Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama bahwa dunia literasi adalah dunia yang berkaitan dengan aktivitas membaca, menulis, berpikir kritis, dan mengolah informasi. Namun, di era modern saat ini, maknanya telah berkembang jauh lebih luas. Dunia literasi bukan lagi sekadar kemampuan mengeja huruf atau menulis kalimat, melainkan bagaimana kita memahami, menganalisis, menggunakan, dan merefleksikan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, literasi itu kunci utama untuk membuka potensi terbaik dalam diri seseorang dan kemajuan suatu bangsa.
Jelasnya, tanpa informasi yang kuat, seseorang akan mudah terjebak dalam arus hoaks (informasi palsu), sulit mengambil keputusan yang tepat, dan kalah bersaing di era digital yang serba cepat ini. tegasnya, dunia literasi melatih kita untuk menjadi individu yang skeptis secara sehat, analistis, dan adaptif terhadap perubahan. Jika dihubungkan dengan ini zaman, katakanlah zamannya cyber war dengan segudang makna, baik itu konflik politik bermotif strategis yang dilakukan melalui internet, jaringan komputer, dan sistem digital untuk menyerang infrastruktur penting suatu negara. Sampai dengan perang narasi, wacana, atau paradigma.
Maka tak heran kian beranak-pinak populasi buzzer-buzzer digit. Terlebih di ini zaman, zamannya medsos dengan berbagai ragam menu dalam menyediakan media tawarnya. Fenomena ini menggambarkan babak baru dalam perjuangan intelektual di era digital. Ketika ruang opini publik mulai dibanjiri oleh narasi buatan yang manipulatif, para penulis memilih untuk turun tangan dengan cara mereka sendiri. Tetntu saja hal itu disebabkan dengan kian riuhnya lanskap media sosial saat ini, tanpa disadari sebuah gerakan idelisme baru mulai tumbuh di kalangan pemikir. Katakanlah jika mencermati media-media netral dalam arus berita atau pemberitaan, kini, banyak sudah penulis yang rela tidak mendapatkan honor atau bayaran material demi fokus memproduksi tulisan berkualitas yang mampu memerangi narasi palsu dari para buzzer digit.
Bagi mereka, ruang publik saat ini sedang mengalami darurat kebenaran akibat banjir informasi pesanan yang manipulatif. Dengan melepaskan orientasi komersial, para penulis ini dapat bergerak lebih lincah dan independent dalam menyajikan data yang valid, analisis yang jernih, serta sudut pandang yang objektif. Perjuangan ini bukan tentang bagaimana mencari nafkah dari untaian kata, melainkan bagaimana menyelamatkan akal sehat masyarakat dari cengkraman propaganda digital. Genre tulisannya tetap beragam, baik via artikel, opini, essai, cerpen, puisi dan teks drama. Jika mengamati dengan seksama, gelar mereka tak tanggung-tanggung, dari mulai professor, doktor, master, sarjana, sipil, budayawan, sampai sastrawan papan atas.
Di satu sisi, tentu saja perjuangan mereka perlu diacungi jempol, mengapa? Hal ini menjadi satu bukti konkret bahwa mereka masih mencintai bangsa dan tanah airnya. Mereka tidak ingin membiarkan masa depan generasi muda rusak akibat polarisasi dan informasi palsu yang terus menerus dicekokkan oleh kepentingan politik maupun korporasi. Pola mereka persis seperti pengrajin kain tenun tradisional yang terus bertahan dalam melestarikan motif leluhur, meskipun gempuran tekstil impor modern bermerk dari luar negeri kian tak terbendung, sebagaimana layaknya di saat banyak orang berlomba-lomba mengejar materi dan popularitas di kota besar, mereka justru memilih jalan sunyi, alias kembali ke akar rumput untuk membangun perpustakaan gratis. Artinya, mereka menulis tanpa pamrih, berbagi ilmu dengan ruang-ruang atau fasilitas yang ada di media sosial, sepertihanya di media-media lokal yang tak bisa menyediakan honorarium.
Aksi sunyi mereka adalah tamparan keras bagi para elite yang hobi berpidato tentang cinta tanah air, tapi sibuk menguras isi buminya untuk kantong pribadi. Di saat nasionalisme seringkali dijadikan komoditas politik lima tahunan dan topeng keluhuran, mereka inilah yang justru memunguti serpihan bangsa yang retak. Mereka mengingatkan kita pada satu tamparan realitas, bahwa pengorbanan nyata tidak pernah lahir dari ruang rapat yang sejuk dan ber-AC, melainkan dari tangan-tangan kotor yang rela lelah tanpa peduli apakah nama mereka akan dicatat oleh sejarah atau tidak.
Sementara para pembual digital dibayar mahal untuk memecah belah bangsa dengan hoaks, sebaliknya mereka (para penulis) ini justru menolak memakan uang dari hasli menggadaikan akal sehat. Mereka membuktikan bahwa menjadi Indonesia bukan tentang seberapa keras kita berteriak ‘paling pancasilais’ di panggung publik, melainkan tentang seberapa keras kita menjaga kewarasan masyarakat dari pembodohan yang terstruktur. Kini soalnya adalah, di manakah posisi kita dalam memandang zaman ini? Sebab di zaman sekarang, mencintai tanah air telah mengalami degradasi makna: ia sering kali direduksi menjadi sekadar tren tagar di media sosial atau teriakan jargon nasionalisme yang bernilai rupiah. []









