KURSI YANG TIDAK PERNAH DIBELI

kursi yang tidak pernah dibeli fiks

Setiap pagi, Raka mengeluarkan sebuah kursi tua dari dalam gudang sebelum membuka warung. Ia bahkan sudah lupa sejak kapan kebiasaan itu bermula. Kursi itu telah uzur; salah satu kakinya pernah patah lalu dipaku seadanya, cat cokelatnya mengelupas di sana-sini, dan pada sandarannya terukir retakan yang kian panjang setiap musim hujan datang. Ibunya sudah berulang kali meminta agar benda itu dibuang saja, tapi Raka selalu menjawab singkat, “Nanti diperbaiki.” Kenyataannya, bertahun-tahun berlalu dan kursi itu tetap dibiarkan seperti semula. Dulu, ayahnya sering menghabiskan sore di sana. Sejak lelaki itu berpulang sebelas tahun silam, tak seorang pun dari keluarga mereka pernah menyentuhnya lagi. Meski begitu, Raka tetap mengeluarkannya setiap pagi, menempatkannya di bawah rindang pohon mangga, lalu membuka warung seperti biasa.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Orang pertama yang duduk di sana setelah bertahun-tahun adalah seorang lelaki paruh baya yang tidak dikenalnya. Ia datang menjelang siang, ketika warung sedang lengang. Lelaki itu berdiri di samping kursi cukup lama, seperti hendak memastikan sesuatu, sebelum akhirnya duduk. Raka menawarkan kopi. Ia menggeleng. Teh pun ditolaknya. Setelah itu mereka tidak bercakap-cakap. Lelaki itu menghadap jalan, sesekali mengangkat kepala ketika kendaraan lewat. Hampir satu jam ia berada di sana. Ketika bangkit, ia meninggalkan uang lima ribu rupiah di atas dudukan kursi.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Raka memanggilnya untuk mengembalikan uang itu, tetapi lelaki tersebut sudah berjalan ke ujung gang. Raka menyimpan uang itu di laci warung. Ia tidak terlalu memikirkannya sampai beberapa hari kemudian seorang perempuan berkemeja biru datang dan duduk di kursi yang sama. Perempuan itu tidak membeli apa-apa. Ia hanya duduk, memandang rumah bercat hijau di seberang jalan yang sudah lama kosong, lalu pergi ketika matahari mulai meninggi.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Setelah itu, orang-orang lain mulai datang. Seorang anak sekolah yang selalu memeluk tasnya di antara kedua lutut. Seorang sopir angkot yang lebih sering datang ketika hujan. Seorang lelaki yang biasanya muncul menjelang magrib dan duduk sampai lampu warung dinyalakan. Ada pula mereka yang hanya sekali datang lalu tak pernah terlihat lagi. Raka tidak mengenal nama-nama mereka. Ia juga tidak pernah bertanya mengapa mereka memilih kursi itu. Lama-kelamaan, kehadiran mereka menjadi sesuatu yang biasa, seperti suara kendaraan di jalan raya atau daun mangga yang jatuh ke halaman.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Yang membuat Raka sesekali memperhatikan adalah cara mereka pergi. Hampir semuanya datang dalam keadaan diam dan pergi dengan diam pula. Tidak tampak lebih bahagia, tidak pula tampak telah menyelesaikan sesuatu. Hanya ada perubahan kecil pada wajah atau cara mereka berdiri, seolah selama duduk di sana mereka telah memberi kesempatan kepada sesuatu untuk lewat. Raka pernah hendak bertanya kepada perempuan berkemeja biru tentang rumah di seberang jalan, tetapi perempuan itu sudah lebih dahulu bangkit. Ia hanya mengucapkan terima kasih tanpa membeli apa pun.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Suatu malam, setelah warung ditutup, Raka hendak membawa kursi itu kembali ke gudang. Ketika diangkat, terdengar derit kecil dari bagian sandaran. Ia mengguncangnya. Bunyi itu terdengar lagi. Mengira ada cicak atau tikus yang bersarang di dalamnya, ia mengambil obeng dan mencongkel bilah kayu yang retak. Tidak ada apa-apa di sana selain selembar kertas yang dilipat kecil. Raka membukanya di bawah lampu warung. Saya tidak jadi mengatakannya. Ia membacanya sekali lagi. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Ia meletakkan kertas itu di meja dan meneruskan pekerjaannya. Besok pagi kursi itu tetap dikeluarkannya.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Dua hari kemudian, ada kertas lain. Jangan datang lagi. Beberapa hari setelahnya: Saya takut. Sejak itu Raka mulai memperhatikan kursi tersebut. Bukan setiap saat. Hanya sesekali, terutama setelah seseorang duduk cukup lama di sana. Ia pernah membiarkannya tetap berada di luar sampai malam dan mengawasinya dari balik jendela rumah. Tidak ada seorang pun yang mendekat setelah warung tutup. Namun, pada malam-malam tertentu, selalu saja ada kertas baru ketika kursi itu hendak dimasukkan ke gudang.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Raka menyimpannya dalam kaleng biskuit milik ibunya. Ada yang hanya satu kata. Maaf. Pulanglah. Besok saja. Ada pula yang lebih panjang, tetapi tidak pernah cukup panjang untuk menjelaskan apa-apa. Raka tidak mencoba mencari pemiliknya. Ia bahkan tidak yakin kertas-kertas itu ditulis oleh orang yang sama. Tulisan tangannya berbeda-beda. Sebagian huruf ditekan kuat, sebagian lain begitu tipis sampai hampir hilang. Ia hanya merasa aneh bahwa orang-orang yang datang tanpa saling mengenal itu meninggalkan sesuatu yang serupa: kalimat yang seolah terlambat diucapkan.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Suatu malam, satu kertas membuat tangannya berhenti. Jangan biarkan dia menunggu. Raka membacanya beberapa kali. Entah mengapa, kalimat itu tidak mau pergi dari kepalanya. Malam itu ia bertanya kepada ibunya apakah ayahnya pernah meninggalkan pesan sebelum meninggal. Ibunya sedang membersihkan beras di dapur.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

“Tidak.”
“Tidak pernah?” Ibunya menggeleng. Raka berdiri di pintu. “Waktu malam terakhir itu, Ayah pergi ke mana?” Tangan ibunya berhenti. Ia mengambil sebutir batu kecil dari antara beras, lalu meletakkannya di sisi meja.
“Kenapa baru sekarang tanya?” Raka tidak menjawab. Ibunya kembali membersihkan beras.
“Dia tidak pergi.”
“Terus?”
“Menunggumu.”(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Raka menarik kursi makan dan duduk. Ia mencoba mengingat malam sebelas tahun lalu. Yang muncul hanya potongan-potongan yang tidak berurutan: suara hujan di genteng, televisi dari ruang depan, cahaya lampu yang masuk dari bawah pintu kamarnya, kemudian suara ayahnya. “Rak.” Ia tidak keluar. “Rak, besok ikut Ayah.” Dari tempat tidur, ia bertanya, “Ke mana?” Tidak ada jawaban. Pagi harinya ayahnya sudah tidak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian lelaki itu meninggal.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Selama sebelas tahun Raka mengingat peristiwa itu sebagai sesuatu yang terjadi terlalu cepat. Baru malam itu ia merasa ada bagian yang selama ini ia biarkan tetap berada di malam tersebut.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

“Kenapa Ibu tidak membangunkan saya?” Ibunya terus membersihkan beras.
“Ayahmu yang melarang.”
“Kenapa?”
“Katanya kamu capek.” Raka menunduk.
“Dia mau mengajak saya ke mana?” Ibunya berhenti. Kali ini lebih lama.
“Tidak pernah bilang.”(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Malam itu Raka tidak tidur. Menjelang subuh ia keluar ke halaman. Kursi tua itu masih berada di bawah pohon mangga. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Raka duduk di sana. Kayunya dingin. Retakan pada sandaran terasa kasar di telapak tangannya. Ia tidak mendengar suara siapa pun. Tidak ada kertas. Tidak ada tanda apa-apa. Hanya suara kendaraan pertama yang mulai lewat di jalan raya.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Pagi itu Raka tidak membuka warung. Ia masuk ke gudang dan membongkar beberapa kardus lama milik ayahnya. Ia menemukan pakaian yang sudah berbau lembap, kuitansi bengkel, beberapa foto, dan sebuah amplop yang terselip di bawah tumpukan koran. Namanya tertulis di depan. Raka. Tulisan itu milik ayahnya. Ia membuka amplop tersebut dengan hati-hati. Isinya hanya selembar kertas. Ayahnya menulis bahwa pagi berikutnya ia ingin mengajak Raka ke sebuah tempat. Tidak ada penjelasan panjang. Ia hanya ingin pergi berdua sebelum kesibukan membuat mereka kembali menundanya. Di bagian bawah surat itu tertulis sebuah alamat. Raka mengenalnya. Rumah lama mereka. Rumah yang sudah dijual setelah ayahnya meninggal. Ia melihat tanggal pada surat itu. Sehari sebelum kematian ayahnya.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Raka melipat surat tersebut dan duduk lama di lantai gudang. Siang harinya ia menemui ibunya. “Bu.” Ibunya menoleh.
“Besok ikut saya.”
“Ke mana?”
“Ke rumah lama.” Ibunya tidak bertanya untuk apa. Ia hanya mengangguk.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Keesokan paginya, sebelum berangkat, Raka mengeluarkan kursi itu dari gudang dan meletakkannya di bawah pohon mangga. Untuk beberapa saat ia berdiri di sampingnya. Halaman masih sepi. Ia hampir masuk kembali ketika melihat sesuatu terselip di bawah dudukan. Sebuah kertas kecil. Raka mengambilnya dan membuka lipatannya. Jangan biarkan kali ini berlalu. Ia membaca kalimat itu sekali. Kemudian melipatnya kembali. Ia tidak mencari tahu siapa yang menulisnya. Kertas itu dimasukkannya ke dalam saku.(Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Raka menutup warung, mengunci pintu, lalu menunggu ibunya keluar dari rumah. Kursi itu tetap berada di bawah pohon mangga. Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun, Raka tidak tahu apakah ia sedang membawa pulang sesuatu dari masa lalu atau akhirnya datang ke sana tepat pada waktunya. [](Source: kosapoin.com/kursi-yang-tidak-pernah-dibeli)

Tapi Mencari Tapi
Baca Tulisan Lain

Tapi Mencari Tapi

Andini Clara Sinta

Apakah artikel ini membantu?
IP: 18.97.9.103
Negara: United States (Virginia)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *