Indira Bunyamin memberikan tandatangan pada Poster Pameran bersama Mami Kartika Affandi, Retno Aris ( GM Gramm Hotel Ambarrukmo) dan Ratri Paramita (Direktur TMII) dok Foto JRK(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
YOGYAKARTA — Kehidupan seorang perempuan jarang sekali diizinkan berjalan sebagai sebuah garis yang utuh. Ia kerap kali dipaksa menjadi fragmen-fragmen: potongan waktu yang terbagi antara domestikasi, ambisi, tuntutan profesi, pengasuhan anak, hingga sunyinya ruang batin yang kerap diabaikan. Namun, pada Sabtu (3/10/2026) sore pukul 16.30 WIB di Gramm Hotel by Ambarrukmo, Yogyakarta, fragmen-fragmen yang berserakan itu dikumpulkan, dipeluk, dan dirayakan dengan begitu anggun. Pengusaha sekaligus perupa perempuan, Indira Bunyamin, resmi memproklamirkan kedaulatan batinnya lewat pameran tunggal perdana bertajuk “Fragments in Bloom”.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Ekshibisi yang dibuka resmi oleh Direktur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Mrs. Ratri Paramita, ini tidak sekadar menjadi etalase estetika visual. Lebih dari itu, pameran ini menjadi maklumat tentang bagaimana ruang rahim kreatif seorang perempuan mampu melahirkan kehidupan baru di atas kanvas.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Validasi atas daya pikat magis karya-karya ini langsung terbukti nyata: tujuh lukisan langsung terjual sesaat setelah pita peresmian dipotong. Pameran komunal yang intim ini akan terus mekar menyapa publik sepanjang 1–30 Oktober 2026.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Mendobrak Keraguan Diri, Mengklaim Agensi Diri(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Sebagai pemilik PT Rifani Tri Utama—sebuah perusahaan mekanikal dan elektrikal yang dibangunnya sejak 1994—Indira telah lama akrab dengan dunia yang maskulin, kaku, dan penuh hitungan logis. Ketika ia memutuskan memeluk kuas pada tahun 2022, ia tidak sedang mencari pelarian, melainkan sedang menjemput kembali agensi dirinya yang sempat terdistribusi pada banyak peran. Setelah melewati 30 pameran kelompok, berdiri sendiri di pamerannya yang ke-31 membawa sebuah getaran yang sangat manusiawi bagi seorang perempuan.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
“Ini pameran saya yang ke-31, tapi yang ke-30 itu ramai-ramai. Jadi ini baru pertama kali pameran sendirian; agak was-was, deg-degan, dan sedikit tidak percaya diri tadinya. Namun, ya sudah, dicoba.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Alhamdulillah berjalan lancar,” tutur Indira dengan kejujuran yang karismatik.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)

Di atas 14 kanvas yang dipamerkan, dengan bentangan ukuran hingga 1×2 meter, Indira menolak terjebak dalam validasi patriarkal tentang siapa yang layak disebut “maestro”.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
“Saya pameran tunggal ini bukan berarti saya merasa sudah hebat, tapi saya merayakan diri. Karena setiap karya itu adalah penggalan dari cerita-cerita pengalaman batin. Jadi itu cara saya mengekspresikan perasaan melalui karya. Saya merasa ya ini memproklamirkan keseriusan saya dalam melukis,” tegasnya, sebuah kalimat yang meruntuhkan keraguan diri (impostor syndrome) yang sering kali menghantui perempuan pencipta.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Tubuh Emosi dan Kosmologi Flora(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Penulis pameran, Merlin Sukmawati, dalam pembacaannya yang jeli melihat bagaimana latar belakang pendidikan psikologi Indira menjadi pisau analisis yang lembut untuk membedah lapis-lapis emosi manusia.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Perempuan, dalam sejarah estetika universal, sering kali hanya dijadikan objek lukisan (the gazed). Namun di tangan Indira, perempuan adalah subjek yang mengamati, merasakan, dan mengartikulasikan dunianya sendiri secara intuitif.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
“Latar belakang Indira dalam bidang psikologi memberikan kedekatan tertentu dengan dunia emosi dan pengalaman batin manusia. Namun, dalam praktik melukisnya, ia tidak berusaha menerjemahkan emosi melalui bentuk-bentuk yang sepenuhnya terdefinisi. Ia memilih untuk bekerja secara intuitif, membiarkan warna dan bentuk berkembang mengikuti suasana hati,” tulis Merlin.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Lewat karya seperti Sun Flower, Beautiful Blue, Needs a Little Red, Strong Mind, dan I Call You Rose, motif bunga tidak lagi hadir sebagai sekadar dekorasi pemenuh ruang yang manis. Bunga di tangan Indira adalah metafora radikal tentang pertumbuhan perempuan. Bunga-bunga itu tidak seragam; ada yang tegak menantang langit, ada yang meliuk mencari jalurnya sendiri, ada yang pekat, dan ada yang lembut.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Perbedaan bentuk ini menegaskan bahwa menjadi perempuan tidak memiliki satu cetakan baku.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Bahkan dalam karya yang lebih muram seperti Deep dan Luruh dalam Hening, Indira memuliakan fase “tidak sedang mekar” sebagai bagian dari siklus suci kehidupan. Ia memberikan ruang bagi rasa lelah, keraguan, dan keheningan untuk mengendap sebelum menjelma menjadi kekuatan baru. Sifat keterhubungan ini meluas hingga ke alam bebas dalam Kedai Kopi di Gunung Wangi, Jejak Lava Merapi, hingga simbolisme persaudaraan yang setara dalam Three Temple in One Frame.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Rahim Estetika: Kelembutan yang Mengandung Kekuatan(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
Kehadiran sosok Indira Bunyamin yang mampu menyeimbangkan peran sebagai ibu dari tiga anak, nakhoda perusahaan, dan kini sebagai perupa, menjadi sebuah inspirasi personal yang mendalam bagi perempuan lainnya. Direktur TMII, Mrs. Ratri Paramita, memandang guratan visual Indira sebagai manifestasi dari feminine energy yang utuh—lembut namun tidak rapuh.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
“Pertama, yang melukis adalah perempuan yang memang sudah memulai bukan ketika beliau kecil, tapi ketika sudah mempunyai usaha dengan segala kesibukannya, memiliki anak, tapi tetap melukis. Ini luar biasa menurut saya, lukisannya punya ciri khas sendiri: kekuatan wanita. Cintanya beliau ke rumah, ke bunga, ke hewan sekitarnya—itu bentuk cinta seorang wanita dan cinta seorang ibu. Jadi, lukisannya soft, lembut, tapi penuh kekuatan,” ungkap Ratri Paramita dengan nada penuh kekaguman.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
General Manager Gramm Hotel Ambarrukmo, Retno Aris, yang mengawal proses transisi artistik Indira sejak awal, menyadari betul bahwa keindahan yang dihadirkan di lobi dan restoran hotel melalui motif bunga dan lanskap alam ini adalah sebuah penawar bagi dunia yang riuh. “Beliau bisa menerjemahkan apa yang menjadi hatinya menjadi sebuah lukisan yang cantik-cantik… Kami butuh lukisan-lukisan yang kesannya indah, tidak serem, tidak menakutkan, dan bisa dinikmati semua kalangan,” ujarnya.(Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)
“Fragments in Bloom” pada akhirnya adalah sebuah manifesto puitis tentang hakikat menjadi. Ia mengingatkan kita bahwa proses bertumbuh seorang perempuan—maupun manusia seluruhnya—tidak pernah linear. Ada masanya mekar, ada masanya luruh, dan ada masanya untuk sekadar diam menimbun energi di dalam tanah. Melalui warna-warna cerah dan sapuan intuitifnya, Indira Bunyamin mengajak setiap mata yang memandang untuk berani menjumpai pecahan-pecahan jiwanya sendiri, memeluknya, dan membiarkannya mekar pada musimnya yang paling tepat.*) (Source: kosapoin.com/indira-bunyamin-dalam-fragments-in-bloom)

Strategi Nyoman Nuarta Menghadapi Publik
Negara: Poland (Pomerania)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








