Hujan turun sejak sore ketika Ela duduk di tepi ranjang, memandangi layar ponselnya. Pesan dari teman-temannya menumpuk, tetapi perhatiannya tertahan pada satu kalimat dari Samsul.
“Aku cuma ingin kamu percaya sama aku. Kenapa kamu selalu membuat semuanya jadi rumit?”
Ela membacanya sekali lagi. Semalam, Samsul berjanji akan datang ke pameran lukisan yang telah dipersiapkannya selama berbulan-bulan. Ia masih ingat lelaki itu menggenggam tangannya sambil tersenyum, mengatakan bahwa ia ingin menjadi orang pertama yang melihat karya-karyanya.
Samsul tidak datang. Ketika Ela menelepon, ia malah terdengar kesal.
“Aku sudah bilang mungkin nggak bisa datang. Kamu saja yang terlalu berharap.”
Ela membuka percakapan mereka sehari sebelumnya. Janji itu tertulis jelas di sana. Ia mengirimkan tangkapan layarnya, berharap Samsul sekadar lupa. Balasannya datang beberapa menit kemudian.
“Kamu benar-benar harus belajar berhenti memelintir perkataanku.”
Ela meletakkan ponsel di pangkuan. Ia ingin membicarakan janji yang diingkari, tetapi sekarang justru sifatnya yang dipersoalkan. Beberapa saat kemudian, ia mengetik permintaan maaf. Bukan karena yakin telah bersalah, melainkan karena sudah terlalu lelah untuk meneruskan pertengkaran.
Dulu, pesan Samsul pada pagi hari, pertanyaan apakah ia sudah makan, atau teguran agar tidak tidur terlalu larut membuat Ela merasa diperhatikan. Belakangan, nama lelaki itu muncul di layar saja sudah cukup membuat perutnya menegang.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Ketika pertama kali mengenal Samsul, Ela menganggapnya berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ia temui. Lelaki itu pandai mendengarkan dan tidak buru-buru menyela. Di media sosial, ia sering menulis tentang kesehatan mental, menghargai perasaan orang lain, dan keberanian mengakui kesalahan. Banyak orang menyukai tulisannya. Ela termasuk salah satu yang pernah mengirimkan pesan untuk berterima kasih.
Mereka bertemu dalam kegiatan sukarelawan di kampus, beberapa bulan setelah ayah Ela meninggal. Waktu itu, ia lebih sering menyimpan kesedihan sendiri. Samsul tidak memaksanya bercerita. Ia hanya duduk di samping Ela ketika perempuan itu menangis setelah sebuah acara selesai.
“Kamu nggak harus selalu kelihatan kuat,” katanya. “Kalau sedih, ya sedih saja.”
Ela tidak ingat apa yang dibicarakan mereka setelah itu. Ia hanya ingat bagaimana dirinya menangis tanpa buru-buru menghapus air mata, juga perasaan ringan ketika akhirnya bisa pulang tanpa berpura-pura baik-baik saja.
Sesudahnya, Samsul sering mengirimkan makanan ketika Ela lupa makan, menemaninya melewati malam-malam yang terasa panjang, dan mendengarkan cerita tentang ayahnya yang kadang muncul begitu saja di tengah percakapan. Ada masa ketika kehadiran lelaki itu benar-benar menolongnya. Ela tidak ingin menyangkalnya hanya karena hubungan mereka belakangan berubah.
Perubahan itu datang sedikit demi sedikit. Ketika Ela ingin menghabiskan akhir pekan bersama teman-temannya, Samsul bertanya apakah ia sudah bosan bersamanya. Jika Ela terlambat membalas pesan karena mengerjakan tugas, lelaki itu berkata dirinya tidak pernah menjadi prioritas. Saat Ela tetap menjalankan rencana yang sudah dibuat, Samsul bisa menghilang berjam-jam tanpa membalas panggilan.
Suatu malam, Ela membatalkan janji dengan teman-temannya setelah membaca pesan, “Kalau kamu memang peduli, seharusnya kamu bisa meluangkan waktu sedikit saja.” Kepada teman-temannya ia mengaku sedang tidak enak badan. Padahal, ia hanya takut Samsul akan semakin menjauh.
Malam itu mereka akhirnya berbicara lewat telepon. Ela mencoba menjelaskan bahwa ia juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
“Kamu tahu aku sedang banyak masalah, kan?” kata Samsul.
“Iya. Aku tahu. Aku cuma ingin kita bisa saling memberi kabar.”
“Jadi, sekarang aku harus melaporkan semua kegiatanku?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Terus apa? Aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kamu selalu membuatku merasa gagal.”
Ela terdiam. Samsul lalu bercerita tentang tekanan pekerjaan, keluarganya yang tidak memahami dirinya, dan betapa lelahnya ia berusaha membahagiakan seseorang yang selalu merasa kurang diperhatikan. Ela mendengarkan sampai lelaki itu selesai. Ketika telepon ditutup, ia malah meminta maaf karena dianggap menambah beban pikiran Samsul.
Mereka berbaikan malam itu. Samsul mengatakan ia menyayangi Ela dan tidak ingin kehilangan hubungan mereka. Ela menangis lega. Soal janji dan kebutuhan waktunya sendiri tidak dibicarakan lagi.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Sesudah kejadian itu, Ela semakin berhati-hati ketika berbicara. Ia menyusun pesan beberapa kali sebelum mengirimkannya, menghapus kalimat yang mungkin terdengar menuduh, bahkan menambahkan kata maaf ketika ia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang perlu dimaafkan.
Ia juga mulai jarang bercerita kepada teman-temannya. Samsul pernah mengatakan bahwa orang luar tidak akan memahami hubungan mereka karena hanya mengetahui sebagian cerita.
“Masalah kita seharusnya diselesaikan berdua,” katanya. “Aku nggak mau orang lain merusak apa yang kita punya.”
Ela mengira itu bentuk kesetiaan. Sampai suatu hari, ketika ia bercerita kepada Samsul bahwa dirinya kecewa karena sebuah janji dibatalkan tanpa kabar, percakapan mereka kembali berakhir dengan keluhan tentang sikap Ela. Ia pulang dari pertemuan itu dengan membawa persoalan yang sama, ditambah perasaan bersalah karena telah mengangkatnya.
Beberapa bulan kemudian, ia melihat Samsul meninggalkan komentar yang menurutnya terlalu akrab pada unggahan seorang perempuan. Ela menanyakannya tanpa bermaksud memperpanjang masalah.
“Kamu salah paham. Aku cuma ramah,” jawab Samsul.
Ela menunjukkan komentar itu. Samsul membaca layar ponselnya, lalu mengembalikannya.
“Kalau memang kamu terganggu, kenapa nggak bilang dari awal dengan cara yang baik?”
“Aku baru tahu tadi.”
“Iya, tapi cara kamu bertanya seperti aku sudah melakukan kejahatan.”
Ela ingin menjelaskan bahwa ia hanya bertanya. Namun, sebelum sempat melanjutkan, ia malah memeriksa nada suaranya sendiri. Barangkali memang terdengar menuduh. Barangkali ia terlalu mudah curiga. Pikiran-pikiran itu mengikutinya sampai rumah.
Kejadian serupa terulang. Samsul menyangkal pernah mengatakan sesuatu yang masih diingat Ela dengan jelas. Ketika Ela mencoba mengingatkan, lelaki itu menggeleng.
“Bisa saja kamu salah ingat.”
“Aku benar-benar ingat, Sul.”
“Kamu akhir-akhir ini gampang sekali menyimpulkan sesuatu. Terlalu banyak berpikir.”
Malamnya, Ela membuka percakapan lama dan membacanya dari awal. Ia menemukan pesan yang dicarinya, tetapi ketika hendak menunjukkan bukti itu, ia teringat bagaimana percakapan sebelumnya berakhir. Ia menutup layar tanpa mengirim apa-apa.
Di kamar mandi, ia berdiri lama di depan cermin. Matanya sembap. Rambutnya berantakan karena berkali-kali ia sisir dengan jari. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali bisa menjalani hari tanpa memikirkan apakah ada sesuatu yang telah ia katakan dengan keliru.
“Kenapa aku jadi begini?” bisiknya.
Tidak ada jawaban selain bunyi air dari keran yang belum tertutup rapat.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Nisa, sahabat yang sudah hampir tiga bulan tidak ditemuinya, akhirnya datang menjemput Ela untuk minum kopi. Kali ini Nisa tidak menerima alasan bahwa Ela sedang sibuk. Mereka duduk di kedai kecil dekat kampus, di meja dekat jendela. Kopi Ela mulai dingin sebelum ia sempat meminumnya.
“Kamu berubah,” kata Nisa.
Ela tersenyum tipis. “Semua orang berubah, Nis.”
“Iya. Tapi dulu kamu bisa cerita apa saja. Sekarang setiap aku tanya kabar, jawabanmu selalu baik-baik saja.”
Ela mengaduk kopi dengan sendok kecil. Ia ingin menceritakan semuanya, tetapi ada rasa tidak enak yang sulit dijelaskan. Seolah-olah membicarakan Samsul di belakangnya sama dengan mengkhianati lelaki yang pernah begitu baik kepadanya.
“Aku nggak tahu apakah aku berlebihan atau tidak,” katanya akhirnya. “Kadang aku yakin dia salah. Tapi setelah kami bicara, aku malah merasa semuanya salahku.”
Nisa tidak langsung menjawab. Ia membiarkan Ela bercerita, sesekali bertanya tentang kejadian yang belum jelas. Ia juga tidak buru-buru menyebut Samsul sebagai orang jahat.
“Aku nggak bisa memastikan semua yang terjadi di antara kalian hanya dari ceritamu,” kata Nisa setelah Ela selesai. “Tapi kamu boleh menyampaikan perasaanmu tanpa harus selalu berakhir dengan minta maaf.”
Air mata Ela jatuh. Kali ini ia tidak segera menyekanya atau menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja.
Nisa merogoh tas dan mengeluarkan sebuah buku kecil dengan sampul biru tua.
“Coba tulis apa yang terjadi kalau kamu mulai bingung mengingatnya. Tulis juga bagian yang baik. Biar kamu bisa melihat semuanya dengan lebih jelas, bukan cuma saat sedang sedih atau marah.”
Ela menerima buku itu. Sampulnya sedikit terkelupas di sudut, dan beberapa halaman bagian belakang tampak terlipat. Benda sederhana itu ia bawa pulang bersama sisa kopi yang tidak habis.
Malamnya, ia mulai menulis. Ia mencatat janji yang dibatalkan, percakapan yang membuatnya bingung, juga kejadian ketika Samsul benar-benar menolongnya. Ia tidak ingin mengubah semua kenangan baik menjadi kebohongan. Ia hanya ingin memahami mengapa kenangan-kenangan itu membuatnya begitu sulit mengakui bahwa ada sesuatu yang menyakitinya.
Beberapa halaman kemudian, ia menyadari bahwa setiap kali mengajukan keberatan, percakapan mereka sering berbelok ke persoalan lain. Perasaan Samsul dibicarakan panjang lebar, sedangkan alasan Ela memulai percakapan menghilang begitu saja. Ia membaca catatannya sekali lagi, lalu menutup buku itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mencari kalimat yang bisa membuat semua kejadian itu tampak baik-baik saja.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Beberapa hari kemudian, Samsul mengajaknya bertemu di taman tempat mereka dulu berbicara tentang kebahagiaan. Sore itu, langit berwarna jingga pucat. Samsul menggenggam tangan Ela seperti biasa.
“Aku merasa kamu menjauh belakangan ini,” katanya.
“Aku sedang mencoba memahami banyak hal.”
“Memahami apa?”
Ela menarik napas. Jantungnya berdegup cepat. Ia sempat ingin mengubah topik, seperti yang sering dilakukannya, tetapi kemudian teringat buku kecil di dalam tas.
“Aku merasa setiap kali ada masalah, kita malah membicarakan kesalahanku. Lama-lama aku takut menyampaikan apa yang aku rasakan.”
Samsul melepaskan genggamannya.
“Jadi sekarang aku yang membuatmu takut?”
“Aku nggak bilang kamu selalu salah. Aku cuma ingin kamu mendengarkan apa yang sedang aku sampaikan.”
“Kamu tahu aku juga punya perasaan, kan? Kamu selalu bicara seolah-olah cuma kamu yang terluka.”
Kalimat itu membuat Ela ingin segera meminta maaf. Ia sudah hafal gerak percakapan mereka: ia menjelaskan, Samsul merasa diserang, lalu ia sibuk menenangkan lelaki itu sampai persoalan awal terlupakan.
Kali ini, ia membiarkan beberapa detik berlalu.
“Aku tahu kamu juga bisa terluka,” katanya. “Tapi aku juga perlu didengarkan.”
Samsul memandangnya cukup lama. Wajahnya berubah, seperti seseorang yang baru mendengar kabar buruk.
“Aku nggak menyangka kamu memandangku seburuk itu.”
Ela menunduk sebentar. Ia tidak ingin menyakiti Samsul. Ia juga tidak ingin menghapus ucapannya sendiri hanya karena lelaki itu kecewa.
“Aku tidak sedang bilang kamu orang jahat. Aku sedang bilang ada hal-hal yang menyakitiku.”
Samsul berdiri. Ia mengusap wajahnya, kemudian memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Kalau kamu sudah nggak percaya padaku, aku nggak tahu lagi harus bagaimana.”
Ia berjalan meninggalkan taman tanpa menoleh. Ela tetap duduk di bangku. Matanya panas, dan ia tidak merasa menang. Ia bahkan tidak tahu apakah pertemuan itu akan menjadi percakapan terakhir mereka.
Ponselnya bergetar di dalam tas. Ela tahu siapa yang mungkin menghubunginya, tetapi ia tidak segera mengambilnya. Ia memandangi jalan setapak yang dilalui Samsul sampai lelaki itu menghilang di balik pepohonan.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan jarak itu ada.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Samsul tidak menghubunginya selama beberapa hari. Ela beberapa kali membuka percakapan mereka, membaca pesan lama, lalu menutupnya lagi. Ia merindukan suara Samsul ketika membacakan puisi, juga kebiasaannya mengirim pesan sebelum tidur. Ada saat ketika ia hampir menelepon hanya untuk memastikan lelaki itu baik-baik saja.
Pada hari keempat, Samsul mengunggah tulisan di media sosial. Ia bercerita tentang seseorang yang dicintainya dengan tulus, tetapi membuatnya merasa selalu gagal. Ia menulis tentang kesetiaan yang tidak dihargai dan lelahnya mencintai orang yang terus mencari kekurangan.
Unggahan itu mendapat banyak tanda suka. Orang-orang memuji kesabarannya dan mengatakan ia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik.
Ela membaca komentar-komentar itu dengan dada sesak. Ia membuka kolom balasan, mulai mengetik penjelasan, lalu berhenti. Ia bisa saja mengirimkan tangkapan layar percakapan mereka. Ia bisa menceritakan apa yang terjadi dari sudut pandangnya sendiri. Namun, ia tahu satu unggahan tidak akan cukup untuk memuat seluruh hubungan mereka, apalagi membuat semua orang memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menghapus tulisan yang belum selesai dan meletakkan ponselnya di meja. Beberapa menit kemudian, ia kembali mengambilnya, bukan untuk membalas unggahan Samsul, melainkan mengirim pesan kepada Nisa.
Besok kamu ada waktu? Aku mau ke kampus bareng.
Balasan Nisa datang tidak lama kemudian.
Ada. Jam sepuluh, ya. Jangan telat lagi, Bu Pelukis.
Ela tertawa kecil membaca pesan itu. Sudah lama ia tidak tertawa karena sesuatu yang sesederhana itu.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Minggu-minggu berikutnya tidak serta-merta membuat hidup Ela terasa ringan. Ia masih sesekali merindukan Samsul. Ada malam ketika ia mengingat cara lelaki itu menenangkannya setelah kematian ayahnya, lalu merasa bersalah karena kini menjaga jarak. Ia tidak membenci Samsul. Ia hanya mulai mengakui bahwa kenangan baik dan pengalaman yang menyakitkan bisa tinggal dalam hubungan yang sama.
Ela kembali melukis. Tugas kuliahnya yang sempat terbengkalai mulai dikerjakan satu per satu. Ia juga kembali menemui Nisa tanpa harus memastikan lebih dulu apakah Samsul akan merasa diabaikan.
Suatu sore, ketika merapikan meja, ia menemukan buku kecil bersampul biru yang diberikan Nisa. Di halaman terakhir tertulis sebuah kalimat yang ia buat pada malam pertama menulis.
“Aku ingin berhenti meminta maaf hanya supaya seseorang tidak meninggalkanku.”
Ela membaca kalimat itu beberapa kali. Lalu ia menambahkan tanggal di sudut halaman, menutup buku, dan meletakkannya di laci meja. Ia tidak merasa semua persoalannya sudah selesai. Setidaknya, ia tidak lagi harus mengingat semuanya sendirian.
Di atas kanvas yang sedang dikerjakannya, sebuah jendela terbuka menghadap cahaya. Bagian dalam ruangan masih gelap, sementara sinar sore jatuh miring di lantai. Ela belum tahu warna apa yang akan dipakainya untuk dinding. Ia membiarkan kuas tergeletak di samping palet dan pergi membuat teh.(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
**(Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)
Setahun kemudian, Ela kembali mengikuti pameran lukisan di kampus. Salah satu karyanya berjudul Suara yang Kembali. Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan berdiri di depan cermin. Bayangannya sedikit berbeda dari sosok yang ada di hadapannya, tetapi perempuan itu tidak lagi tampak ketakutan.
Di bawah lukisan, Ela menulis satu kalimat:
“Aku tidak harus mengerti semua yang terjadi untuk mulai mendengarkan diriku sendiri.”
Menjelang pameran berakhir, seorang pengunjung muda menghampirinya. Ia berdiri cukup lama di depan lukisan itu sebelum bertanya, “Apakah perempuan ini akhirnya memaafkan orang yang menyakitinya?”
Ela memandangi kanvasnya. Ia teringat taman, pesan-pesan yang pernah dibaca berulang kali, juga buku kecil yang kini tersimpan di laci meja.
“Aku tidak tahu,” jawabnya. “Kurasa dia masih menjalani hidupnya.”
Pengunjung itu mengangguk, lalu beranjak ke lukisan berikutnya.
Ela tetap berdiri di sana. Dari jendela besar galeri, cahaya sore menyentuh permukaan kanvas. Ia tidak merasa perlu menjelaskan siapa yang menginspirasinya atau membuka kembali kisah lama untuk membuktikan bahwa lukisan itu punya arti. Orang-orang boleh melihatnya dengan cara masing-masing.
Ketika pameran selesai, Ela membantu menurunkan lukisannya dari dinding. Ia membungkus kanvas itu dengan hati-hati, lalu membawanya keluar. Hujan baru saja reda. Jalanan masih basah dan cahaya matahari memantul di genangan air dekat pintu masuk.
Ela berhenti sebentar, menghirup udara yang sejuk. Ia teringat dirinya yang dahulu, yang selalu memilih kata paling lembut agar tidak melukai orang lain, sampai lupa bahwa dirinya pun bisa terluka.
Ia berjalan menuju gerbang kampus. Ponselnya bergetar karena pesan dari Nisa yang menanyakan apakah ia sudah selesai. Ela membalas bahwa ia sedang menuju tempat parkir, lalu memasukkan ponsel ke tas.
Kali ini, ia tidak menyusun kalimatnya berkali-kali. Ia hanya mengatakan apa yang ingin ia katakan, dengan kata-kata yang biasa saja.
Di luar gerbang, hujan menyisakan bau tanah dan daun basah. Ela melangkah pulang tanpa merasa perlu meminta maaf karena telah memilih jalannya sendiri. [](Source: kosapoin.com/luka-yang-berbicara-pelan)

Teater Dewala
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown







