Mendadak Jadi Hakim

mendadak jadi hakim

Rumah itu masih berantakan. Bau minyak telon, tumpukan popok bayi di pojok kamar, dan mata yang sayu karena kurang tidur menjadi pemandangan sehari-hari, sebab bayi mereka bahkan belum genap berusia empat puluh hari. Di tengah masa-masa nifas yang seharusnya diiringi ketenangan, duniaku mendadak jungkir balik menyaksikan ujian berat yang menimpa rumah tangga mereka.(Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Kemarin siang, sebuah insiden mengejutkan terjadi. Tiba-tiba ada tamu tak diundang mendatangi rumah, menagih janji soal urusan ini dan itu. Ibu muda yang masih terbaring lemah pascamelahirkan itu kaget bukan kepalang, begitu pula suaminya. Mereka benar-benar buta, sama sekali tidak tahu menahu soal perjanjian bisnis tersebut. Namun, tamu tersebut datang dengan emosi meluap-luap dan menuduh keluarga mereka sebagai penipu.(Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Belum reda rasa syok di dada, petir susulan menyambar dari segala penjuru. Gosip beracun menyebar dengan sangat cepat. Di lingkungan keluarga besar mertuanya, nama suaminya sudah santer dicap sebagai anggota keluarga penipu.(Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Badai itu ternyata juga menghantam lini pergaulannya yang lain. Di kalangan teman-teman suaminya, situasinya sama hancurnya. Ponsel suaminya sejak semalam tidak berhenti berdering, bukan membawa kabar bahagia atau ucapan selamat atas kelahiran buah hati, melainkan pesan-pesan bernada sinis, pertanyaan menyelidik, hingga grup-grup pertemanan yang mendadak dingin mencekam. Beberapa orang yang dulunya akrab kini terang-terangan menjauh, dan membicarakannya di belakang sebagai bagian dari sindikat penipuan. Reputasi dan nama baik yang dibangun pria itu bertahun-tahun hancur lebur dalam hitungan hari.(Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Padahal, setelah didesak dan ditelusuri, bukan suaminya yang melakukan ulah busuk itu. Semua kekacauan ini bermula dari ulah saudaranya dari pihak sebelah—seseorang yang selama ini dikenal sebagai orang alim, yang rajin menceramahi orang lain. Ironisnya, ketika masalah ini meledak dan diminta pertanggungjawaban, saudaranya itu berdalih bahwa ia “hanya membantu” orang alim tersebut dengan bukti otentik bahwa mayor saudaranya orang alimlah yang dimasukannya ke projek tersebut dan materinya pun sudah dikembalikan sebelum sepasukan tamu tak diundang datang ke rumah mereka. Namun, aku sebagai pendengar tidak percaya begitu saja perihal pernyataannya; aku menduga saudaranya dan orang alim itu sebenarnya ada main mata. Mana yang benar dan siapa yang paling berdosa di balik sandiwara ini, entahlah, hanya Allah yang Maha Tahu.(Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Namun, hukum sosial telanjur menghakimi dengan kejam. Suaminya yang tidak tahu apa-apa, yang setiap hari hanya fokus di rumah dan merawat istrinya yang sedang nifas, harus menanggung malu yang luar biasa atas dosa yang tidak pernah ia perbuat. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.(Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Tekanan itu kini menjadi-jadi. Suaminya jadi tidak betah tinggal di rumah, tersiksa oleh rasa geram, sesak, dan beban mental yang teramat berat. Ditambah lagi dengan tatapan sinis warga di lingkungan tempat tinggal mertuanya, tempat tinggalnya serta rentetan pesan dari nomor-nomor yang tak dikenal, suasana batin di rumah itu terasa bagai ruang merah—penuh sesak, panas, penuh darah kemarahan, dan menjelma tempat paling mengerikan untuk disinggahi di tengah rapuhnya hari-hari nifas ini. [](Source: kosapoin.com/mendadak-jadi-hakim)

Lastri Kinasih

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.74
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *