NOMOR ANTREAN 403

ilustrasi cerpen NOMOR ANTREA 403 karya Doni Muhamad Nur

Dari: Darma buruh@pabrik.com
Kepada: Pak Hartawan amtenar@jakera.com
Subjek: Unit Rusak – Laporan Kerusakan Saraf

Pak, maaf ganggu malam-malam. Tadi pagi saya ke kantor bapak, sesuai jadwal yang disepakati, tapi bapak sedang dinas luar. Sejujurnya saya bingung mau lapor pada siapa lagi, karena aplikasi Jasa Kesehatan Rakyat cuma muter-muter biru saja, kayak mesin produksi yang dipaksa jalan, tapi sirkuitnya sudah korslet. Saya pikir HP nya rusak, sampai di reset dulu, hingga akhinya saya nge-email bapak lewat akun kantor lama ini, sesuai yang bapak bilang kemarin lusa, kalau WA lagi susah dihubungi, karena saking banyaknya pesan masuk, bisa lewat sini saja. Bapak bilang, jangan lupa isi subjeknya dengan kode unit yang sudah bapak berikan tempo hari, biar nggak tenggelam di antara tumpukan laporan klaim lainnya.

Kini kondisi saya makin nggak karuan, pak. Badan kaku semua persis mesin bubut karatan yang telat ganti oli. Jari-jari saya sudah nggak mau mencengkram, tadi sore saja HP sampai jatuh sendiri karena tangan mendadak kebas. Kata dokter klinik, ini akibat tujuh tahun terpapar bocoran cairan solvent dan getaran mesin di pabrik. Saya nggak nyangka, pak, harganya semahal ini sampai tubuh saya seperti aus semua. Belum ditambah dengan kehilangan kelingking.

Sekarang saya lebih banyak di kamar kos. Kadang kalau dengar suara knalpot motor sejawat yang berangkat shift pagi, hati saya rasanya perih. Harusnya saya ada di sana, di tengah deru mesin, megang solder atau ngecek presisi baut, bukan hanya terbaring di sini, kayak unit rusak yang nunggu diangkut ke tempat loak. Kadang saya ngerasa bukan orang yang sama lagi. Saya ngerasa nggak kepake. Saya cuma ada di sini sebagai beban, tapi nggak benar-benar dihitung dalam daftar absensi di dunia kerja.

Saya jadi kepikiran kerjaan terus, pak. Takut kalau kelamaan izin, HRD bakal anggap saya sudah nggak niat kerja lagi. Takut kalau kontrak saya nggak diperpanjang. Saya masih butuh banget kerjaan itu buat biaya berobat dan kirim uang buat ibu, istri dan anak di kampung. Sampai sekarang saya belum berani bercerita ke siapa pun, terlebih pada ibu, takut kepikiran di sana. Kalau bapak bisa bantu verifikasi manual, saya mohon banget, pak. Sistem digital ini bikin saya buntu. Oh iya, soal “Kafka” yang bapak bilang tempo hari itu, saya nggak tahu itu merk mesin baru jenis apa, atau mungkin maksudnya bapak itu ia staf ahli bagian apa … jangan-jangan dia itu yang akan menggantikan posisi saya?

Sebelummnya maaf ya pak, dia itu sebenarnya siapa sih … tapi kok rasanya ngurus hak orang sakit lebih susah ya pak, daripada nyari sperpart langka di pasar loak? Saya juga lulusan SMK Teknik Mesin, kerap dituntut oleh pihak perusahaan harus bisa ngurus mesin yang bermasalah sampai bisa beroperasi kembali. Maaf ya pak jadi banyak curhat, saya hanya ngerasa hilang sendirian di Balaraja ini.

**

Dari: Pak Hartawan amtenar@jakera.com
Kepada: Darma buruh@pabrik.com
Subjek: Re: Unit Rusak – Laporan Kerusakan Saraf

Darma, saya membaca surelmu pelan-pelan, baris demi baris, di sela-sela tumpukan berkas yang menggunung di meja kerja, yang tidak bisa langsung sekali jalan, Darma. Saya harus berhenti beberapa kali, menarik napas panjang, terutama di bagian saat kau bilang merasa “tidak dihitung”.

Kau harus tahu, bahwa di kantor birokrasi yang dingin ini, setiap hari saya menyaksikan sebuah proses “pengulitan” manusia. Orang-orang datang ke sini masih dalam bentuk yang utuh—mereka punya nama pemberian orang tua, punya aroma keringat dari perjalanan jauh, punya cerita tentang ibu yang sudah ditinggal mati suami, punya cerita tentang penghidupan anak-istri, dan punya sisa-sisa harapan yang mereka simpan di saku jaket. Akan tetapi begitu datamu, mereka atau kalian dimasukkan ke dalam lubang pemindaian sistem, semua keutuhan itu lenyap. Justru yang tersisa di layar monitor hanyalah deretan angka, kode, diagnosa, dan status klaim.

Jika ada satu algoritma saja yang tidak cocok, jika ada satu stempel yang warnanya kurang terang, maka secara otomatis sistem akan membuangmu. Kau mungkin masih bernapas di sana, masih merasa sakit, tapi di dunia pangkalan data yang kami kelola, kau sudah dianggap “tidak ada”. Kau mati dalam pangkalan data sebelum tubuhmu benar-benar menyerah. Dan sayalah orangnya yang mengecek semua itu, Darma. Pada kesunyataannya, hal itu membuat saya sulit untuk tidur nyenyak. Saya harus berpura-pura tidak mengerti betapa jahat dan mekanisnya proses ini, demi tetap bisa duduk di kursi ini dan menerima gaji setiap bulan.

Ada ironi yang terus berulang dan sulit saya abaikan. Saya ini lulusan Sastra Inggris, Darma—bukan teknologi informasi, bukan pula akuntansi—bidang-bidang yang secara logis lebih layak mengelola sistem seperti ini. Anehnya, justru saya diterima di sini sebagai staf pengolahan data, seolah-olah latar belakang saya tidak pernah benar-benar diperhitungkan sejak awal.

Dahulu, saya adalah lulusan sastra yang idealis. Saya pikir, gelar akan mampu membawa saya untuk menyelami kedalaman jiwa manusia melalui kata-kata. Namun kenyataanya, sekarang pekerjaan saya hanyalah mencocokkan angka-angka kering dengan berkas klaim yang lebih mirip kertas tagihan daripada laporan karyawan. Terkadang saya bertanya pada diri saya sendiri saat sedang menatap mesin fotokopi yang berderet di sudut ruangan itu, kau tahu kan? Kini, apa bedanya saya dengan mesin itu?

Mungkin atau barangkali bedanya hanya ada pada sisa kewarasan yang kian hari kian menipis ini. Mungkin di titik ini pergeseran itu menjadi lengkap—saya tidak lagi sekadar orang yang salah tempat, tetapi telah berfungsi sebagai antarmuka biologis yang menerjemahkan logika mesin kepada manusia, tanpa pernah benar-benar mampu mengembalikan kemanusiaannya.

Mengenai perasaanmu yang merasa seperti “unit rusak” yang tidak laku, saya tidak akan menganggap itu sebagai keluhan yang berlebihan. Dunia industi di Balaraja ini memang tidak pernah dirancang untuk memanusiakanmu, Darma. Kau, dan ribuan orang seperti kau, hanyalah bagian dari fungsi produksi. Selama sarafmu masih bisa memerintahkan tanganmu memutar baut dengan presisi, kau dianggap hidup dan berharga. Begitu sarafmu mogok karena racun kimia dan getaran mesin, kau dianggap beban yang mengganggu homeostasis ekonomi mereka. Pelan-pelan, mereka akan menghapusmu dari perhitungan, persis seperti menghapus baris di Tabel Excel yang sudah tidak valid.

Mengenai Franz Kafka yang saya tanyakan kemarin, jangan kau ambil pusing. Dia bukan ahli mesin, bukan pula saingan kerjamu. Dia hanya seorang penulis yang sudah lama mati, seorang lelaki yang meramal dengan sangat tepat bahwa suatu hari nanti, birokrasi akan menjadi monster raksasa yang mengubah manusia menjadi serangga. Dalam ceritanya, ada seorang tokoh yang bangun tidur dan mendapati dirinya berubah menjadi serangga raksasa yang menjijikan. Keluarganya tidak lagi melihatnya sebagai manusia, melainkan sebagai gangguan. Dunia industrimu melakukan hal yang sama: kau tidak berubah bentuk secara fisik, tapi sitem di sekitarmu mendadak menutup pintu dan menganggapmu asing.

Di sini, di balik meja ini, suasananya pun mirip. Kau bukan lagi Darma yang rajin bekerja demi ibu, dan anak-istri di kampung. Kau adalah Nomor Antrean 403. Kau adalah Status Klaim: Pending. Selesai. Celakanya, saya adalah satu baut dalam mesin itu. Kadang jari saya sendiri yang harus mengklik tombol “Ditolak” hanya karena dokumenmu kurang satu stempel basah atau fotokopinya miring sedikit. Saya bicara begini bukan karena lebih bijak darimu. Saya sekadar bicara karena saya melihat absurditas ini dari sisi yang sama-sama tidak mengenakkan.

Sekali lagi, statusmu bisa berubah hanya dengan satu interaksi kecil—klik yang hampir tidak terasa beratnya, tetapi membawa konsekuensi yang tidak proposional. Justru yang membuat situasi ini ganjil adalah kesadaran saya sendiri: saya memahami reduksi itu, tetapi tetap mengoprasikannya. Mungkin ini yang paling mendekati bentuk partisipasi yang tidak pernah benar-benar disetujui, tapi terus berlangsung karena tidak ada mekanisme untuk berhenti.

Darma, di dunia birokrasi tidak punya ruang untuk kesabaran. Mereka tidak mau tahu bahwa mesin tubuhmu sedang butuh waktu untuk diperbaiki. Saya tidak punya jawaban yang manis atau solusi instan untukmu, Darma. Jujur saja, mungkin yang bisa saya katakan hanyalah ini: jangan pernah kau ikut percaya pada apa yang dikatakan layar gawaimu atau sistem JKR itu. Kau bukan sekadar fungsi produksi. Kau bukan sekadar angka yang bisa dihapus. Meskipun ya… saya sendiri pun masih sering merasa terjebak di lubang yang sama setiap kali saya duduk di meja kantor ini, merasa menjadi sekrup yang pelan-pelan berkarat juga. Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan biarkan keheningan di kamarmu itu menelanmu bulat-bulat.

—Hartawan

**

Beberapa minggu kemudian, dua surel itu sampai ke tangan seorang penulis. Bukan karena ia mencarinya, melainkan dikirim oleh seorang wartawan yang sedang menyusun laporan investigasi. Penulis itu membaca kedua surel tersebut berulang-ulang. Ia mencoba mengikuti isi masing-masing, tapi keduanya seperti berjalan di jalur yang berbeda: yang satu sederhana dan langsung, yang lain berlapis dan sulit ditembus. Wartawan yang mengirimkannya sempat bilang ini bisa jadi cerita yang menarik, ia mengerti maksud itu, tapi tidak langsung tahu harus mulai dari mana.

Ia membayangkan Darma saat pertama kali membaca balasan itu. Sendirian di kamar kos dengan kondisi tubuh yang sudah tidak seperti dulu. Kalimat-kalimat dalam balasan itu mungkin terasa asing, seperti petunjuk yang tidak pernah diajarkan sebelumnya. Penulis itu berhenti di situ. Ia sadar bahkan dengan latar belakangnya, ia tetap harus mengulang beberapa bagian kaliamat, terlebih frasa yang khusus dicetak miring untuk memahami maksudnya. Ia tidak yakin Darma punya kesempatan yang sama.

Ia menutup laptopnya perlahan; layar yang meredup sempat memantulkan wajahnya sendiri sebelum benar-benar gelap, sementara ia duduk di beranda rumahnya yang menghadap taman bonsai yang tenang, dan dalam ketenangan itu ia justru merasa asing; jemarinya sempat kembali ke atas keyboard sebelum berhenti, karena ia tahu ia mampu menuliskannya—merangkai semuanya menjadi sesuatu yang utuh dan masuk akal—tetapi justru di situlah keraguannya tumbuh, sebab ia mulai merasa bahwa menuliskan semua ini mungkin tidak akan menyelamatkan siapa pun, hanya akan merapikan sesuatu yang sejak awal tidak pernah selesai, dan dengan kesadaran itu, ia menarik tangannya menjauh, membiarkan laptop tetap tertutup, memilih untuk tidak menuliskannya.

Di hadapannya ada tiga hal yang tidak benar-benar menyatu: dua surat, dan satu laporan singkat tentang kematian. Ia bisa saja merangkainya menjadi cerita, memberi alur, memberi penjelasan. Namun semakin ia pikirkan, semakin terasa bahwa semua itu justru akan mengubah sesuatu yang sebenarnya tidak pernah utuh sejak awal. []

Enigma Hujan
Baca Tulisan Lain

Enigma Hujan

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *