Tafsir yang Menutup Jalan Pulang

tiga tafsir yang menutup jalan pulang

Tidak semua perdebatan berhenti ketika seseorang kehabisan alasan. Ada yang justru semakin ramai setelah persoalan utamanya ditinggalkan. Orang yang semula diminta menjelaskan pendapat mulai membicarakan siapa yang mengajukan pendapat itu. Ketika penjelasan tidak sesuai dengan kepentingannya, ia mengubah maksud lawan bicara. Jika masih ada ruang untuk membantah, ia mempersempit persoalan sampai lawannya seolah-olah hanya memiliki dua pilihan. Percakapan terus berlangsung, tetapi yang dipertukarkan perlahan bukan lagi alasan untuk memahami suatu masalah, melainkan cara mempertahankan posisi masing-masing.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Dalam logika, ada istilah untuk mengenali sebagian cara berpikir yang menyimpang seperti itu. Ad hominem, straw man fallacy, dan false dilemma bukan sekadar istilah akademis yang berguna dalam ruang diskusi. Ketiganya dapat membantu kita melihat bagaimana sebuah argumen kehilangan bentuk aslinya ketika berhadapan dengan kepentingan, prasangka, atau keinginan untuk menang. Kekeliruan itu tidak selalu muncul sebagai kalimat yang terang-terangan salah. Kadang-kadang, justru karena terdengar wajar, orang tidak menyadari bahwa arah pembicaraan telah bergeser.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Dalam ad hominem, yang dipersoalkan bukan lagi alasan seseorang, melainkan orang yang menyampaikannya. Seorang warga, misalnya, mempertanyakan penggunaan anggaran sebuah lembaga dan menunjukkan bagian yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan. Alih-alih menjelaskan pengeluaran tersebut, seseorang membalas bahwa warga itu tidak pernah memimpin lembaga, tidak memahami pekerjaan di dalamnya, atau tidak memiliki kedudukan untuk mengkritik. Sekilas, tanggapan itu terdengar seperti upaya menilai kelayakan orang yang berbicara. Namun, jika ketiadaan jabatan digunakan untuk menghindari pertanyaan tentang anggaran, persoalan yang sebenarnya belum dijawab.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Kita memang tidak harus mengabaikan siapa yang berbicara. Keahlian, pengalaman, rekam jejak, bahkan kemungkinan konflik kepentingan dapat membantu menilai kredibilitas suatu keterangan. Akan tetapi, semua itu tidak serta-merta membatalkan alasan yang disampaikan. Orang yang tidak pernah memimpin lembaga mungkin saja menemukan ketidaksesuaian yang nyata; sebaliknya, orang yang menduduki jabatan tinggi tetap dapat membuat keputusan yang keliru. Ketika kedudukan dipakai sebagai pengganti jawaban, yang sedang dipertahankan bukan kebenaran argumen, melainkan hak untuk menentukan siapa yang boleh mengajukan pertanyaan.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Cara lain untuk menghindari pokok persoalan muncul ketika pendapat seseorang diubah sebelum dibantah. Inilah yang dikenal sebagai straw man fallacy. Seseorang mengajukan usulan dengan batas yang jelas, tetapi lawan bicaranya memperluas atau membesar-besarkan usulan tersebut hingga menjadi sesuatu yang lebih mudah ditolak. Misalnya, usulan agar penggunaan anggaran organisasi dibuka kepada anggota dijawab dengan pernyataan bahwa pengusul ingin semua rahasia organisasi diumumkan kepada siapa saja. Perdebatan pun bergeser dari soal keterbukaan anggaran menjadi soal membuka seluruh rahasia, padahal keduanya bukan hal yang sama.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Perubahan itu bisa berlangsung hanya melalui satu kalimat. Batasan yang menyertai usulan dihilangkan, maksudnya digeser, lalu versi yang sudah berubah dibawa ke hadapan orang lain seolah-olah tidak pernah ada perbedaan. Pihak yang membantah mungkin merasa telah menemukan kelemahan lawannya, sementara pendengar memperoleh gambaran bahwa usulan tersebut memang tidak masuk akal. Padahal, yang berhasil dipatahkan hanyalah pendapat yang telah dibentuk ulang. Kritik yang sesungguhnya masih menunggu jawaban.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Tentu, tidak setiap ringkasan yang kurang lengkap merupakan straw man. Orang bisa salah memahami, keliru mengingat, atau berbeda menafsirkan suatu pernyataan. Kekeliruan penalaran itu terlihat ketika pendapat yang telah terdistorsi diperlakukan sebagai sasaran bantahan, sehingga perdebatan tidak lagi berhadapan dengan apa yang benar-benar dikatakan. Perbedaan kecil ini penting, sebab tanpa memeriksa pernyataan awal, kita bisa terburu-buru menuduh seseorang memelintir pendapat padahal persoalannya mungkin sekadar salah paham.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Ada pula cara mengubah arah perdebatan tanpa menyerang pribadi ataupun memelintir kalimat. Seseorang cukup membatasi pilihan yang tersedia. “Kalau kamu tidak mendukung kebijakan ini, berarti kamu menentang kemajuan.” Kalimat seperti itu menyusun hubungan yang belum tentu benar: seolah-olah mendukung kebijakan tertentu merupakan satu-satunya jalan untuk berpihak pada kemajuan. Padahal, orang bisa menyetujui tujuan sebuah kebijakan sambil menolak pelaksanaannya, mengusulkan perbaikan, atau menawarkan cara lain untuk mencapai tujuan yang sama. Ketika semua kemungkinan itu disingkirkan, kita berhadapan dengan false dilemma, atau dilema palsu.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Penyempitan pilihan semacam ini sering membuat perbedaan pendapat berubah menjadi ujian kesetiaan. Orang tidak lagi ditanya mengapa ia menolak suatu cara, melainkan langsung ditempatkan sebagai pihak yang menentang tujuan bersama. Kalimat “kamu bersama kami atau melawan kami” bekerja dengan cara serupa jika keadaan sebenarnya menyediakan posisi lain. Keraguan dianggap sebagai pembangkangan, kritik dibaca sebagai permusuhan, dan kesempatan untuk mempertimbangkan persoalan dengan tenang semakin menyempit. Padahal, tidak semua orang yang menolak satu pilihan otomatis mendukung pilihan sebaliknya.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Meski demikian, dua pilihan tidak selalu berarti dilema palsu. Ada keadaan ketika pilihan memang terbatas pada dua kemungkinan yang saling meniadakan. Kekeliruan terjadi jika dua pilihan itu diperlakukan sebagai keseluruhan kenyataan padahal masih ada alternatif relevan. Yang perlu diperiksa bukan semata-mata jumlah pilihan yang disebutkan, melainkan apakah pembatasan tersebut sesuai dengan keadaan yang sedang dibicarakan.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Ketiga cara berpikir itu dapat muncul dalam satu percakapan, meskipun tidak harus selalu demikian. Seseorang mengajukan kritik, lalu diserang karena latar belakangnya. Ketika ia berusaha menjelaskan maksudnya, pendapatnya diubah menjadi sesuatu yang lebih ekstrem. Setelah itu, ia diminta memilih antara menerima pandangan lawan atau dianggap sebagai musuh. Pada titik tersebut, ia menghadapi tiga persoalan sekaligus: membela dirinya, mengembalikan pendapatnya ke bentuk semula, dan menolak pilihan yang sejak awal terlalu sempit. Pokok persoalan bisa tertinggal jauh di belakang, sementara masing-masing pihak merasa telah memberikan jawaban.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Tidak semua kekeliruan seperti ini lahir dari niat buruk. Orang dapat tergesa-gesa, salah memahami, atau terlalu terikat pada pendiriannya sendiri. Ada pula yang baru menyadari kesalahannya setelah persoalan diperiksa kembali. Karena itu, satu pernyataan belum cukup untuk memastikan watak atau niat seseorang. Yang lebih berguna ialah melihat apakah ia bersedia kembali pada pertanyaan semula, memperbaiki gambaran tentang pendapat lawan, dan mengakui kemungkinan yang sebelumnya luput dari perhatiannya.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Dalam perdebatan semacam ini, kesepakatan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Dua orang dapat memeriksa bukti yang sama dan tetap berbeda dalam menafsirkan atau menimbangnya. Yang membuat percakapan kehilangan arah bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan ketika orang tidak lagi berhadapan dengan persoalan yang sebenarnya. Menyerang pribadi tidak menjawab argumen, mematahkan pendapat yang telah diubah tidak membuktikan bahwa pendapat asli salah, dan memaksa orang memilih di antara dua kemungkinan tidak menjadikan pilihan itu lengkap.(Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Mungkin ukuran yang lebih berguna bukanlah siapa yang berhasil membuat lawannya terdiam, melainkan apakah setelah percakapan selesai, persoalan yang dibicarakan menjadi lebih jelas. Sebab, seseorang dapat meninggalkan perdebatan dengan perasaan menang, sementara pertanyaan yang semula diajukan tetap berada di tempatnya—belum dijawab, hanya tertutup oleh suara yang lebih keras. [](Source: kosapoin.com/tafsir-yang-menutup-jalan-pulang)

Andini Clara Sinta

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.128
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *