Simulasi Mati

Simulasi Mati 1

Awalnya aku menerima sebuah pesan singkat yang menanyakan apakah aku masih suka begadang, tentu saja jawabannya ya. Tegasnya, ia bertanya lagi perihal kapan terakhir kali aku bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan beban hidup? Perntanyaanya ini gampang-gampang susah untuk aku jawab. Soalnya sederhana; dijawab jujur pasti gak percaya. Dijawab hiperbola apa lagi. Ya, intinya itu yang namanya hidup pikiran pasti ada, tapi kalau menjadi beban? Ya, itu tadi—pikiranku selau sederhana dalam berserah dan menyerahkan. Menerima dan menjalankan. Namun ketika itu menjadi jawaban yang aku layangkan padanya, tetap saja tidak percaya. Ribet kan?

Lamat-lamat aku jadi kepikiran satu hal atas segenap pertanyaanya itu, yang mana tak bisa dituliskan di sini, hanya mengambil inti sarinya saja: jika tidur itu hal yang sepele alias sekadar urusan merem, kenapa juga Al Quran membahas fenomena perihal tidur begitu serius—sampai digambarkan sedetail kematian. Katakanlah pada Surah Az-Zumar (ayat 42) yang kalau bener-bener diresapi, hal itu bikin merinding. Di situ tertulis kalau Allah menahan jiwa orang yang mati, dan memegang jiwa orang yang lagi tidur. Berarti, tiap malam pasca tubuh kita berada di dalam selimut, kita itu sebenarnya tengah simulasi mati.

Bayangkan saja secara otomatis dan ini tidak bisa disangkal: Pas kita tengah berada dalam lelap, ego kit aitu runtuh. Singkatnya, semua kendali yang kita bangun dan banggakan kala terjaga, baik itu prihal cuang, jabatan, rencana, kerjaan dan lain sebagainya—seketika hilang begitu saja. Simpulnya, kita benar-benar tak punya kuasa sedikit pun sampai buat memastikan apakah napas berikutnya masih bisa berembus atau stop. Ya, meski secara biologism otak kita memang tengah bekersa sibuk dalam nge-riset sekaligus bersihin racun. Namun secara spiritual, kesunyaanya ruh kita lagi di luar kendali kita, alias tengah digenggam oleh Penciptanya.

Disinilah aku sadar, sebenarnya tidur itu tamparan keras buat tauhid kita. Katakanlah di siang hari kita sering banget ngerasa sok berkuasa. Kita stres takut target nggak keburu, cemas masa depan berantakan, seolah-olah dunia ini berputar karena hasil keringat kita sendiri. Namun kala malam tiba, lewat kehendak-Nya yang mutlak, Allah ‘menundukkan’ tubuh kita buat mati kecil. Kita dipaksa untuk stop, lepas tangan, dan pasrah total—sebuah pemaksaan yang penuh kasih sayang agar kita tahu diri bahwa kita ini sekadar hamba.

Musabab dari itulah kenapa sebelum tidur, Rasulullah ngajarin kita supaya berwudhu dulu dan berdoa, “Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut” Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati. Kalimat itu bukan sekadar hafalan sewaktu kita duduk di bangku madrasah dulu, sebab hal itu merupakan sebuah deklarasi pasrah yang paling radikal. Kita seperti lagi berkata, “Ya Allah, saya sudah nggak bisa jaga diri saya sendiri malam ini. Saya serah-bongkokan hidup dan mati saya hanya pada Engkau.”

Jauhnya jika kita kembali menengok yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang pernah berkata kepada Fatimah: “Janganlah engkau tidur sebelum mengerjakan empat hal. Pertama, mengkhatamkan Alquran. Kedua, menjadikan para nabi sebagai pemberi syafaat bagimu. Ketiga, meminta ridha dari semua kaum muslimin. Keempat, melaksanakan haji dan umrah”. Mendengar hal tersebut, Fathimah bertanya kepada Rasulullah, “Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?”

Seraya tersenyum, Rasulullah SAW menjawab: “Bacalah Surat Al Ikhlas tiga kali karena sama halnya dengan mengkhatam Alquran. Kemudian bacakan sholawat untukku agar mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku. Lalu untuk mendapatkan rasa ridha dari kaum Mukmin maka hendaklah membaca istighfar bagi dirimu, orangtuamu, dan seluruh kaum Muslim. Sedangkan untuk menunaikan haji dan umrah, umat Muslim dapat membaca subhanAllaah walhamdulillaahi walaa ilaaha illa Allahu wAllaahu akbar karena dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah.”

Sama halnya pas pagi hari kita bisa melek lagi. Itu bukan sekadar karena aktifitas pagi yang berisik, atau karena hormon di tubuh kita lagi kerja. Secara tauhid, itu momen di mana Allah memeutuskan buat balikin lagi ruh kita. Mengasih kepercayaan dalam “perpanjangan kontrak” hidup yang belum tentu kita mendapatkan lagi besok hari. Makanya wajar, kalau doanya itu isinya syukur karena sudah dihidupin lagi setelah “dimatikan.”: “Alhamdu lillahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.” Arti: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali.”

Satu lagi misteri tidur yang sering kita anggap angin lalu: mimpi. Kalau tidur hanya sekadar urusan otak yang istirahat, kenapa kita bisa melihat, merasa, bahkan menangis dan ketakutan di dalam mimpi? Padahal fisik kita itu tengah berada dalam laku geming mutlak di atas kasur, mata kita tengah merem, dan kamar kita gelap gulita. Secara tauhid, mimpi itu adalah cara Allah untuk menunjukkan ke ego manusia kalau dimensi ruh itu beneran ada. Di kala raga kita tak berdaya, ruh kita dapat “panggung” buat melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tidak bisa ditembus pakai panca indera siang hari. Mimpi itu ibarat bocoran tipis dari Allah kalau nanti di alam kubur dan akhirat, kita bakal tetep “hidup” dan merasakan balesan, meskipun jasad kita sudah terkubur di dalam tanah.

Disadari atau tidak oleh kita, ujung-ujungnya, tidur itu mengajarkan kita pada esensi paling dasar dari tauhid: bahwa kita ini makhluk yang fakir dan lemah banget. Tidur itu pemotong kesombongan manusia. Sebuah pengingat harian kalau dunia ini bakal tetep baik-baik saja berjalan di bawah kendali Allah, bahkan pas kita lagi tak berdaya dan merem di kembang lelap. []

Cahya Munggaran

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *