Mula-mula ia hanya merasa beberapa orang berubah sikap. Sapaan yang dulu hangat menjadi singkat, dan percakapan yang sedang ramai mendadak menemukan alasan untuk berhenti ketika ia datang. Pernah ia masuk ke sebuah ruangan dan seseorang yang semula hendak bicara justru menelan kalimatnya sendiri. Ia tidak memikirkannya terlalu jauh. Pergaulan memang bisa bergeser tanpa pemberitahuan.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Sampai suatu sore seseorang bertanya, “Kamu iparnya, kan?”
“Iya.”
Orang itu mengangguk singkat, lalu pembicaraan beralih ke hal lain.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Ia tahu iparnya sedang mempunyai masalah dengan beberapa orang. Persoalan itu beberapa kali sampai kepadanya melalui cerita orang-orang yang terlibat, dan ia mendengarkan tanpa ikut mengambil posisi. Baginya, urusan itu tetap berada di antara mereka. Ia tidak menyangka bahwa hubungannya sebagai ipar akan membuat dirinya ikut dikaitkan dengan persoalan tersebut.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Sejak saat itu, kejadian-kejadian kecil yang tadinya tampak terpisah mulai membentuk pola. Sebuah undangan terlewat. Seseorang yang biasanya duduk semeja memilih tempat lain. Tidak ada yang menyuruhnya pergi atau menuduhnya berbuat salah; ia hanya tidak lagi diperlakukan seperti sediakala.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Suatu hari ia memberanikan diri bertanya, “Memangnya saya ada masalah dengan siapa?”
Orang yang ditanya terdiam sebentar.
“Bukan kamu.”
“Lalu?”
“Kamu keluarganya.”(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Ada sesuatu yang ganjil dalam jawaban itu. Selama ini ia mengira hubungan keluarga adalah urusan kedekatan dan tempat pulang. Ternyata, hubungan yang sama dapat menjadi alasan bagi orang lain untuk menentukan siapa yang patut didekati dan siapa yang perlu dijauhi.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Sejak itu ia mulai berhati-hati. Ketika persoalan iparnya disinggung, ia memilih diam. Diamnya dianggap tahu. Ketika ia menegaskan bahwa ia tidak tahu apa-apa, wajah lawan bicaranya berubah seolah jawaban itu menyembunyikan sesuatu. Ketika ia berkata tidak ingin ikut campur, sikap itu justru dibaca sebagai upaya melindungi keluarga.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Ia kemudian teringat sebuah ungkapan Sunda: teu mais teu meuleum, katempuhan buntut maung.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Belakangan, namanya mulai disebut-sebut bersama nomor WhatsApp-nya. Orang-orang yang tidak dikenalnya menghubungi satu per satu. Mula-mula hanya bertanya, “Ini benar nomor iparnya?” Ia tidak membalas. Tak lama kemudian datang pesan lain: “Kalau dia tidak bisa dihubungi, kamu pasti tahu.” Ada pula yang menulis, “Jangan pura-pura tidak tahu.”(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Suatu malam, sebuah nomor yang tidak dikenalnya menulis, “Kalau kamu tidak mau menjawab, kami cari kamu.” Ia membaca kalimat itu berulang kali, lalu meletakkan telepon di sampingnya. Ia teringat ungkapan lain: disakompet daunkeun. Namanya dibawa, nomor pribadinya diberikan, dan orang-orang yang tidak dikenalnya mulai datang melalui layar telepon.(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Pesan-pesan itu ia simpan, nomor-nomor yang masuk ia catat, dan tangkapan layar ia kumpulkan. Ketika pesan serupa datang malam berikutnya, ia tidak membalas. Ia membuat laporan polisi. Malam itu ponselnya tetap di atas meja. Layar sesekali menyala, tetapi ia tidak lagi menyentuhnya. Ia mematikan suara notifikasi, membalikkan ponsel, lalu kembali ke pekerjaannya. [](Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)

HAJI HASAN MUSTAPA : PUJANGGA SUNDA NU JADI PANGHULU AGUNG
(Source: kosapoin.com/ruang-tafsir)
Negara: United States (Virginia)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown





