(Suara dalang wayang dengan cempala)
Hidup harus diperjuangkan
Meskipun langit runtuh
Alam tak ramah lagi
Apalagi, manusianya.
Gonjang ganjing kepiting
berkelahi dengan kijing
semua kena geprek
sepatu ceko yang peko.
Hidup harus diperjuangkan
apapun yang terjadi.
Terjemahan
(Bahasa Indramayu)
Muncul Siti Wadoni binti Dalung. Memainkan wayang kulit Drupadi menembang murwa dalam bahasa dermayon.
Murwa yang ku tembangkan adalah semangat warisan mama Dalung bapakku, seorang dalang wayang yang terkenal di Dermayon.
Kenangan demi kenangan ingin ku kisahkan pada penonton sekalian.
Ini tokoh Drupadi istri Semiaji yang terkenal jujur lewat Jamus kalimusadanya. Tapi mama Dalung lebih suka tokoh Wisanggeni. Anak Arjuna dari Batari Dusamala, putra Batara Brama dan Dewi Saraswati. Wisanggeni pemberani, tegas dalam bersikap, memiliki kesaktian luar biasa.
Itulah sikap hidup yang dipilih oleh mama Dalung. Karena itu dia tidak takut pada siapapun, sepanjang membela kebenaran yang diyakininya. Mama Dalung hanya takut pada Tuhan. “Di hidupkan dimatikan oleh Tuhan” Sebagaimana wayang oleh dalang. Jadi jangan takut menghadapi hidup.
Mengapa aku suka Drupadi? Doaku dikabul seperti doa Drupadi yang ingin bersuamikan para kstaria, tidak tanggung-tanggung lima pandawa. Dalam kisah aslinya memang Drupadi poliandri, tapi para wali meringkasnya menjadi hanya istri Semiaji, tapi namanya Tetijo Pancawala.
Saduran dari lima ksatria dikenal sebagai anak Pancawala anak Drupadi dari Semiaji.
Hidupku ibarat gawe jogedan, improviasi. Yang pertama aku memilih Robani seorang sopir truk tolelot yang disukai anak-anak di jalan utara, di kenal sebagai sopir Bedulan karena suka membela sopir lain, hanya sayang dia ditembak oknum polisi ketika melerai perkelahian di hutan Roban.
Duh kang Robani, anakmu Samsi sudah gede kang.
(Minum)
Setelah menjanda dua tahun, aku tertarik pada seorang guru yang suka menembang pujanggaan, namanya pak Mursidan, eh ternyata dia sudah branakan, aku malu pada istrinya minta cere walaupun aku sedang mengandung darinya. Samsi anakku dari kang Robani sudah sekolah dasar, aku mengantar hanya sekali, setelah itu dia tumbuh mandiri, ganteng seperti kakeknya. Selama aku mengandung sembilan bulan, anakku kedua. Aku belajar menembang, bahkan ngedalang wayang milik mama Dalung. Untungnya ada Ki Bapido tukang kendang di masa mama Dalung, ternyata banyak kabisa. Ki Bapido asalnya dari celeng. Semua ilmunya diturunkan, termasuk tari topeng yang disebut gawe jogedan. Akhirnya anakku kedua lahir, kuberinama Komari, aku merasa anak ini akan pintar, mungkin karena ada darah pak Mursidan bapaknya yang guru.
Lakon wayang yang dimainkan mama Bardas, sahabat mama Dalung sengaja kuminta Wisanggeni Panca Komara. Lima cahaya yang bersinar menjadi manusia sempurna. Aku berharap Komari jadi seperti Wisanggeni. (Lampu perlahan redup dan mati)
II
Tampak Siti Wadoni mengenakan topeng kelana lalu memainkannya di pangkuannya.
Saudara-saudara, berkat warisan mama Dalung sekarang aku punya segalanya, menjadi dalang wayang, dalang topeng, penembang pujanggaan, dibantu sedulur jadi punya sanggar, namanya Jogedan Zaman.
(Menembang)
Jogedan Zaman
Hidupku jogedan zaman
Asal jangan ikut edan
Jogetan zaman
Ibarat bambu yang meliuk kena angin tapi tidak ikut angin bertahan dengan akar
Akulah Siti Jogedan
Akulah Siti Jogedan
Tamat
6 September 2023








