Dalam hal ini yang kita lihat itu sangat nyata kontrasnya, tapi kalau disederhanakan, maknanya adalah “kapitalisme sama dengan buruk, dan agraris sama dengan murni”, juga sebenarnya kita mudah jatuh ke hal romantisasi. Jadi lebih berguna kalau kita bedah cara kerja psikis dan sistemnya, lalu lihat apa yang bisa dipelajari tanpa menutup mata pada keterbatasan masing-masing. Secara fundamental, kita harus mengakui bahwa setiap peradaban membawa konsekuensi logis terhadap cara manusia memandang dirinya sendiri di tengah semesta. Dua logika hidup yang berbeda karena modernisme kapitalis adalah logika akumulasi yang didorong oleh pasar, kota, dan sejarah seperti Revolusi Industri. Ciri-citinya adalah nilai diri diukur dari kepemilikan dan pencapaian, waktu itu begitu linear yang artinya “lebih cepat, juga lebih dapat banyak”, serta kebutuhan sering diciptakan berupa iklan dan tren. Iklan bukan lagi sekadar memberi informasi, melainkan alat untuk menciptakan lubang di dalam batin manusia yang seolah-olah hanya bisa ditambal dengan membeli produk terbaru. Dalam dampak psikologis, dopamin jangka pendek yang dilakukan adalah “beli/belanja”, kemudian “puas”, dan “hilang”, kemudian “diulang lagi”. Perbandingan sosial tinggi, juga rentan masuk ke kecemasan dan kekosongan. Di era digital ini, kecemasan tersebut diperparah oleh paparan media sosial yang terus-menerus memaksa kita membandingkan kehidupan nyata yang berantakan dengan kehidupan orang lain yang telah dikurasi secara estetis. Konsumtif bukan sekadar gaya hidup, tapi ini sebagai mesin ekonomi dan plus mesin psikologis.
Di dalam kehidupan masyarakat agraris di Daerah Lembur Kampung Kanekes Baduy itu yang membudaya adalah logika keseimbangan. Pada Suku Baduy di Kanekes itu memiliki ciri dan cara yang khas, yaitu hidup berbasis siklus alam seperti tanam, panen, dan istirahat. Ada aturan adat kuat yang istilahnya disebut “pikukuh” yang begitu membatasi eksploitasi. Pikukuh ini berfungsi sebagai kompas moral yang memastikan bahwa tangan manusia tidak mengambil lebih banyak dari apa yang bisa dikembalikan oleh bumi. Nilai itu maknanya adalah “kecukupan dan harmoni”, bukanlah akumulasi. Jadi dampak psikologisnya yaitu identitas lebih stabil dan tidak tergantung pada tren karena keinginan lebih terkendali, juga rasa keterhubungan dengan alam dengan komunitas. Kehidupan di Kanekes mengajarkan bahwa ketenangan jiwa tidak datang dari penguasaan atas materi, melainkan dari kemampuan untuk selaras dengan ritme yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta melalui alam semesta. “Larut dengan alam” bukan kebetulan, tapi hasil struktur sosial dan juga disiplin budaya.
Di dalam mekanisme batin, kenapa hasilnya berbeda? Kapitalisme modern itu mengaktifkan sistem keinginan tanpa batas sehingga otak terus “mengejar berikutnya” dan identitas jadi proyek yang tidak pernah selesai. Namun, di dalam sistem agraris-tradisional itu mengaktifkan pembatasan sadar, dan keinginan disaring oleh adat dan ritme alam sehingga identitas lebih “diberikan”, bukan terus dikejar. Sebagai perbedaan inti, satu memperluas hasrat dan yang satu lagi mengelola hasrat. Hasrat yang tidak dikelola akan menjadi api yang membakar habis sumber daya mental dan lingkungan kita. Akan tetapi hati-hatilah; dalam idealisasi itu jangan terlalu berlebihan. Di dalam kelemahan sistem modern, aspek eksploitasi alam itu jadi overkonsumsi dan alienasi yang artinya terpisah dari makna. Sementara itu, kelemahan sistem yang menganggap lemah dalam sistem budaya tradisional adalah dianggap adanya keterbatasan dalam akses kesehatan dan pendidikan karena berbentrokan dengan sistem modernisme, ruang individu bisa lebih sempit, serta sulit untuk beradaptasi cepat terhadap perubahan global. Kita harus melihat realitas ini secara objektif tanpa harus memihak secara buta pada satu sisi saja, karena tantangan zaman memerlukan kearifan untuk memadukan kedua kekuatan tersebut. Jadi dalam hal ini, tidak ada sistem yang “murni benar”.
Titik paling tajam adalah aspek psikologis dengan eksistensial. Masalah utama manusia modern pada intinya bukanlah punya barang, tapi tidak tahu kapan cukup. Ketidakmampuan untuk berkata “cukup” adalah penyakit kronis yang membuat kelimpahan materi terasa seperti kemiskinan spiritual. Sedangkan dalam sistem kehidupan seperti di masarakat komunal Kanekes Baduy, “cukup” itu bukan pilihan sebagai pribadi tapi dijaga oleh struktur budaya. Dalam hal ini timbul satu buah pertanyaan, kenapa manusia modern itu sulit “larut dengan alam”? Hal ini dikarenakan hidup dalam ritme buatan yakni “deadline, notifikasi”. Notifikasi gawai telah menggantikan suara kicau burung sebagai penanda waktu bagi kita, menciptakan tekanan mental yang terus menerus tanpa jeda untuk bernapas. Tubuh alami, tapi hidup tidak alami, dan alam jadi objek rekreasi, bukan jadi relasi. Akibatnya, “healing ke alam” menjadi konsumsi baru, juga bukan transformasi. Kita pergi ke hutan atau pantai hanya untuk berfoto, lalu kembali ke kota dengan beban pikiran yang sama, tanpa benar-benar menyerap energi penyembuhan dari tanah yang kita pijak.
Apa yang bisa kita dipelajari tanpa harus jadi seperti Kanekes Baduy? Maka di sini diri kita tidak harus pindah sistem, tapi kita bisa ambil prinsipnya. Batas yang disengaja itu harus tentukan “cukup” dalam versi lain seperti dirimu dengan mengurangi konsumsi impulsif. Latihlah diri untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol beli, dan tanyakan apakah barang tersebut benar-benar menambah nilai dalam hidup kita atau hanya sekadar pelarian sesaat. Di dalam irama ritme hidup itu, ada waktu kerja dan ada waktu diam. Sinkronkanlah dengan siklus tubuh juga bukan hanya target. Relasi dengan alam itu bukanlah sekadar jalan-jalan, tapi interaksi berulang seperti tanam, rawat, dan perhatikan. Mungkin dengan merawat satu pot tanaman di balkon rumah, kita bisa mulai belajar kembali tentang arti kesabaran dan proses pertumbuhan yang tidak bisa dipaksa. Di dalam segi kesadaran kolektif itu tidak semua harus individual achievement, maka bangunlah sistem saling dukung seperti ensemble musik tadi. Dalam sebuah pertunjukan musik, harmoni tercipta bukan karena satu instrumen mendominasi yang lain, melainkan karena setiap pemain tahu kapan harus menonjol dan kapan harus memberi ruang bagi suara lainnya.
Inti paling keras dalam sistem kapitalisme adalah membuat manusia lapar tanpa akhir. Namun, dalam kehidupan tradisi itu selalu menjaga manusia agar tahu kenyang. Lebih dalam lagi, kebebasan tanpa batas sering berubah menjadi perbudakan baru, sementara batas yang sadar bisa jadi bentuk kebebasan yang lebih dalam. Kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk melakukan apa saja yang kita inginkan, melainkan kekuatan untuk mengendalikan diri dari keinginan yang merusak. Pertanyaan reflektif aspek jujur itu, bukan idealis: Apakah anda benar-benar butuh yang anda kejar sekarang? Apakah hidupmu punya ritme atau hanya kejar target? Apakah diri kita bisa merasa cukup tanpa harus “menang”? Pada puncaknya, jati diri sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung pencakar langitnya, melainkan oleh seberapa mampu rakyatnya menjaga kemanusiaan dan alamnya di tengah gempuran zaman yang semakin cepat dan tanpa jiwa.
Sekian Terimakasih…
Bandung, 02 Mei 2026









