“Pretty Loud”: Ketika Bunga Mengklaim Bisa Membelah Beton

galeri cover fiks

Joelya Nurjanti di depan karyanya. dok. foto. Jajang R. Kawentar(Source: kosapoin.com/pretty-loud-ketika-bunga-mengklaim-bisa-membelah-beton)

Yogyakarta | Selamat datang di puncak tertinggi komodifikasi estetika borjuis. ViaVia Prawirotaman Jogjakarta malam minggu 22 Agustus 2026 mengklaim sebagai pusat semesta hanya karena sebuah resto turistik nekat menyulap dindingnya menjadi etalase subjek paling usang, malas, dan klise dalam sejarah peradaban nusantara: lukisan bunga. Benar-benar sebuah terobosan jet tempur yang agaknya berhasil melompati pencapaian estetik atas diri sendiri atau setidaknya, berhasil memanjakan mata para pencinta seni akhir pekan. Tiga puluh pajangan dinding—dua puluh empat di atas kanvas standar dan enam di atas potongan Acrylic Composite Panel sisa mega proyek apartement mewah, sukses membuat pengunjung melongo. Bukan karena takjub, melainkan karena syok sekujur tubuh akibat hantaman polusi visual dari kombinasi warna bold norak yang dipamerkan Joelya Nurjanti dalam tajuk megah “Pretty Loud”. Sebuah pekikan riang yang cukup “nakal” untuk melengkapi latar belakang foto estetik para pencari validasi digital.(Source: kosapoin.com/pretty-loud-ketika-bunga-mengklaim-bisa-membelah-beton)

Di balik kegaduhan visual tersebut, tersimpan proses kreatif yang sangat kosmopolitan, padahal sebenarnya menggelikan. Sang seniman, yang tampaknya nekad mencari relevansi antara realitas domestik dan obsesi dongeng kuno, mendadak mendapat pencerahan spiritual setelah mendengarkan playlist Bad Bunny dan Yuki Chiba di studionya. Sungguh lompatan logika yang luar biasa genius: musik trap murahan Puerto Riko dan hip-hop Jepang ternyata bisa menjadi formula mutakhir untuk melahirkan filosofi mendalam dari sekuntum lily dan tulip. Puncak komedinya ada pada elemen bintik-bintik (dot-dot) di sekitar kelopak yang dengan penuh percaya diri diklaim sebagai “simbol udara”. Sebuah pembenaran tekstual yang sangat menyelamatkan intelektual; karena tanpa narasi muluk tersebut, penonton skeptis tahu bahwa bintik-bintik itu tak lebih dari sekadar teknik profesional penutup ruang kosong atau kecelakaan salah ciprat cat akibat kuas yang terlalu basah.(Source: kosapoin.com/pretty-loud-ketika-bunga-mengklaim-bisa-membelah-beton)

galeri 2
suasana pameran. dok. foto Jajang R. Kawentar

Orkestra situasi ini semakin lengkap berkat kontribusi ulasan dari penulis pameran, Arsita Pinandita, yang dramatisasinya di tahap mengkhawatirkan. Bunga-bunga artifisial ini secara hiperbolis digambarkan sebagai flora dari planet lain yang sedang melakukan agitasi militan demi merebut “ruang hidup”. Sungguh sebuah “perjuangan berdarah-darah” yang sangat mengharukan untuk ukuran lukisan manis manja yang nangkring statis di ruangan wangi aroma piza dan kopi susu mahal. Kita dipaksa menelan mentah-mentah dogma senja bahwa kelembutan kelopak kosmetik ini adalah simbol perlawanan anti-tunduk. Lengkap dengan metafora dongeng tentang akar bunga yang bisa menghancurkan beton keras kepala. Narasi kreatif yang sangat menghibur untuk menghipnotis kelas menengah urban agar melupakan kenyataan pahit: di dunia nyata, beton Prawirotaman hanya bisa hancur oleh mesin eskavator atau bor pekerja proyek, tentu saja bukan oleh delusi sekelompok bunga daisy.(Source: kosapoin.com/pretty-loud-ketika-bunga-mengklaim-bisa-membelah-beton)

Sandiwara seni akhirnya ditutup dengan stempel validasi dari Direktur IFI Yogyakarta, Margaux Nemmouchi, yang tampaknya sungguh terharu, sepertinya demi tuntutan diplomasi budaya. Ia memuji “kegaduhan estetis” dari tanaman-tanaman egois yang katanya menuntut hak hidup bebas tanpa perlu dipahami penonton. Tentu saja bunga-bunga ini tidak perlu memikul beban moral untuk menghentikan pembalakan dan pembakaran hutan atau perang global apalagi menyembuhkan penyakit sosial peradaban. Tugas suci mereka jauh lebih pragmatis dan kapitalis: nangkring manis di dinding hingga 22 September nanti, berteriak syahdu memanggil dompet para kolektor berdedikasi yang siap menawar harga tinggi untuk selembar kanvas bertinta penuh “udara kosmik” tersebut. Kehidupan memang keras kepala, namun untungnya, dompet kaum elit yang haus status sosial jauh lebih keras kepala lagi.*)(Source: kosapoin.com/pretty-loud-ketika-bunga-mengklaim-bisa-membelah-beton)

Jajang R. kawentar

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.124
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *