Ada percakapan yang baru kita pahami setelah percakapan itu selesai. Ketika berhadapan dengan seseorang, kita sering sibuk mencari jawaban yang tepat, seolah-olah setiap cerita harus segera diberi tanggapan. Kita lupa bahwa orang yang sedang berbicara mungkin belum membutuhkan jawaban. Ia mungkin hanya sedang berusaha menyelesaikan ceritanya sendiri. Saya pernah mengalaminya. Seorang teman bercerita tentang sesuatu yang membuatnya kecewa. Saya mendengarkan, sesekali menanggapi, bahkan sempat merasa telah mengatakan hal yang diperlukan. Dalam perjalanan pulang, justru satu kalimat pendek yang hampir tidak saya tanggapi terus teringat. Semakin lama saya memikirkannya, semakin terasa bahwa kalimat itulah yang paling penting. Saya terlalu cepat mengerti, padahal ia belum selesai bercerita.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Sejak saat itu saya mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya mudah terlewat. Ada orang yang tertawa ketika sedang menceritakan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan. Ada yang mengatakan “tidak apa-apa” sambil mengalihkan pembicaraan. Ada yang membutuhkan waktu lama sebelum mengatakan apa yang sebenarnya ingin disampaikannya. Saya mulai menyadari bahwa cara seseorang berbicara tidak pernah berdiri sendiri; ada kebiasaan, lingkungan, dan pengalaman yang ikut membentuk cara ia menyampaikan sesuatu. Dari sana saya mulai melihat kebudayaan dengan cara yang berbeda. Kita lebih mudah mengenal kebudayaan melalui sesuatu yang dapat dilihat dan diwariskan: bahasa, pakaian, makanan, kesenian, rumah, upacara, atau cerita. Tetapi ada kebudayaan yang tidak dipajang dan tidak membutuhkan panggung. Ia ada dalam cara seseorang menyapa orang yang lebih tua, mempersilakan tamu duduk, meminta maaf, menolak sesuatu dengan halus, atau memilih kata ketika sedang tidak setuju.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Saya pernah makan bersama beberapa orang yang tumbuh dari kebiasaan yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang membicarakan kebudayaan malam itu. Kami hanya duduk mengelilingi meja, mengambil makanan, berbicara tentang hal-hal biasa, lalu tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Tetapi dari cara mereka menunggu orang lain mengambil makanan lebih dahulu dan dari cara suara diturunkan ketika pembicaraan mulai menyentuh sesuatu yang sensitif, saya melihat bahwa kebudayaan hidup dalam kebiasaan yang nyaris tidak kita pikirkan. Ia tidak perlu diumumkan untuk terasa.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Baru kemudian saya memahami bahwa satu kata dapat mempunyai arti yang berbeda bagi dua orang. Bukan karena katanya berubah, melainkan karena masing-masing mendengarnya dari pengalaman yang berbeda. Kata yang bagi seseorang terdengar biasa, bagi orang lain bisa menyentuh kenangan yang membuatnya berhenti sejenak sebelum menjawab. Saya pernah mengira bahwa perbedaan akan lebih mudah selesai jika masing-masing pihak menjelaskan dirinya dengan cukup baik. Ternyata tidak selalu begitu. Ada percakapan yang justru semakin panjang karena kedua orang di dalamnya sama-sama ingin dipahami. Masing-masing menambahkan alasan, memberi contoh, mengulang maksud, lalu tanpa sadar mulai mempertahankan dirinya sendiri. Saya pernah berada di posisi itu. Setelah percakapan selesai, tidak ada yang merasa lebih dekat. Kami hanya sama-sama lelah.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Sejak itu saya belajar memberi sedikit waktu sebelum menjawab. Ketika sebuah pesan membuat saya tersinggung, saya tidak selalu langsung membalasnya. Ketika mendengar pendapat yang tidak saya setujui, saya mencoba membiarkan orang lain menyelesaikan kalimatnya. Jeda kecil itu tidak membuat saya selalu menjadi lebih bijaksana. Kadang-kadang saya tetap salah memahami. Tetapi setidaknya saya mempunyai kesempatan untuk membedakan antara sesuatu yang memang perlu dibicarakan dan sesuatu yang hanya terasa mendesak karena emosi sedang mengambil alih.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Di situ saya mulai memahami bahwa kedamaian, bagi saya, kadang bukan soal menemukan kata yang paling benar. Ada kalanya cukup mengetahui bahwa sebuah perbedaan tidak harus membuat dua orang saling merendahkan. Kita boleh tetap berdiri pada apa yang kita yakini, sementara orang lain mempunyai ruang untuk berdiri dengan keyakinannya sendiri. Kedekatan pun membutuhkan sedikit ruang. Kita tidak harus mengetahui seluruh kehidupan seseorang hanya karena kita merasa dekat dengannya. Ada bagian yang memang ingin dibagikan, ada yang belum siap diceritakan, dan ada pula yang mungkin selamanya menjadi miliknya sendiri. Saya mulai melihat bahwa menghormati batas semacam itu tidak selalu membuat hubungan menjadi dingin. Justru dari sana saya merasa kedekatan tidak harus membuat seseorang kehilangan dirinya.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Saya mulai merasa bahwa percakapan yang baik tidak selalu membuat dua orang membawa pulang pikiran yang sama. Kadang-kadang yang tersisa setelah percakapan hanyalah kesadaran bahwa masing-masing telah mengatakan apa yang perlu dikatakannya, tanpa merasa harus memenangkan yang lain. Jika setelah itu mereka masih dapat saling menyapa seperti biasa, percakapan tersebut telah melakukan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mencapai kesepakatan.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Mungkin itulah seni menjaga jarak: mengetahui kapan harus mendekat, kapan harus mendengarkan, dan kapan tidak perlu masuk lebih jauh ke dalam kehidupan seseorang. Jarak semacam itu bukan tanda bahwa hubungan harus menjadi renggang. Ia hanya mengingatkan bahwa setiap orang tetap mempunyai bagian dari dirinya yang tidak harus kita miliki. Sejak itu, ketika seseorang selesai bercerita, saya tidak selalu buru-buru menjawab. Kadang saya hanya membiarkan beberapa detik lewat. Tidak banyak yang berubah dalam waktu sesingkat itu. Tetapi sering kali, justru di sanalah saya akhirnya mendengar.(Source: kosapoin.com/seni-menjaga-jarak)
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Desktop
OS: Windows, Browser: Chrome





