdamai dengan ketidakpastian, melangkah tanpa beban belenggu, dan membiarkan semesta menuliskan sisanya. Namun, ada satu hal yang harus kau ingat sepanjang hayat: Sesungguhnya, kita semua adalah Majnun yang hari ini sedang berdiri di tepi malam, diadang oleh badai ekspektasi orang lain yang ingin mengendalikan hidup kita.

Ketahuilah, bahwa pada kesunyataanya alam semesta ini baru akan bersedia menertibkan dirinya dari badai ketidakpastian dan lahir menjadi sebuah keindahan yang hakiki, justru ketika kita berani menatapnya dengan mata kesadaran yang utuh, kehati-hatian kata yang suci, ketegasan batas diri yang merdeka, dan cinta yang tak terkekang oleh rantai kendali manusia lain—meski sejatinya kenyataan hanyalah sebuah samudera rahasia yang tak bertepi. [Rumah Biru, 2006]

METAMORFOSIS
Baca Tulisan Lain

METAMORFOSIS

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *