Peresmian pameran dengan melukis bersama, dari kiri: Dwipo Hadi, Vievie Elisabeth, Robert Nasrullah, Mulyo Gunarso dan anaknya.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
YOGYAKARTA – Riuh rendah suara perkotaan seolah meredup saat melangkah masuk ke Green Art Space, Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta. Mulai Jumat (28/8/2026), dinding-dinding ruang pamer dialihfungsikan menjadi sebuah hamparan perenungan. Sebanyak 14 lukisan bertajuk “Suara Alam” resmi dipamerkan, mempertemukan dua perupa, Robert Nasrullah dan Mulyo Gunarso, dalam sebuah dialog visual yang intim tentang bumi, empati, dan ketulusan memberi.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Bagi pencinta seni, pameran yang digarap bersama Alur Art Community ini bukan sekadar pajangan estetis. Ini adalah ruang jeda untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan semesta yang mulai retak. Pameran ini mengundang publik secara gratis hingga 5 Oktober 2026 mendatang.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Sentuhan Jemari Lima Tahun dan Simbol Hangatnya Keluarga(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Dari tujuh karya yang diboyong oleh Mulyo Gunarso, ada sudut yang secara magnetis menarik perhatian. Dua kanvas di antaranya lahir dari sebuah kolaborasi tanpa sekat: perpaduan antara kematangan estetika Gunarso dan kejujuran goresan tangan anaknya yang baru berusia lima tahun. Dua karya bertajuk Monalisa dan Borobudur tersebut menjadi bukti bagaimana seni bisa melampaui sekat usia dan logika kaku orang dewasa.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Tidak jauh dari sana, Gunarso juga menghadirkan seri lukisan sarang burung. Lewat jalinan visual daun-daun kering yang dirajut menjadi tempat berlindung, ia menepis anggapan bahwa satwa tidak memiliki rasa. Sarang burung itu adalah simbol kepedulian, sebuah rumah yang menghangatkan keluarga, sekaligus ruang suci tempat generasi baru burung-burung melanjutkan kehidupan. Gunarso seolah menyindir halus kita manusia: jika burung saja begitu peduli pada rumahnya, bagaimana dengan kita?(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Filosofi Pohon Pisang dan Jeritan Lahan Gambut Kalimantan(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Jika Gunarso berbicara tentang kehangatan rumah, Robert Nasrullah membawa membawa kita berjalan lebih jauh ke tanah kelahirannya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Robert menggunakan kuasnya untuk menyuarakan apa yang selama ini dibungkam. Salah satu metafora yang ia bawa adalah pohon pisang.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)

“Seluruh bagian dari pisang—batangnya, daunnya, jantungnya, apalagi buahnya—semuanya bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia,” kisah Robert sembari menatap karyanya. Bagi Robert, pisang adalah guru sunyi yang mengajarkan manusia tentang arti sejati dari hidup yang bermanfaat.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Namun, “Suara Alam” bagi Robert tidak hanya berisi nyanyian harmoni, melainkan juga sebuah ratapan. Sebagai seniman yang tumbuh di Kalimantan Selatan, ia menyaksikan sendiri bagaimana paru-paru hijau itu perlahan berubah menjadi abu.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
“Suara alam ini juga adalah jeritan hutan yang terbakar,” ungkapnya lirih. Robert menceritakan ironi lahan gambut yang dari permukaan tampak tenang, namun menyimpan aliran panas mematikan di bawahnya—sebuah bom waktu yang dipicu oleh cuaca ekstrem dan diperparah oleh keserakahan industri sawit yang terus mengeksploitasi lahan. Lewat lukisannya, Robert berharap manusia yang dikaruniai perasaan ini bisa kembali menyayangi lingkungan, bukan menganggap alam sebagai pelengkap komoditas semata.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Penyadaran Sunyi di Ruang Berkelanjutan(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
Hadirnya pameran ini di Greenhost Boutique Hotel dirasa sangat organik. Dwipo Hadi, kurator sekaligus seniman yang mengelola Alur Agency, menangkap adanya resonansi kuat antara karya-karya yang dipamerkan dengan napas Greenhost yang konsisten menjaga ekosistem berkelanjutan.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
“Karya-karyanya menggunakan bahasa visual tentang alam lingkungan organik sebagai ungkapan cinta kasih terhadap semua makhluk. Ini bukan sebuah kritik yang menghakimi, melainkan sebuah proses penyadaran,” jelas Dwipo usai pembukaan pameran.
Sementara itu, Vivie Elizabeth selaku Corporate General Manager Ayom Group menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan Green Art Space sebagai wadah gratis yang mempertemukan seniman, komunitas lokal, dan masyarakat untuk berdialog dan memandang dunia lewat perspektif baru yang lebih hijau.(Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)
“Suara Alam” akhirnya menjadi sebuah undangan terbuka. Selama satu bulan ke depan, kita diajak berkaca pada kanvas-kanvas Robert dan Gunarso: apakah kita sudah cukup mendengar, atau justru menjadi bagian dari riuh yang menulikan jeritan bumi. *) (Source: kosapoin.com/pameran-lukisan-suara-alam-kalimantan-dan-ruang-suci-keluarga)

Arya Panjalu Intervensi Filosofi Sunda, dan Kegilaan Jaman
Negara: Poland (Pomerania)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown







