Maaf, suratmu baru terbaca. Intinya begini: Diperlukan banyak kata untuk menuliskan sebuah cerita dengan satu premis utama itu sudah sangat cukup dalam memetakan konflik dengan banyaknya sub-plot. Hal tersebut bertujuan guna menjaga fokus penulis untuk mempermudah pembaca dalam membangun kekuatan emosi yang lebih mendalam. Katakanlah persulit jalan tokoh utamanya yang kemudian naikkan taruhannya, laju kembangkan karakternya, bukan premisnya. Singkatnya diperlukan awal cerita, tengah cerita, dan akhir cerita.
Aku tuliskan surat ini bukan sekadar balasan semata. Aku sendiri tak menyangka emailku masih aktif, padahal sudah sepuluh tahun tak digunakan. Ternyata emailku itu nyangkut dan aktif pada satu media sosial yang mana aku sendiri lupa paswodnya. Awalnya bisa terbaca suratmu ini, bermula dari beres-beres. Gawai jadulku yang pecah layarnya serta batrenya yang sudah kembung ditambah lagi pengecasnya entah ada di mana.
Iseng-iseng gawai itu aku bawa ke tukang service. Anehnya, di tempat service itu tersedia suku cadang jadul dan bukan bekas. Tanpa berpikir panjang aku terima berapa pun harga servicenya yang penting bisa hidup kembali. Dipikir-pikir adakah ini alur nasib yang menjadi takdir, hingga aku bisa membalas surat elektronikmu ini? Entahlah. Aku sendiri tidak punya pengetahuan takdir sejauh itu. Terang dan jelasnya hanya satu: adakah aku sia-sia membalas surat elektronikmu ini?
Tegasnya, masihkah kau pemilik email sah itu? Ya, bisa jadikan aktif emailmu itu sampai kini sama seperti emailku yang tersangkut pada sebuah media sosial, iya kan? Meski harus jujur kukatakan kepadamu, adakah kau masih hidup? Maaf, bukannya aku mendoakanmu mati, tapi sepuluh tahun lebih kita tak bersua. Bisa jadi juga emailmu kini aktif di tangan ahli waris atau jangan-jangan sudah digunakan oleh pihak ketiga?
Katakanlah gawai jadulmu itu hilang atau kau sudah menjualnya, kemudian kau punya gawai baru dan lupa pula kata sandinya. Akhirnya kau membuat email baru, iya kan? Musabab itulah aku tuliskan surat ini tidak dibalas ke emailmu demi kau bisa membacanya. Sengaja aku kirimkan surat balasan ini ke media massa, siapa tahu dimuat. Siapa tahu juga kau pun tak sengaja membaca tulisanku ini, iya kan?
By the way, kenapa di surat elektronikmu yang fokus utamanya menanyakan bagaimana caranya merangkai cerita, tapi kau menuliskan kalimat di akhir suratmu itu: “Aku kangen kamu yang dulu!” adakah itu penanda kau mengajakku untuk balikan lagi? Narsisnya, jangan-jangan kau tidak menemukan yang lebih baik dariku? Lupakan. Akan tetapi bagaimana pula harus melupakannya begitu saja, toh diam-diam aku cek notifikasi pesbuk yang masuk ke emailku itu dalam postingan terakhirmu, kau menuliskan ucapan Hayati: “… dan bagaimana jika selama ini aku masih menunggu kamu.” di dinding pesbukku? Lagi-lagi di sini aku merasa percaya diri.
Setidaknya pondasi kepercayaan diriku itu bermula dari sedikit-tidaknya aku mengenalmu. Ya, sebagaimana kebiasaanmu itu jika kau bilang tidak padahal itu maknanya ya, seperti para politikus itu yang bilang ya padahal tidak, hingga banyak rakyat yang dikecewakannya. Meski aku juga sempat berpikir bahwa kutipan ucapan Hayati untuk Zainuddin itu sesungguhnya kau tengah berkata sebaliknya; janganlah kau mengharapkanku untuk kembali.
Bisa jadi sebuah sarkasme sebagaimana kau bilang: “Aku kangen kamu yang dulu!” padahal kesunyataan esensinya tidak. Namun yang tak habis pikir itu kenapa rasa tidak bisa dibohongi? Sepertihalnya para birokrat yang dikorbankan oleh sistem, tangisan mereka sebelum masuk jeruji besi itu murni tidak bersalah. Seperti itulah antitesis itu nyata adanya. Tak selamanya kau berkata tidak bermakna ya. Adakalanya ya itu ya dan tidak itu tidak.
Ngomong-ngomong, masihkah makanan favoritmu itu semur jengkol, tumis kangkung dan ikan asin sebelah yang digoreng garing? Hingga aku terbiasa sudah mencium aroma nafasmu itu. Aku pernah menyarankan padamu bahwa ikan asin sebelah yang digoreng garing itu lebih cocok dengan sayur lodeh dan kerupuk ketimbang dengan semur jengkol, tapi kau menolaknya mentah-mentah bahwa hal itu sama saja mengkebirimu dalam ranah hak asasi, sementara kau tak pernah menghiraukan sedikitpun perihal pencimuanku kala aku berada tepat di sisimu.
Cinta memang di luar nalar. Kenapa pula kau jatuh hati padaku pun sebaliknya aku juga sama, meski harus mengorbankan penciuman. Ah, adakah ini yang bernama bahwa cinta itu memang perlu pengorbanan nan nyata adanya? Aku tulis surat ini bukan untuk menguliti satu sisi biografimu. Tidak dan tak. Sebagaimana kau tahu, hanya alur kenanganlah yang membuat orang mampu untuk bisa berkata jujur apa adanya, iya kan?
Ya, pada jalan-jalan yang membawaku ke pusat rindu, aku masih ingat benar di persimpangan Lengkong Besar itu, kala ada yang memalak kita sepulang nonton teater, kau begitu berani medekati orang asing itu dan mendekatkan mulutmu padanya hingga ia bergegas pergi sambil mengutukmu dan aku menahan tawa sampai sedikit pipis di celana. Harus aku akui, engkaulah pahlawanku di itu malam: Malam panjang dan dingin di Kota Kembang.
Saban hari harus ada semur jengkol. Dan aku bertahan di sampingmu sampai kau pindah kota tanpa ada pamit dan putusan mutlak tentang hubungan kita. Namun satu hal pertanyaanku yang sampai hari ini belum terjawab atas pernyataan sahabatmu pasca satu minggu kau pergi, ia berkata; bahwa sesungguhnya engkau bersengaja memakan semur jengkol saban hari guna taka da yang bisa mendekatimu kecuali aku, benarkah? Jika memang demian adanya kebenaran itu kenapa engkau pergi di saat separuh nyawaku sudah berumah di palung hatimu.
Jangan-jangan, kepergianmu dengan alasan pindah kota sebenarnya adalah caramu meniru takdir Hayati: melangkah pergi, meninggalkan Zainuddin-mu patah hati. Bedanya kita tak pernah lagi bertenmu, sampai surat ini dituliskan untukmu. []









