Sidang Darurat di Atas Pikap Toska

sidang darursat di atas pikap toska

Pikap tua milik Abah berwarna hijau toska. Catnya mengelupas di sana-sini, baknya mulai berkarat, dan mesinnya mengeluarkan bunyi yang membuat orang ingin segera mematikannya. Tetapi bagi Lilis dan Odoy, mobil itu punya kelebihan yang tidak dimiliki kendaraan lain: baknya bisa dipakai duduk-duduk sambil makan semangka, apalagi kalau Abah sedang tidak melihat.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Sore itu dua karung semangka masih teronggok dekat kabin. Abah sudah menyuruh mereka memindahkannya, tetapi Lilis dan Odoy baru berhasil menyelesaikan satu perkara: siapa yang berhak menghabiskan potongan semangka terakhir. Lilis duduk dengan pita merah jambu di rambutnya, sedangkan Odoy sibuk membetulkan topi jerami yang kebesaran. Setiap kali ia menunduk, pinggiran topi itu menutupi matanya.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Doy, lu kalau diem begitu lagi mikirin apa?” tanya Lilis.
“Gua lagi berpikir.”
Lilis menoleh. “Tentang apa?”
“Jangan tanya terus. Orang lagi berpikir juga perlu ketenangan.”
“Wah, sekarang lu perlu ketenangan.” Lilis mengangguk-angguk. “Biasanya yang lu perlu cuma tambahan semangka.”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Odoy mendengus, lalu menggigit buah di tangannya. Sebutir biji melesat dari mulutnya dan jatuh tepat di pangkuannya sendiri. Lilis tertawa sampai semangkanya hampir terlepas.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Makanya, kalau meludah lihat-lihat!”
“Ini biji gua!”
“Ya, tapi kenapa balik lagi ke lu?”
Odoy memungut biji itu dan membuangnya ke luar bak. “Kata Abah, hidup itu kayak semangka. Kalau manis, dimakan. Kalau ketemu biji, dibuang.”
Lilis mengunyah pelan, mempertimbangkan ucapan itu dengan wajah yang dibuat serius. “Kalau busuk?”
“Jangan dimakan.”
“Kalau nggak punya gigi?”
“Lu mau makan semangka atau mau buka puskesmas?”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Lilis terbahak. Odoy ikut tertawa, lalu keduanya kembali sibuk dengan semangka masing-masing. Di atas kabin, Si Ompong, kucing hitam berbulu kusam yang entah sejak kapan betah tinggal di sekitar pikap, membuka sebelah mata. Ia memandangi mereka sebentar, menguap, lalu kembali tidur dengan kepala bertumpu pada kedua kaki depannya.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Lihat tuh,” kata Lilis. “Si Ompong aja nggak tertarik sama omongan lu.”
“Dia ngantuk.”
“Dari tadi tidur.”
“Berarti dia tahu cara menikmati hidup.”
Lilis melirik kucing itu. “Kalau begitu, besok gua mau jadi kucing.”
“Boleh. Tapi jangan minta makan ke gua. Gua juga masih minta ke Abah.”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Angin sore melewati kebun. Di dahan pohon tua, seekor kolibri biru berpindah tempat, sesekali berhenti di dekat bunga yang tumbuh di antara ranting. Lilis mendongak mengikutinya sampai topi Odoy yang lebar menutupi sebagian pandangannya.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Doy, burung itu makan semangka nggak?”
“Mana gua tahu.”
“Kalau bijinya ketelan, nanti tumbuh pohon di perutnya?”
Odoy menatap Lilis. “Lu pernah lihat pohon tumbuh di perut burung?”
“Belum.”
“Ya sudah. Jangan bikin repot burungnya.”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Lilis tertawa sendiri. Ia memang sering punya pertanyaan yang tidak selesai dijawab, sebab sebelum jawaban datang, sudah muncul pertanyaan lain. Odoy biasanya mengomel, tetapi diam-diam ia juga menunggu apa lagi yang akan keluar dari mulut temannya itu.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Ketika mereka sedang berdebat soal burung, sepotong semangka di ujung bak tergelincir. Buah itu jatuh ke rumput dan pecah sedikit. Lilis menjulurkan kepala untuk melihatnya. Beberapa semut sudah berjalan mendekat, menyusuri kulit hijau menuju daging merah yang terbuka.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Kasihan,” katanya.
Odoy ikut melihat ke bawah. “Apanya yang kasihan?”
“Semangkanya jatuh.”
“Ya tinggal diambil.”
“Sudah didatangi semut.”
“Bagus, berarti ada yang mau makan.”
Lilis memperhatikan seekor semut yang berjalan melintasi daging buah. “Doy, semut kalau makan semangka kenyang berapa hari?”
“Gua bukan dokter semut.”
“Memangnya dokter semut ada?”
“Kalau nggak ada, kenapa lu nanya?”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Lilis mencubit lengan Odoy. Odoy mengaduh, kemudian menggeser tubuhnya menjauh. Gerakan itu membuat topi jeraminya terlepas dan jatuh tepat di kepala Si Ompong. Kucing itu terlonjak, meloncat ke kap mobil, lalu menggoyangkan kepala sampai topinya terlempar ke lantai bak.
Keduanya terdiam. Si Ompong menatap mereka dengan mata menyipit.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Dia marah,” bisik Lilis.
“Ya lu yang bikin!”
“Tadi kan lucu.”
“Buat lu!”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Si Ompong turun dari mobil dan berjalan menjauh dengan ekor tegak. Lilis menunggu sampai kucing itu menghilang di balik rumpun pisang sebelum mengambil topi Odoy. Ia menepuk-nepuknya, lalu menyerahkannya kembali.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Sudah, jangan sedih. Nanti gua beliin topi buat kucing lu.”
“Pakai uang siapa?”
“Uang Abah.”
Odoy memasang topinya. “Kalau Abah tahu, lu yang jelasin.”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Lilis tidak menjawab. Ia sedang melihat semut-semut di bawah bak yang kini semakin banyak. Entah bagaimana, pembicaraan tentang semut membuatnya teringat pada karung-karung semangka yang sejak tadi belum dipindahkan.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Doy, kalau semut bisa gotong semangka, mereka kuat banget, ya?”
“Semangkanya juga nggak segede karung.”
“Kalau mereka kerja sama?”
“Ya tetap aja lu yang disuruh Abah angkat karung.”
Belum sempat Lilis membalas, suara Abah terdengar dari arah rumah.
“Lilis! Odoy! Karungnya sudah dipindahkan belum?”
Keduanya saling pandang. Lilis merapikan pita rambutnya, sedangkan Odoy mendadak sibuk membersihkan remah semangka dari celana.
“Sebentar, Bah!” teriak Lilis.
“Sebentarnya dari tadi!”
Odoy turun lebih dulu. Kakinya menginjak kulit semangka yang tergeletak di dekat roda belakang. Ia terpeleset sedikit dan buru-buru berpegangan pada bak mobil. Lilis tertawa melihatnya, tetapi langsung berhenti ketika Abah muncul di samping pikap.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa, Bah,” jawab Odoy.
Abah memandang kulit semangka di tanah, lalu dua karung yang belum bergeser sedikit pun. “Kalau memang nggak apa-apa, ayo angkat.”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Mereka mengangkat karung pertama bersama-sama. Beratnya membuat langkah Lilis pendek-pendek, sementara Odoy terus mengingatkan agar ia tidak berjalan terlalu cepat. Baru beberapa meter, sandal Lilis tersangkut akar. Karung itu miring dan mereka hampir kehilangan keseimbangan.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Pelan-pelan, Lis!”
“Gua sudah pelan!”
“Kalau sudah pelan, kenapa miring?”
“Memangnya karung bisa jalan lurus sendiri?”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Odoy tak sempat membalas. Mereka harus menurunkan karung sebentar, membetulkan pegangan, lalu mengangkatnya lagi. Kali ini mereka berhasil sampai ke tempat penyimpanan tanpa berhenti. Setelah karung pertama diletakkan, Lilis mengibaskan tangan yang pegal.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Doy, besok kalau Abah nyuruh lagi, kita bilang aja semangkanya jangan banyak-banyak.”
“Bilang sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena yang ngomong lu.”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Karung kedua akhirnya ikut berpindah. Ketika pekerjaan selesai, matahari sudah condong ke balik pepohonan. Abah memeriksa hasil panen, sementara kedua bocah itu kembali ke pikap untuk mengambil barang-barang mereka. Si Ompong sudah tidur lagi di atas kabin, sama sekali tidak peduli pada sidang yang hampir membuatnya kehilangan waktu istirahat.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Lilis melongok ke bawah bak. Semangka yang jatuh tadi tinggal kulit dan sedikit daging merah. Semut-semut masih mengangkut remah-remah kecil ke arah lubang di dekat akar pohon.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Doy, besok semutnya datang lagi nggak?”
“Kalau ada makanan, datang.”
“Kalau nggak ada?”
“Ya pergi.”
Lilis terdiam sejenak, kemudian menunjuk semut yang sedang membawa serpihan kecil. “Enak, ya, jadi semut. Nggak pernah disuruh angkat karung.”
Odoy mengangkat topi jeraminya untuk menggaruk kepala. “Tapi kalau makanannya jatuh, mereka harus antre.”
“Kalau kita kasih semangka lagi besok?”
“Pakai uang siapa?”
“Uang Abah.”
Odoy menggeleng. “Lu kalau punya ide, kenapa selalu uang Abah?”
Lilis tertawa, lalu melompat turun dari bak. “Soalnya gua belum punya uang sendiri!”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Odoy menyusul sambil membawa topinya. Dari rumah, Abah memanggil mereka masuk. Kali ini keduanya segera berlari, meski Lilis masih sempat menoleh kepada semut-semut yang belum selesai mengangkut makanan mereka.(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

“Doy, besok kita lihat lagi, ya!”
“Lihat apaan?”
“Semutnya!”
“Kalau Abah nyuruh angkat karung lagi, lu lihat sendiri!”(Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

Lilis tertawa sambil berlari mendahuluinya. Odoy mengejar, sementara di bawah pohon Si Ompong membuka mata sebentar, mengamati mereka yang menjauh, kemudian kembali tidur. Pikap toska itu pun sepi lagi. Hanya ada noda air semangka di lantai bak dan sebutir biji yang terselip di sudutnya, luput dari perhatian siapa pun. [](Source: kosapoin.com/sidang-darurat-di-atas-pikap-toska)

CIPTA KONDISI
Baca Tulisan Lain

CIPTA KONDISI

Cahya Munggaran

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.43
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *