Ruwatan Bumi Cisewu sebagai Perjuangan Mengruwat Diyu dalam Diri

panggung ruwatan

Panggung Ruwatan Bumi di Lemah Luhur Cisewu Garut. dok. Foto Ayah Dody

Garut | Pada tanggal 01 hingga 02 Mei 2026, sebuah getaran budaya hadir di Cisewu, Garut. Peristiwa bertajuk “Ruwatan Bumi” ini bukan sekadar upaya melestarikan tradisi, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk mewujudkan kesadaran dalam kerangka Sastra Jendra Rahayu Ningrat Ruwating Bumi Karuhun Leluhur Sunda. Cisewu hadir membawa budaya luhur sebagai jati diri bangsa yang nyata.

poster ruatan

Aki Emis, Mang Mpey Ferdy, dan segenap panitia—Gungun Gunaeli, Caca Suhendar, DKK—bersama Abah Endjoem (Tokoh Pelaku Ritual dari Padepokan Bumi Ageung Saketi) menegaskan satu hal: Ruwatan Bumi adalah Perjuangan Kesadaran. Dalam konteks Sunda, “ruwatan” melampaui sekadar pembersihan alam semesta secara fisik; ia menembus hingga pembersihan alam batin manusia.

Gagasan ini selaras dengan filosofi Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Yang harus diruwat pertama kali adalah “diyu” di dalam diri manusia: keserakahan, amarah, dan kebodohan. Pertanyaan mendasar yang muncul di Cisewu bukan lagi tentang “apakah bumi sudah diruwat?”, melainkan “apakah cara berpikir manusianya sudah berubah?”.

Lapisan Makna Ruwatan Bumi
Ruwatan Bumi harus dipahami dalam tiga lapisan yang saling mengunci jika ingin dimaknai secara serius:

  1. Ruwatan Ekologis (Alam Nyata): Adalah sebuah kontradiksi besar jika bumi diruwat namun hutan tetap ditebang dan sungai dibiarkan kotor. Kesadaran ekologis harus konkret: menjaga tanah, air, dan pangan dengan tidak konsumtif berlebihan. Tujuannya adalah membangun kembali harmoni agraris, bukan sekadar terjebak dalam eksploitasi modernisme kapitalis.
  2. Ruwatan Sosial (Masyarakat): Ruwatan sejati termanifestasi dalam berkurangnya konflik, iri, dan dengki. Indikator keberhasilannya adalah meningkatnya gotong royong yang nyata (bukan slogan) dan kejujuran kolektif. Tanpa realita Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, ritual tersebut belum mencapai esensi “ruwat”.
  3. Ruwatan Psikologis (Diri Sendiri): Ini adalah inti yang paling sulit. Berani melihat ego sendiri, tidak haus pengakuan, dan tidak menjadikan “budaya” sebagai panggung identitas kosong. Sering terjadi orang bicara leluhur, namun perilakunya jauh dari nilai leluhur itu sendiri.

Ada bahaya yang harus diwaspadai: Ruwatan bisa gagal menjadi perjuangan jika hanya berakhir sebagai tren seremonial tahunan demi dokumentasi, publikasi, atau alat legitimasi politik. Leluhur Nusantara tidak berhenti di simbol; mereka hidup dalam laku.

Strategi Gerakan Kesadaran Nyata
Agar Ruwatan Bumi di Cisewu naik level menjadi gerakan nyata, diperlukan tiga pilar utama:

  • Ruang Refleksi Kolektif: Bukan hanya pertunjukan, tapi sesi jujur untuk mengakui masalah desa (ekonomi, lingkungan, konflik sosial) dan kesalahan kolektif.
  • Komitmen Pasca-Ritual: Aksi nyata seperti gerakan tanam pohon, perbaikan irigasi, dan penguatan pangan lokal.
  • Pendidikan Generasi Muda: Mewariskan cara berpikir kritis, etika hidup, dan hubungan manusia-alam, bukan sekadar bentuk fisik budayanya.

Intinya, ruwatan adalah transformasi: dari ritual menjadi laku hidup, dari simbol menjadi perubahan nyata, dan dari nostalgia menjadi tanggung jawab masa kini.

Dramaturgi Ruwatan Bumi Cisewu di Balong Gede dan Tegal Lemah Luhur
Perjalanan ini dinarasikan melalui dramaturgi yang kuat di dua ruang sakral: Balong Gede (simbol Air/Rasa/Memori) dan Tegal Lemah Luhur (simbol Tanah/Raga/Tindakan). Alurnya mengikuti anatomi batin: Kotor → Sadar → Luruh → Janji → Laku.

Fase Pertama: KALEUNGITAN (Kehilangan Jati Diri)
Berlokasi di Balong Gede saat menjelang senja. Di bawah kabut tipis Cisewu dan denting lirih kacapi panyurup rasa, para performer bergerak lambat menggambarkan disorientasi. Suara Juru Pantun menggugat: “Manusa poho kana asalna… Bumi lain deui indung, tapi jadi barang… Cai teu deui kahuripan, tapi jadi komoditi…” Simbol beban berupa limbah plastik dibawa sebagai cermin rusaknya hubungan manusia dengan alam.

Fase Kedua: NGALUNGKEUN (Melepas dan Mengakui)
Masih di air, peserta mulai mencuci wajah dan melepaskan simbol beban ke wadah secara ekologis. Diiringi Sekar Rajah, narasi menegaskan bahwa yang diruwat bukan sekadar bumi, tapi hati yang penuh keinginan dan pikiran yang keruh. Inilah titik awal kesadaran.

wa an dalam ruwatan
ruwatan bumi di Cisewu Garut

Transisi: LALAMPAHAN (Perjalanan)
Arak-arakan hening bergerak dari Balong Gede menuju Tegal Lemah Luhur. Ini bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan simbol perjalanan batin dari rasa menuju raga.

Fase Ketiga: PAHUWATAN (Penyelarasan)
Di Tegal Lemah Luhur, api semangat bergelora di tengah lingkaran manusia. Gerak masa menjadi sinkron dan kolektif. Pesannya jelas: “Lamun manusa mulih ka rasa… Bumi moal diruksak, tapi dirumat.” Kesadaran tidak lagi bersifat individual, melainkan kolektif.

Fase Keempat: IKRAR BUMI (Komitmen Nyata)
Puncak dari segala proses. Perwakilan masyarakat menyatakan janji hidup Panca Waluya: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Jujur. Aksi nyata dilakukan dengan menyentuh tanah dan menabur benih. Ruwatan tidak berhenti malam itu, tapi justru dimulai dari sana dalam langkah sehari-hari.

Fase Kelima: HIRUP ANYAR (Kehidupan Baru)
Sebagai penutup, tari rakyat hadir dengan rasa yang lebih ringan. Tanpa banyak pidato, biarkan pengalaman estetika yang berbicara. Kejujuran estetika dijaga agar tidak menjadi “megah” yang mengada-ada, melainkan terasa nyata bagi setiap warga yang terlibat.

Simpulan
Ruwatan Bumi Cisewu adalah perjalanan utuh: Balong (Air) membersihkan rasa, Lemah (Tanah) mengikat tindakan, dan Lalampahan (Perjalanan) membuktikan bahwa kesadaran tidak pernah terjadi secara instan.

Sekian terima kasih,
Cisewu, 02 April 2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *