Profil dan Pertemuan Artistik Idha Jipo dengan Mpey Ferdy
Menemukan pemimpin hidup, saat hati bertemu dengan alur irama dan pertemuan takdir dari panggung seni menuju panggung kehidupan
Ida Rosmiati dikenal akrab dengan nama Idha Jipo, ia seorang seniwati yang tumbuh dalam ideom makna Rasa Seni Gerak, Rupa, Bunyi dalam Dimensi/Ruang dan Waktu. Dari sejak anak-anak sudah mulai tertarik pada dunia seni, kemudian masa remaja dan sampai dewasa. Di sinilah titik jodoh romantik bertemunya dua insan seniman; Idha Jipo dipertemukan dengan Mpey Ferdy sosok pria yang visioner, teliti dalam perencanan, juga memiliki idealisme berupa kepedulian tinggi pada Dunia Seni Pertunjukan dan Budaya Lokal Sunda.
Pertemuan inilah pada Tahun 2014 Mpey memutuskan untuk menikah dengan Idha, dan dari sinilah yang menjadi titik energi terang Idha Jipo dengan Mpey Ferdy, sebuah pertemuan dua dunia; yaitu Dunia Konsep dan Dunia Ekspresi; Dunia Pikir dan Dunia Rasa. Yang ke-duanya saling melengkapi; Mpey Ferdy dengan Spirit Jiwa Konseptualnya, dan Idha Jipo dengan kekuatan Spirit Jiwa Artistiknya.
Sejarah dan Filosofi Berdirinya Sanggar Tari Dapur Pangbarep
Di Tahun 2016, pasangan ini mendirikan Sanggar Tari Dapur Pangbarep. Sebuah dimensi/ruang kreatif sebagai wadah spirit dan motivasi dalam pengembangan metoda edukasi seni tari tradisi dan kontemporer di Bandung. Dapur Pangbarep menjadi Laboratorium Tempat Pelatihan dan Juga Edukasi Pendidikan Karakter… Di Dapur Pangbarep anak muda bisa tumbuh semangat belajar menari sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya; budaya lokal jati diri bangsa.
Simbol Perjuangan Perempuan dalam Karya Tari Barepan
Dari dapur kreatif pangbarep ini lahirlah karya yang fenomenal berjudul: Barepan, hingga karya tari ini menjadi menjadi ideologi pendidikan dan pelatihan di Dapur Pangbarep. “Barepan” bukan sekedar karya tari, tetapi sebuah simbol perjuangan, kelenturan, dan juga kekuatan emansipasi perempuan dalam kehidupan di zaman era globalisasi ini yang penuh fenomenal. Gerak – gerak da Rupa – juga Bunyi dalam Barepan ini merupakan unsur spiritual dalam keseimbangan antara kelembutan dan keteguhan, juga tradisi klasikal dan kebaruan/kontemporer.
Peran Jallu Partner Art Project dalam Ekosistem Seni
Di sisi lain, Mpey Ferdy berjuang mengembangkan ideloginya yang kiprahnya sebagai Konseptor dan Organisator Seni: Jallu Partner Art Project; sebuah Event Organizer dan Talen Management yang menaungi berbagai kegiatan kesenian, promosi budaya dan pengembangan komunitas kreatif yang telah didirikan sebelumnya. Melalui Lembaga ini, Mpey Ferdy berperan besar dalam menjembatani kaum seniman, lembaga, dan pemerintah untuk bekerjasama dalam ruang kolaborasi seni yang produktif.
Legalitas dan Transformasi Dapur Pangbarep Menjadi Lembaga Seni
Di Tahun 2018, menjadi tonggak penting dalam perjalanan Sanggar Seni Tari Dapur Pangbarep. Setelah melalui proses panjang pengembangan, pengabdian, dan penguatan program, sanggar ini resmi berbadan hukum, menjadikannya lembaga seni yang sah secara kelembagaan dan diakui secara legal. Langkah ini bukan sekadar administrasi formalitas, melainkan bentuk komitmen untuk meneguhkan posisi mereka dalam dunia edukasi pendidikan nonformal dan pelestarian kebudayaan daerah.
Dengan Status kelembagaan yang kuat, Dapur Pangbarep tidak lagi hanya sekadar ruang latihan atau tempat berkarya, tetapi telah berkembang menjadi pusat pembelajaran dan penggerak kebudayaan masyarakat. Di dalamnya, ada nilai-nilai kebersamaan, kemandirian, dan pelestarian budaya lokal terus ditanamkan kepada peserta didik dan komunitas yang terlibat. Setiap kegiatan di sanggar selalu diwarnai oleh semangat kolaborasi antara seniman, masyarakat, generasi muda yang ingin belajar menghargai akar budayanya sendiri.
Sinergi Peran Pendiri dalam Menghidupkan Ruang Kreatif
Dalam perjalanannya, peran dua sosok pendirinya semakin jelas dan semakin melengkapi. Idha Jipo dengan kelembutan dan ketekunannya, dikenal sebagai penari, koreografer, sekaligus sosok Ibu yang penuh kasih dan berdedikasi. Ia bukan hanya menciptakan gerak tari, tetapi juga mengajarkan makna dibalik setiap gerak kepada murid-muridnya. Bagi Idha, menari itu adalah bentuk doa dan cinta – cara menyampaikan nilai-nilai kehidupan dengan bahasa tubuh.
Sementara itu Mpey Ferdy dikenal sebagai konseptor dan organisator ulung yang mampu menerjemahkan ide atau gagasan seni menjadi sistem yang berkelanjutan. Di bawah arahannya, berbagai kegiatan kreatif, festival budaya dan berbagai program pelatihan berhasil digelar di Wilayah Bandung dan sekitarnya. Ia memandang bahwa seni harus dikelola dengan managemen yang baik agar mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Bersama ke-duanya membangun Dapur Pangbarep sebagai ruang seni yang hidup – tempat dimana cinta, keluarga, dan karya berpadu dalam satu harmoni. Di sana, setiap langkah dan ide lahir dari semangat yang sama; bahwa seni bukan sekedar pertunjukan, tapi jalan hidup yang memanusiakan dan memuliakan. Mereka percaya bahwa di dapur inilah akan lahir pangbarep-pangbarep sejati – generasi penerus, yang berani memulai, mencipta, dan menjaga warisan budaya dengan hati.
Makna Pola Pengajaran Didik Latih bagi Pembentukan Karakter
Makna pola pengajaran “Didik–Latih” di Sanggar Seni Dapur Pangbarep (dalam spirit yang diwakili oleh sosok seperti Idha Jipo dan Mpey Ferdy) bukan sekadar metode teknis, tapi ini adalah salah satu proses atau sebuah jalan pembentukan manusia utuh—menggabungkan kesadaran, rasa, dan keterampilan.
Kalau dirinci secara lebih dalam: “Didik” itu artinya; Menanam Akar Kesadaran, dan Didik itu bukan hanya mentransfer ilmu, tapi proses ngabentuk jiwa. Di dalam konteks Sunda: Didik artinya ngasuh rasa, yaitu menanam nilai: hormat, sabar, disiplin, eling (kesadaran diri). Menghubungkan murid dengan; alam (kosmologi), leluhur (tradisi), dan diri sendiri (batin). Pendekatannya biasanya itu adalah; tidak frontal, banyak simbol, cerita, dan teladan (laku, bukan ceramah). Jadi “Didik” adalah fondasi batin dan etika artistik.
Arti dari kata “Latih” itu adalah: Menajamkan Raga dan juga Keterampilan. Kalau arti “Didik” itu membentuk yang dalamnya, maka arti kata Latih adalah membentuk luar. Isi dari “Latih” yaitu; teknik (tabuhan, vokal, gerak), repetisi (pengulangan sampai jadi refleks), dan ketahanan fisik dengan mental, juga presisi dan disiplin waktu. Namun dalam pola Pangbarep; latihan bukanlah mekanis, tapi latihan berjiwa (rasa hadir dalam teknik). Jadi kata “Latih” itu adalah manifestasi konkret dari nilai yang sudah dididik.
Di sini arti dan makna Relasi Didik–Latih: Bukan Dua Hal yang terpisah. Di sistem ini, arti dari keduanya tidak berdiri sendiri: Tanpa Didik → Latihan jadi kosong (sekadar skill, tanpa ruh). Tanpa Latih → Didikan jadi lemah (nilai tanpa daya wujud). Dan ini mirip konsep: Rasa (inner) menyatu dengan Raga (outer). Sedangkan Niat menyatu dengan Laku.
Arti makna Pangbarep: Filosofi “Yang di Depan”. Arti konsep “Pangbarep” sendiri berarti: yang di depan itu pelopor, dan penunjuk arah. Dalam konteks ini; pengajar bukan hanya instruktur tapi contoh hidup (living reference). Maka: cara berjalan, cara bicara, cara diam, …semua adalah bagian dari pengajaran.
Metode Implisit (Yang Tidak Tertulis Tapi Terasa): Ciri khas dalam pola ini adalah: Pertama, Learning by immersion. Murid “dicemplungkan” ke dalam suasana, yaitu; latihan, pertunjukan, dan ritual kultural. Ke-dua adalah: Transfer energi, bukan hanya ilmu karena disini ada aspek “ditulari rasa” lewat kebersamaan, dan ini bukan modul. Ke-tiga yaitu: Hierarki organik, hormat pada senior, tapi bukan berarti feodal → ini lebih ke alur pengalaman.
Aspek Dimensi Spiritual dan Kolektif: Dalam banyak sanggar tradisi Sunda; di sini latihan bukanlah hanya artistik, tapi juga ruwatan kecil (pembersihan diri). Kolektivitas penting, yakni; sinkronisasi rasa antar pemain, dan “flow bersama” (mirip trance ringan dalam ensemble).
Di dalam Relevansi di Dunia Modern: Pola “Didik–Latih” ini justru sangat kuat jika dibawa ke konteks saat sekarang: Melawan itu adalah instan skill (tanpa kedalaman), dan juga mentalitas konsumtif seni. Dalam aspek Menawarkan; proses → bukanlah hasil cepat, karakter → bukanlah sekadar performa, dan kesadaran → bukanlah sekadar hiburan. Jadi Rumusan Intinya adalah: Kalau diringkas secara tajam; arti makna dari kata Didik itu adalah membentuk manusia, dan arti makna dari kata Latih itu adalah membentuk kemampuan. Pangbarep itu artinya memastikan keduanya berjalan dengan arah yang benar.
Implementasi Filosofi Barepan dalam Laku Kehidupan Nyata
Makna “Barepan” (akar dari kata Pangbarep) dalam laku hidup yang dihidupi oleh figur seperti Mpey Ferdy dan Idha Jipo tidak bisa dibaca sekadar sebagai “yang di depan”. Ia adalah posisi eksistensial—cara berada dalam kehidupan. Mari kita bedah lebih dalam, bukan hanya arti, tapi rasa filosofinya:
Barepan artinya di sini sama dengan “Di Depan”. Tapi Bukan Sekadar Memimpin. Secara literal: barep → depan, dan barepan → posisi terdepan. Namun dalam laku: bukan soal kuasa, tapi soal menanggung arah. Orang yang “barepan” adalah; yang pertama menghadapi risiko dan yang pertama disorot, juga yang terakhir mundur.
Barepan itu adalah sebagai Tanggung Jawab, dan Bukan Status. Dalam perspektif ini: “Yang di depan itu bukan yang paling hebat, tapi yang paling siap menanggung.” Ini terlihat dalam pola hidup pengajar tradisi; memberi contoh sebelum memberi perintah, dan hadir sebelum meminta hadir, juga mau berkorban sebelum menuntut. Di sinilah letak otoritas lahir dari laku, bukan dari jabatan.
Dalam Filosofi yang dimiliki Mpey Ferdy: Barepan sebagai Disiplin Laku, dan dalam gaya pendekatan yang sering diasosiasikan dengan Mpey Ferdy: Barepan itu: keras ke diri sendiri, adil ke orang lain dan tidak banyak bicara, tapi kuat di praktik melatih lewat contoh, bukan retorika. Ciri khasnya: presisi, ketahanan, dan konsistensi. Barepan di sini adalah integritas yang terlihat.
Filosofi Idha Jipo: Barepan sebagai Rasa dan Kesadaran. Sementara dalam pendekatan Idha Jipo: Barepan lebih halus, tapi dalam: memimpin lewat rasa, menggerakkan tanpa memaksa, dan hadir sebagai pusat kesadaran kolektif. Ciri khasnya adalah berupa rasa: kepekaan, ketenangan, kemampuan, dan “membaca ruang batin”. Barepan di sini adalah pusat gravitasi rasa.
Aspek Sintesis Keduanya, adalah: Dua Kutub yang Saling Melengkapi dan kalau disatukan: Mpey Ferdy → memiliki menerapkan struktur, cara disiplin, dan juga cara menerapkan bentuk, sedangkan Idha Jipo → memiliki rasa, jiwa, dan arah halus. Makna Barepan sejati di sini adalah; ketegasan yang punya rasa, dan kelembutan yang punya tulang punggung. Tanpa ini: disiplin jadi keras dan kering, rasa jadi lembek dan tidak membumi.
Barepan dalam Kehidupan (Bukan Hanya di Sanggar), dan aspek Filosofi ini bisa diterapkan secara luas: Pertama; Dalam keluarga itu jadi yang pertama memberi teladan, dan bukan hanya ingin menyuruh. Ke-dua; Dalam komunitas hadir saat sulit, tapi bukan hanya pada saat tampil. Ke-tiga; Dalam karya seni itu harus berani membuka jalan baru, meskipun belum tentu diterima.
Dalam aspek Dimensi Sunyi: Beban yang Tidak Terlihat itu ada sisi yang jarang dibahas, Barepan itu sepi, karena: tidak selalu bisa mengeluh, harus terlihat kuat, sering menahan beban sendiri. Maka yang membuat Barepan bertahan tapi bukan ego, yaitu; kesadaran dan ada niat untuk hubungan dengan yang lebih besar (alam, leluhur, Tuhan). Rumusan Inti: Kalau dipadatkan secara filosofis; Barepan adalah keberanian untuk berjalan di depan, dengan risiko ditinggalkan, disalahpahami, tapi tetap menjaga arah bagi yang lainnya.
Harapan dan Realita Seni Tari dalam Etika Estetika dan Teknik
Dalam Karya Barepan, Tubuh tidak hanya bergerak karena tuntutan estetika, tetapi ada dorongan untuk mengingat dan memahami. Gerak Tubuh menjadi wadah pengalaman dalam etika, estetika, dan teknik untuk tiap personal dan kolektif; tentang perempuan, tentang desa, dan tentang seni yang tumbuh dari tanah sendiri. Dapur Pangbarep menjadi ruang sublim dimana ide “pangbarep” diwujudkan bukan hanya sebagai tempat latihan, tapi sebagai ruang hidup – ruang dialog antara generasi, ruang pertukaran pengalaman dan ruang pengasahaan dan rasa kemanusiaan.
Melalui Karya ini, Idha Jipa tidak hanya menampilkan keindahan tari, tetapi mengajak penonton untuk merenung tentang arti memulai. Bahwa setiap awal adalah panggungnya masing-masing, setiap langkah pertama adalah bentuk keberanian, dan setiap ruang yang dibentangkan adalah pernyataan eksistensi. Disanalah Barepan menemukan maknanya yang paling dalam sebagai karya, sebagai proses, dan sebagai cara hidup yang terus beranjak dari awal menuju awal lain.
Ke depan, Dapur Pangbarep tidak hanya dimaknai sebagai tempat berlatih atau berkarya. Tetapi sebagai ruang tumbuh generasi “Pangbarep Sejati” – mereka yang berani memulai, berani menonjol bukan karena ingin menyaingi, tetapi karena yang memiliki cahaya yang menuntun sekitarnya. Dapur Pangbarep akan menjadi Laboratorium kreatif budaya – tempat dimana setiap induvidu belajar memaknai “barepan” sebagai sikap hidup. Di sana, proses tidak dibatasi oleh kurikulum formal, tetapi digerakan oleh filosofi “Didik – Latih”: Mendidik dengan nilai, dan melatih dengan kesadaran. Setiap anggota yang lahir di dapur ini diharapkan memahami bahwa keunggulan sejati bukan hanya pada keterampilan menari, tetapi pada kemampuan menata rasa, memaknai gerak dan menghidupkan nilai-nilai kemanusian serta kebersamaan dalam setiap langkahnya…
Membaca visi–misi Dapur Pangbarep lewat tiga lensa—etika, estetika, dan teknik—sebenarnya adalah membaca ketegangan yang sehat antara harapan ideal dan realita lapangan. Justru di situlah kualitas “Pangbarep” diuji: apakah mampu menjaga arah tanpa kehilangan pijakan. Berangkat dari spirit yang sering diasosiasikan dengan Idha Jipo dan Mpey Ferdy, maka kita bedah secara jujur kita telusuri—tanpa romantisasi:
- ETIKA. Harapan: Terbentuk manusia yang; disiplin, rendah hati, menghormati proses & guru, Sanggar menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar tempat latihan, “Barepan” hadir sebagai teladan hidup, bukan simbol. Realita: Generasi sekarang cenderung: ingin cepat tampil, kurang tahan proses panjang, dan Hormat sering bersifat formal, juga belum menjadi kesadaran batin, dan Ego personal (ingin diakui, tampil) sering masuk ke ruang kolektif. Ketegangan Utama: Nilai ingin dalam, tapi mentalitas zaman cenderung instan. Jalan Tengah (Pangbarep): tidak menurunkan standar etika, tapi mengubah cara pendekatan; lebih dialogis, tetap tegas di batas. Etika bukan dipaksakan, tapi dibuktikan lewat konsistensi pengajar.
- ESTETIKA. Harapan: Karya yang; berakar pada tradisi Sunda, punya kedalaman rasa (bukan dekoratif), relevan dengan zaman tanpa kehilangan ruh. Realita: Tekanan pasar; estetika cepat, visual menarik, dan mudah viral. Risikonya yaitu; tradisi jadi “ornamen”, kehilangan kedalaman filosofis, dan Penonton sering lebih responsif ke bentuk luar daripada rasa dalam. Ketegangan Utama: antara Kedalaman dengan keterlihatan, sebagai Jalan Tengah adalah; membuat karya berlapis; permukaan bisa dinikmati umum, dan kedalaman bisa dirasakan yang peka. Ini pendekatan yang sering terlihat pada sosok seperti Idha Jipo: rasa tetap inti, tapi bentuk tidak menolak zaman.
- TEKNIK. Harapan: Penguasaan teknik yang; presisi, kuat secara dasar, tidak asal tampil. Latihan: disiplin, berulang, dan terstruktur. Realita: Banyak murid; cepat bosan repetisi, ingin langsung perform, Kualitas teknik jadi tidak merata, dan Konsistensi latihan sulit dijaga (waktu, ekonomi, komitmen). Ketegangan Utama: Antara Proses panjang dengan kebutuhan hasil cepat. Jalan Tengah adalah: membagi level; latihan dasar (wajib, keras), dan ruang ekspresi (agar tidak jenuh). Hal ini selaras dengan pendekatan Mpey Ferdy: teknik tidak boleh dikompromikan, tapi metode bisa adaptif.
- SIMPULAN BESAR: TIGA POROS YANG HARUS SEIMBANG. Kalau dirumuskan: Etika → adalah arah (kenapa kita berkarya), Estetika → itu jiwa (apa rasa yang dibawa), dan Teknik → yaitu tubuh (bagaimana itu diwujudkan). Masalah yang muncul ketika: teknik ada, tapi etika kosong → jadi pamer skill, dan etika ada, tapi teknik lemah → jadi niat tanpa daya, estetika dangkal → jadi sekadar hiburan.
- REALITA PALING JUJUR (YANG SERING TIDAK DIUCAPKAN): Sanggar seperti Dapur Pangbarep akan selalu menghadapi: murid datang & pergi, kualitas tidak merata, idealisme, dan berbenturan dengan kebutuhan hidup. Dan ini normal. Yang membedakan adalah: apakah tetap menjaga arah, atau ikut hanyut.
- MAKNA “PANGBAREP” DALAM KONTEKS INI: Menjadi Pangbarep berarti; tetap berdiri di depan menjaga nilai meskipun; tidak semua orang mengikuti, hasil tidak instan, jalan terasa sepi.
- RUMUSAN AKHIR: Kalau dipadatkan; Harapan adalah arah. Realita adalah medan. Pangbarep adalah yang mampu berjalan di antara keduanya tanpa kehilangan diri.
Penutup
Perjalanan panjang Sanggar Dapur Pangbarep pada akhirnya adalah refleksi dari dedikasi tanpa henti antara konsep dan ekspresi. Melalui sinergi ini, Mpey Ferdy dan Idha Jipo menitipkan pesan mendalam bagi siapa pun yang melangkah di jalur kreatif. Bagi mereka, setiap gerak dan langkah yang diambil merupakan bagian dari pengabdian yang lebih besar terhadap kemanusiaan. Sebagai sebuah kristalisasi dari seluruh visi dan perjuangan mereka, kutipan ini menjadi penutup sekaligus komitmen bagi masa depan peradaban seni yang mereka bangun:
“Hidup itu adalah perjalanan, seni adalah jejak. Semoga perjalanan dalam dunia seni tari ini, dapat memberi arti, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan dunia seni pertunjukan…”
Sekian Terimakasih
Bandung, 04.Mei.2026









