Fenomenologi Mikroton Ala Teori Machjar Koesoemadinata dalam Buku Titi Raras dan Pangawikan Rinengga Swara

Fenomenologi Mikroton Ala Teori Machjar

Fenomenologi mikroton dalam pemikiran Machjar Kusumadinata, khususnya yang tercermin dalam buku Titi Laras dan Pangawikan Rinengga Swara, menarik karena berangkat dari pengalaman musikal Sunda, bukan dari teori musik Barat. Dalam Fenomenologis, nada tidak dipahami pertama-tama sebagai angka frekuensi atau ukuran matematis, melainkan sebagai pengalaman bunyi yang hidup dalam kesadaran pendengar dan pelaku musik.

Dalam tradisi Sunda, terutama pada: Kacapi Suling, Tembang Sunda Cianjuran, Tarawangsa, dan Degung. Nada sering bergerak secara lentur, tidak selalu berhenti pada titik-titik nada tetap sebagaimana piano Barat.

Mikroton Sebagai Ruang Antar Nada: Dalam perspektif Machjar Kusumadinata, yang penting bukan hanya Nada A, B, C, dan seterusnya, melainkan juga ada “Rasa Jarak” di antara nada-nada tersebut.

Fenomena ini dapat dipahami sebagai: Nada tidak selalu bersifat diskret (terpisah mutlak). Ada wilayah transisi antar nada. Pendengar Sunda menangkap nuansa “naik”, “turun”, “ngageser”, “ngalengis”, atau “ngalimbeng” yang sulit ditulis dalam notasi Barat. Di sinilah muncul aspek yang oleh para peneliti modern sering dikaitkan dengan mikrotonalitas.

Titi Laras sebagai Peta Pengalaman Bunyi: Istilah titi laras sendiri dapat dipahami sebagai “titik-titik penataan nada”. Namun dalam titik tersebut bukanlah sebagai koordinat matematis yang kaku. Karena dalam praktik musikal Sunda: Peran Laras Salendro ini memiliki fleksibilitas. Laras Pelog memiliki variasi pada antardaerah. Laras Madenda memiliki karakter emosional tersendiri. Oleh karena itu, sistem nada Sunda lebih dekat pada konsep “medan bunyi” daripada “tangga nada tetap”.

Pangawikan Rinengga Swara: Secara harfiah dapat dimaknai sebagai “pengetahuan yang dihias oleh suara”. Dalam kerangka fenomenologi, suara bukan sekadar objek fisik, melainkan: Sebagai Pengalaman estetis, Pengalaman emosional, dan Pengalaman budaya. Serta Pengalaman spiritual.

Maka ketepatan nada dalam musik Sunda tidak hanya ditentukan oleh alat ukur akustik, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan rasa musikal (raos).

Perbandingan dengan Mikrotonal Barat: Dalam musik Barat mikrotonal ini Fokusnya selalu pada pembagian matematis oktaf (24, 31, 53 nada, dan sebagainya). Mikro interval diukur dengan satuan cents.

Sedangkan dalam pendekatan Machjar Kusumadinata: Fokusnya pada fungsi rasa nada, dan Relasi antar nada lebih penting daripada angka absolut, serta pendengaran budaya menjadi alat ukur utama. Oleh karena itu, dalam fenomenologi mikroton ala Machjar Kusumadinata ini dapat dipandang sebagai fenomenologi Rasa-Laras, yaitu: Kajian tentang bagaimana manusia mengalami, merasakan, dan memberi makna pada ruang-ruang halus di antara nada, yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi pengukuran frekuensi semata.

Maka di dalam konteks ini, mikroton bukan hanya persoalan “berapa cents jaraknya”, akan tetapi persoalannya bagaimana getaran bunyi hadir dalam kesadaran, tubuh, rasa, dan kebudayaan pendengarnya. Ini yang membuat teori laras Sunda memiliki kedekatan dengan etnomusikologi dan fenomenologi musik, sekaligus berbeda dari teori mikrotonal Barat yang lebih berorientasi pada sistem pengukuran akustik.

Sekian Terima Kasih…

Bandung, 12.Juni.2026

Komunikasi Kebencanaan
Baca Tulisan Lain

Komunikasi Kebencanaan

Dody Satya Ekagustdiman

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *