Kuss Indarto dan Bhima Batutama didampingi pengampu kegiatan pameran.all. dok. foto: JRK(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
YOGYAKARTA | Di sebuah negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, tetapi perilakunya makin hari makin jenaka, anak-anak rupanya mulai jengah hanya menjadi penonton. Sebanyak 68 anak dari Sanggar Anak Alam (SALAM) Jogja memutuskan untuk memotret kelucuan itu lewat pameran seni bertajuk “Negeri Haha Hihi” di Galeri Sanggarbambu, Donotirto, Kasihan, Bantul. Pameran yang menertawakan realitas lewat gambar dan fotografi ini digelar gratis sejak 29 Agustus hingga 6 September 2026, mulai pukul 13.00 – 19.00 WIB—sebuah ruang waras di tengah dunia yang makin gemar bersandiwara.
Saat dibuka pada Sabtu (29/8), kurator Kuss Indarto meresmikannya diiringi petikan gitar, teater, tari, hingga Jathilan. Sebuah ironi yang indah: anak-anak justru merayakan keluhuran budi, di saat orang-orang dewasa di luar sana sibuk memperebutkan remah-remah kuasa.(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
Ironi Negeri yang “Sedang Lucu-lucunya”(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)

Judul “Negeri Haha Hihi” dipilih bukan tanpa alasan. Ini adalah tamparan lembut berkemas tawa atas kondisi Indonesia hari ini yang dinilai sedang berada di puncak komedi. Bedanya, jika para elite gemar melucu dengan kebijakan yang absurd, anak-anak usia TK hingga SMP ini meresponsnya dengan kejujuran visual yang merdeka.(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
Didampingi Bhima Batutama yang sudah 14 tahun setia mengasah kepekaan mereka, 45 anak kelas menggambar dan 23 anak kelas fotografi menumpahkan kegelisahan mereka. Sebagian karya menangkap potret getir lingkungan sekitar dan kemunafikan sehari-hari, sementara sebagian lagi memilih menciptakan dunia imajinasi baru—barangkali karena dunia nyata yang mereka tumpangi saat ini sudah terlalu rusak untuk dinikmati.(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
Kerusakan Moral yang Gagal Dididik Meja Makan(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
Dalam orasinya, Kuss Indarto menyentil sebuah kebenaran yang pahit. Persoalan bangsa yang karut-marut ini sesungguhnya berakar dari ruang paling intim: rumah. Ketika meja makan tak lagi menjadi tempat menyemai etika dan dialog, maka yang lahir di masa depan adalah para pemimpin yang bermental manja.(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)

“Kebudayaan itu bisa tumbuh dari sebuah ruang makan atau meja makan,” ujar Kuss. Sentilan ini seolah mengingatkan kita bahwa kekacauan di tingkat negara adalah akibat dari gagalnya kita mendidik mentalitas di rumah. Di pameran inilah anak-anak dilatih memiliki mental juara yang sesungguhnya—mental yang tahu cara menang dengan terhormat, dan tahu cara kalah tanpa harus mengamuk dan mengerahkan massa.(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
Tujuh Kali Berteriak Lewat Ruang Ekspresi(Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)
Ini adalah kali ketujuh sejak November 2022 kelas minat SALAM bergerilya dari satu galeri ke galeri lain, mulai dari Kumpeni Coffee hingga Balai Budaya Karangkitri, untuk mengetuk kesadaran publik. Ketika ruang-ruang formal di negeri ini dipenuhi oleh retorika kosong dan kepalsuan, anak-anak SALAM justru menyediakan ruang jujur untuk berkaca. “Negeri Haha Hihi” adalah sebuah undangan terbuka bagi kita semua: untuk datang, menertawakan diri sendiri, dan merenungkan kembali, sampai kapan kita mau hidup dalam lelucon yang tak lucu ini?*) (Source: kosapoin.com/pameran-negeri-haha-hihi-68-anak-salam-memotret-indonesia-di-puncak-komedi)









