Pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya: keinginan yang kita miliki ini datang dari mana? Dari dalam diri, atau hanya gema dari sesuatu di luar yang terus-menerus memanggil? Saya pernah ada di titik itu—membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu saya butuhkan. Waktu itu malam, entah kenapa rasanya semua terlihat menarik. Diskon, rekomendasi, ulasan orang lain—semuanya seperti mendorong satu keputusan kecil: “ya sudah, beli saja.” Transaksinya cepat. Rasanya juga menyenangkan, tapi hanya sebentar. Tidak lama setelah itu, semuanya kembali biasa. Tidak ada perubahan berarti. Dari situ muncul satu pertanyaan yang agak mengganggu: kalau begitu, yang saya kejar ini sebenarnya apa?
Kalau kita jujur, sistem yang kita hidupi hari ini memang tidak pernah dirancang untuk membuat kita merasa cukup. Ia bergerak dari satu logika sederhana: harus terus tumbuh. Angka seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dijadikan tolok ukur, dan secara praktis itu berarti satu hal—orang harus terus membeli. Kalau konsumsi naik, ekonomi dianggap sehat. Kalau melambat, kita mulai khawatir. Seolah-olah nilai kehidupan ikut diukur dari seberapa cepat barang berpindah tangan. Di situlah letak ironi yang jarang kita sadari: sistem ini butuh kita untuk terus merasa kurang, agar roda tetap berputar.
“Iklan” mungkin adalah wajah paling kasat dari mekanisme itu. Dulu orang membeli karena butuh. Sekarang, sering kali kita merasa butuh karena terlebih dahulu dibuat ingin. Platform seperti Instagram dan TikTok bukan lagi sekadar tempat hiburan. Ia menjadi ruang di mana keinginan dipelajari, dipetakan, lalu dipantik kembali. Kadang tanpa sadar, kita tidak lagi sekadar mengonsumsi barang—perhatian kita yang justru sedang dikonsumsi. Kita menggulir layar bukan karena butuh sesuatu, tapi karena ada sesuatu yang terus menarik kita untuk tetap tinggal.
Ada juga hal yang lebih halus: barang dibuat untuk tidak bertahan lama. Produk cepat usang, cepat terasa “ketinggalan”. Ponsel yang masih berfungsi tiba-tiba terasa kurang hanya karena versi baru muncul. Kita seperti berlari di lintasan yang garis akhirnya terus digeser. Lama-lama, yang berubah bukan hanya cara kita membeli, tapi cara kita melihat diri sendiri. Dulu, pertanyaan “saya siapa?” mungkin dijawab lewat nilai, relasi, atau peran kita dalam hidup. Sekarang, tanpa terasa, jawabannya bergeser ke hal-hal yang bisa dilihat dan ditampilkan. Apa yang kita pakai, apa yang kita beli, bagaimana kita terlihat di layar.
Pelan-pelan, harga diri ikut menumpang di sana. Lalu masuklah hutang. Ia memberi jalan pintas: bisa punya sekarang, bayar nanti. Sekilas terasa membantu. Tapi di banyak kasus, ia juga mengikat. Kita bekerja bukan lagi sekadar untuk hidup, tapi untuk mengejar cicilan dari hal-hal yang sebenarnya tidak selalu kita butuhkan sejak awal. Saya rasa banyak dari kita pernah merasakan ini—ada lelah yang sulit dijelaskan, padahal secara kasat mata semuanya “baik-baik saja”. Rutinitas berjalan, target tercapai, tapi di dalam ada ruang yang terasa kosong.
Di sisi lain, ada juga sesuatu yang terjadi di dalam diri. Setiap kali membeli, ada rasa senang kecil. Cepat datang, cepat hilang. Lalu muncul dorongan untuk mengulanginya. Bukan lagi karena kebutuhan, tapi karena ingin merasakan sensasi itu lagi. Seperti lingkaran yang tidak benar-benar selesai. Di tengah semua itu, saya teringat pada kesahajaan masyarakat di Desa Sade. Di sana, hidup terasa lebih pelan. Konsumsi mengikuti kebutuhan, bukan dorongan. Barang dipakai selama masih bisa dipakai. Tidak ada tuntutan untuk selalu baru, selalu tampil, selalu mengejar.
Ada sesuatu yang sederhana, tapi terasa utuh: rasa cukup. Dan justru itu yang terasa makin jarang kita temui sekarang. Mungkin inti persoalannya bukan pada banyak atau sedikitnya barang. Tapi pada bagaimana sistem secara halus membentuk cara kita merasa—seolah-olah selalu ada yang kurang, selalu ada yang perlu dikejar. Pertanyaannya kemudian bukan lagi “bagaimana keluar sepenuhnya dari sistem”—karena itu hampir tidak realistis. Tapi: masihkah kita punya ruang untuk sedikit lebih berdaulat atas diri sendiri?
Mungkin jawabannya ada pada hal-hal kecil. Berhenti sebentar sebelum membeli, dan benar-benar bertanya: ini kebutuhan, atau sekadar keinginan sesaat? Memberi jarak. Tidak semua hal harus diputuskan hari itu juga. Kadang, setelah satu atau dua hari, keinginan itu hilang dengan sendirinya. Kembali melihat fungsi, bukan sekadar citra. Dan sesekali memilih memperbaiki, alih-alih langsung mengganti. Mungkin terdengar sepele, tapi dari situ kita mulai memutus satu mata rantai kecil dari kebiasaan konsumsi yang tidak sadar.
Hal-hal sederhana. Tidak revolusioner. Tapi mungkin cukup untuk membuat kita tidak sepenuhnya terseret arus. Jika ditarik ke akar terdalamnya—saat kita benar-benar jujur pada diri sendiri—masalah terbesar kita mungkin bukan kekurangan barang. Justru sebaliknya, kita hidup di tengah kelimpahan, tetapi perlahan kehilangan rasa cukup. Dan tanpa rasa itu, sebanyak apa pun yang kita miliki, pada akhirnya akan selalu terasa kurang. Dan tanpa rasa itu, sebanyak apa pun yang kita miliki, rasanya akan tetap kurang.
Sekian. Terima kasih.
Bandung, 30 April 2026









