SITI MATAHATI

Siti Matahar kosapoin

Ketika lampu panggung terang di tengah tampak Siti Matahati tengah duduk menghadap laptopnya, tampak logo Matahati sebagai identitasnya sebagai stiker yang ditempelkan di sampingnya ada segelas wedang uwuh hangat.

(Kepada penonton)

Selamat datang untuk menyaksikan sebuah kisah kelam dalam sejarah negeri ini. Aku Siti Matahati nama samaranku dalam karya-karyaku. Tapi nama asliku Maharlika Fatima. Ketika aku bertemu dalam sebuah seminar para penulis Asean dengan Mas Notonugroho seorang antropolog tapi juga penulis essay dan sastra drama.

Dia berceloteh tentang dongeng kelam pada suatu masa di daerahnya. Dongeng dari ayahnya karena dia masih kecil. Didongengkan setelah besar. Dalam menutur karya aku akan bertutur tentang tokoh Siti Landung. Tokoh penyaksi sejarah kelam itu. (Bangkit) Membatik kebaya Encimnya dengan warna hitam.

(Pada penonton maju ke depan)

Aku Siti Landung, artinya wanita yang panjang ingatan. Aku tinggal disebuah perkebunan karet jati wayang, aku hanya seorang pelayan pak Sinder dan Bu Sinder. Keduanya sangat sayang padaku.

Aku bisa memasak masakan enak berkat Bu Sinder yang baik hati. Hidup diperkebunan jati wayang sangat damai, hawanya yang segar walaupun suka datang panas kalau siang hari, dingin kalau malam hari.

Pak Sinder suatu malam kedatangan serombongan tentara, tampak garang dan bersenjata. Komandannya yang tampak ramah.

(Merubah suara berat)

Pak Sinder Brotoseno. Aku Mayor Zuljandah dari Semarang. Kami ingin kantor dari rumah dinas ini jadi markas kami!

(Merubah suara lebih tenang)

Baiklah komandan, aku paham situasi genting seperti sekarang ini. Kalau boleh tahu, berapa lama?

(Merubah suara berat)

Tergantung  operasi tumpas kelor yang kami jalankan.

(Kembali ke suara wanita)

Sejak itu rumah dinas dan kantor Jati Wayang jadi markas tentara dalam operasi tumpas kelor. Aku tahu dari bisik-bisik tentara yang kubantu memasokkan gula kopi dan makanannya. Bahwa mereka sedang menangkap komunis di sekitar Jati Wayang. Komunis? Apa itu?

Aku tidak tahu, ketika aku tanya pada Bu Sinder hanya bilang ssstt….. dengan telunjuknya ditempelkan pada bibirnya.

Pada suatu malam, aku mendengar obrolan pak Sinder dengan pak komandan. Ketika ku lagi bikin kopi (Merubah suara berat)

Pak Sinder untung kau seorang PNI, kalau PKI sudah kena operasi tumpas kelor. (Merubah suara lembut)

Kami keluarga PNI, nasionalis sejati seperti pak komandan. Oh ya mangga kopinya. (Suara berat)

Jujur pak Sinder, kalau bukan karena tugas negara. Aku tidak mau mengeksekusi mereka! (Terdengar menembang Maskumambang)

Tumpas kelor jangan sampai terulang yang tak berdosa mati sengsara karena ambisi penguasa. (Kepada penonton)

Aku merasa tenang, setelah para tentara itu meninggalkan Jati Wayang.

Pak Sinder dan Bu Sinder ingin tahu apa yang terjadi di dalam hutann dekat Jati Wayang.

Astaga, banyak kubur baru berjajar acak. Pak Sinder berkisah (Merubah suara) Mereka anggota komunis yang ditangkap lalu disuruh menggali lobang sendiri, setelah itu di dor dan dikubur oleh temannya, begitulah tumpas kelor. (Kembali ke suara asal) Kilasan kisah dari Mas Notonugroho yang dicelotehkan padaku. Terimakasih Mas.

Tamat

6 September 2023

Inspirasi Eggi Yunaedi


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *