Berhenti di Depan Pintu

berhenti di depan pintu

Pernah ada masa ketika orang pulang ke rumah dan urusan dunia berhenti di depan pintu. Apa yang terjadi seharian cukup menjadi cerita bagi orang serumah, atau disimpan sendiri. Tidak ada yang merasa berhak tahu ke mana kita pergi, dengan siapa kita berbicara, apa yang sedang kita pikirkan, atau mengapa hari itu kita tiba-tiba diam. Sekarang hidup seperti memiliki aturan baru: semuanya harus terlihat. Makan siang difoto, perjalanan dibagikan, dan percakapan yang seharusnya cukup antara dua orang dapat berubah menjadi tangkapan layar yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Bahkan kesedihan pun memiliki tempatnya sendiri di layar ponsel, lengkap dengan keterangan yang menjelaskan luka, sampai kita terbiasa menganggap sesuatu nyata setelah dilihat banyak orang.(Source: kosapoin.com/berhenti-di-depan-pintu)

Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu. Ada orang yang memilih diam bukan karena hidupnya tidak memiliki cerita, dan ada yang tidak memperlihatkan kebahagiaannya bukan berarti sedang bersedih. Ada pula yang bungkam ketika sedang hancur karena ia sendiri belum tahu bagaimana merangkai rasa sakitnya menjadi kalimat. Diam tidak selalu berarti tidak ada apa-apa. Masalahnya, kita terlalu cepat mengisi ruang kosong itu dengan dugaan kita sendiri. Ketika pesan tidak dibalas, kita mengira seseorang sedang marah. Ketika seorang teman tidak datang, kita merasa ia mulai menjauh. Ketika seseorang berhenti membagikan kabarnya di media sosial, kita sibuk menebak-nebak apa yang sedang terjadi padanya, seolah setiap keadaan harus segera memiliki penjelasan.(Source: kosapoin.com/berhenti-di-depan-pintu)

Namun ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dan merasa memiliki sesuatu. Sebuah cerita bisa sampai kepada kita karena seseorang memilih untuk mengatakannya, bukan karena cerita itu berpindah tangan. Ia mungkin hanya ingin didengar, tanpa membayangkan bahwa cerita yang baru saja selesai diucapkan akan menjadi bahan percakapan di tempat lain. Di situlah sebuah kepercayaan sering berubah bentuk: bukan lagi sesuatu yang disimpan bersama, melainkan sesuatu yang mulai berjalan sendiri.(Source: kosapoin.com/berhenti-di-depan-pintu)

Kehidupan manusia bukanlah rumah yang seluruh bagiannya harus dapat dilihat. Ada pintu yang dibuka karena kepercayaan, tetapi tetap ada bagian yang berada di dalamnya dan tidak ikut berpindah ketika seseorang bercerita. Ketika seseorang mengirimkan foto pribadi, misalnya, foto itu memang berada di tangan kita. Namun bersama foto tersebut tetap ada kisah, keadaan, dan alasan mengapa ia memilih mengirimkannya kepada kita. Benda dapat berpindah tangan dengan mudah; kepercayaan tidak sesederhana itu.(Source: kosapoin.com/berhenti-di-depan-pintu)

Yang membuatnya sulit, kadang kita tidak merasa sedang mengambil apa pun. Kita hanya merasa sedang bercerita. Kita mungkin berpikir orang lain bisa memberi nasihat, atau menganggap cerita itu terlalu menarik untuk disimpan sendiri. Kadang kita bahkan meyakinkan diri bahwa tidak ada yang akan dirugikan. Mungkin memang tidak ada niat buruk di dalamnya. Namun ketika cerita itu kembali kepada orang yang memilikinya melalui mulut orang lain, sesuatu yang semula terasa ringan bisa berubah menjadi pertanyaan: mengapa hal yang saya percayakan kepadamu sampai di sana?(Source: kosapoin.com/berhenti-di-depan-pintu)

Ada saat ketika kita tahu sesuatu, tetapi memilih tidak mengatakannya. Bukan karena takut ketahuan, melainkan karena kita tahu bagaimana rasanya ketika sesuatu yang kita sampaikan dengan percaya diri ternyata berjalan lebih jauh daripada yang kita kehendaki. Maka sebelum membicarakan orang lain, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah cerita itu benar atau salah: apakah cerita ini memang milik saya untuk dibagikan? Barangkali ada cerita yang memang hanya dititipkan untuk didengar. Setelah itu, ia tidak perlu ke mana-mana. [](Source: kosapoin.com/berhenti-di-depan-pintu)

Andini Clara Sinta

Apakah artikel ini membantu?
IP: 18.97.14.88
Negara: United States (Virginia)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *