Gedung Rektorat ISI Yogyakarta. dok. Foto Jajang R. Kawentar(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
YOGYAKARTA — Instagram di siang yang terik itu tidak sedang memamerkan estetika lukisan impresionis atau kurasi patung kontemporer. Di balik layar digital yang bercahaya, sebuah unggahan resmi bertanggal 21 September 2026 mendadak viral, memuntahkan deretan kalimat birokrasi yang rapi, dingin, dan penuh eufemisme. Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sedang menggunakan hak retorikanya untuk mengabarkan sesuatu yang paling purba dari sejarah kekuasaan: seorang dosen terduga pelaku kekerasan seksual resmi dinonaktifkan.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Surat digital itu disusun dengan ketukan frasa yang nyaris puitis untuk sebuah ruang sidang etika. “Segala bentuk kekerasan tidak dapat ditoleransi. Setiap warga kampus berhak memperoleh ruang belajar yang aman, bermartabat, serta terbebas dari penyalahgunaan relasi kuasa,” tulis kalimat humas yang dijabat oleh Daru Tunggul Aji. Kampus menegaskan, tidak ada marwah atau reputasi lembaga yang boleh menghalangi keadilan.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Namun, di bawah kolom komentar, estetika bahasa formal itu runtuh seketika. Estetika yang dibangun di atas kertas rupanya berbanding terbalik dengan bau anyir trauma yang mengendap di ruang-ruang kelas.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Salam Packing Formalitas bernama Surat Peringatan
Bagi @elfarabeninaalphynakhimsi, seorang mahasiswi, rilis humas itu tak ubahnya sebuah instalasi seni konseptual yang menipu mata publik. Di sana, ia menuliskan catatan kaki yang getir atas janji perlindungan kampus. Laporannya yang diajukan sejak Juni atau Juli 2026 menguap begitu saja ke dalam laci-laci birokrasi Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT).(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
“Saya sempat lapor jurusan dan hanya mendapat surat peringatan. Saya rasa kurang cocok teguran seperti itu. Apakah bisa karakter seseorang yang seintens dan semelekat itu dengan dirinya bisa berubah hanya sebatas lembaran kertas?” tulisnya, sebuah sarkasme roman picisan menusuk langsung ke jantung kebijakan kampus.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Ia membeberkan kepalsuan tameng institusi dengan tajam: “Terbukti sistem perlindungan dari Satgas tersebut sebenarnya hanya formalitas di hadapan media saja dan tidak benar-benar melindungi.”(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Baginya dan korban lainnya, sang dosen laksana predator yang bekerja dengan presisi waktu yang panjang. Menyalahgunakan jabatan, memaksa bertemu, lalu melontarkan gestur flirty yang konsisten. Ketika satu tubuh mahasiswi berhasil meloloskan diri dan menjauh, sang pendidik akan berburu mangsa baru di angkatan bawahnya. Kekerasan verbal tanpa kontak fisik ini adalah teror tak kasatmata yang mematikan ruang akademik, memaksa para mahasiswi menarik diri ke sudut-sudut paling sunyi karena ketakutan setengah mati jika harus berpapasan dengan sang “guru”.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Nostalgia Gampingan dan ‘Gula-Gula’ Aparatur Negara
Dari luar dinding institusi, sebuah suara dari masa lalu datang membawa badai otokritik. Satya Bramantya, Ketua Senat Mahasiswa ISI Yogyakarta periode 1995–1997, memandang rilis viral tersebut dengan tawa getir. Ia mengingat masa-masanya ketika kampus masih berdenyut di Gampingan—sebuah era di mana kebebasan seni tidak ditukar dengan harga diri perempuan.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)

“Kalau aku sih yang paling penting sebenarnya, penyakit ini harus segera diamputasi. Aku sekolah di ISI itu masih di Gampingan. Di Gampingan itu mungkin kalau taraf nakalnya kelihatannya kok gak main-main, kenakalan kita mungkin udah mentok. Tapi aku kok belum pernah denger ya cerita tentang kekerasan seksual yang dilakukan memakai relasi kuasa,” kenang Bramantya.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Bramantya menangkap ada sesuatu yang rusak secara kultural setelah era pandemi. Kata “kebebasan” di kampus seni telah mengalami dislokasi makna yang kotor dan anyir. Berdasarkan aduan 4 hingga 5 korban yang menemuinya, ia mendapati kenyataan mengerikan bahwa tindakan pelecehan kini dibungkus dengan dalih kebebasan berekspresi.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
“Tahun kedua kemarin saya sempat ketemu beberapa orang, ada dosen, ada mahasiswa. Mereka langsung ngomong, ‘Ya kan kalau sekolah di ISI kayak gini Mas, sekolah di seni itu ya bebas kayak gini.’ Pada saat aku denger kata-kata bebas itu kok aneh? Kebebasan tahun ’90-an juga lebih, tapi tidak terjadi. Ini udah bener-bener memang secara kultural di dalam ISI itu ada kayak pembiaran dan akhirnya menjadi semacam kultur yang diamini,” cecar Bramantya dengan nada sarkas yang tengil.
Bramantya juga menelanjangi keputusan kampus yang bangga memamerkan status “penonaktifan” dosen terduga pelaku. Mengingat status pelaku sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), langkah kampus dianggapnya hanyalah taktik kosmetik untuk meredam kemarahan publik sementara waktu.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
“Dinonaktifkan itu hanya kayak gula-gula aja itu. Kayak gula-gula untuk meredam gejolak, tapi ini konyol! Sistem yang ada di dalam ini maunya seperti apa? Kalau atas nama menjaga marwah kampus ISI, saya melihat ini lebih konyol lagi. Gila lagi pada saat mengorbankan para korbannya, seolah melindungi korban tapi juga sekaligus melindungi pelakunya. Target utamanya, harusnya ya masuk penjara,” tegasnya. Dia sudah menyiapkan tim pengacara, sebagai bentuk keseriusan dan kepeduliannya terhadap peristiwa ini. (Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Menggugat Logika Kepala yang Mesum
Hal yang paling menyulut Bramantya adalah kecenderungan para pengambil kebijakan yang kerap melempar kesalahan pada estetika berpakaian para korban. Sebuah logika kuno yang menolak mati di sebuah lembaga yang katanya modern. “Kalau umpamanya sempat ngobrol sama beberapa dosen dan beberapa orang yang ada di pengampu kebijakan, yang disalahkan bahwa sekarang anak-anak mahasiswi itu dandanan seksi. Itu lebih konyol lagi menurut saya.(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Masalah itu di kepalanya mereka, di kepala-kepala pelaku gitu, jangan disalahkan ke korbannya!” ketus Bramantya. Ia menambahkan bahwa para korban kini menghadapi tembok besar berlabel “himbauan terselubung” dari oknum tertentu agar tidak mengungkit kasus masa lalu demi menjaga nama baik Institusi. (Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Pada akhirnya, ISI Yogyakarta kini tengah memamerkan karya seni terbesarnya di ruang publik: sebuah tragedi relasi kuasa yang dibingkai oleh rilis Instagram yang romantik-formalistik, sementara di dalam koridor-koridor kampusnya, keadilan masih menjadi barang abstrak yang digambar dengan ketakutan. Jika lembaran kertas surat peringatan dan status nonaktif diposisikan sebagai batas akhir, maka institusi ini sedang meracik candu pembiaran yang kelak akan menghancurkan kanvasnya sendiri.*) Jajang R Kawentar(Source: kosapoin.com/menelanjangi-birokrasi-penanganan-kekerasan-seksual-di-isi-yogyakarta)
Negara: Indonesia (Central Java)
Device: Mobile
OS: Linux, Browser: Chrome









