UTANG YANG TIDAK PERNAH DIPINJAM

utang yang tidak pernah dipinjam

Waktu itu ia sedang kesulitan. Pekerjaan datang bersamaan, sementara beberapa urusan lain belum selesai. Temannya datang, melihat meja yang penuh, lalu ikut membereskan. Sebagian pekerjaan bahkan dibawanya pulang. Besoknya sudah selesai. Ketika ia mengucapkan terima kasih, temannya hanya tertawa. “Sudahlah.” Seperti memang tidak ada apa-apa.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Beberapa waktu kemudian, temannya meminta ditemani. Tidak lama, katanya. Hanya sebentar. Ia sebenarnya ingin pulang karena hari sudah sore, tetapi teringat bantuan waktu itu. Akhirnya ia ikut. Urusan selesai menjelang malam. Mereka makan sebelum pulang dan tidak membicarakannya lagi. Ia mengira memang begitulah hubungan mereka berjalan: kalau sedang bisa, saling membantu.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Sesudah itu ada beberapa kali hal semacam itu. Kadang mengantar, kadang membantu pekerjaan, kadang membayarkan sesuatu lebih dahulu. Tidak pernah ada pembicaraan tentang balasan. Justru karena tidak pernah dibicarakan, semuanya terasa biasa. Ia pun tidak pernah berpikir bahwa kebaikan-kebaikan kecil itu sedang disimpan di suatu tempat yang tidak ia ketahui.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Sampai suatu hari ia diminta datang ketika sedang benar-benar tidak bisa. “Besok saja, ya. Hari ini saya ada urusan.” Temannya diam sebentar. “Ya, sudah.” Mereka masih sempat membicarakan hal lain sebelum percakapan selesai. Tetapi setelah telepon ditutup, ia teringat pada beberapa hal yang pernah dilakukan temannya. Bukan karena ia merasa bersalah. Hanya saja, entah mengapa, kalimat pendek tadi membuat bantuan-bantuan lama muncul satu per satu.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Beberapa hari kemudian pesan yang biasanya segera mendapat jawaban dibiarkan lebih lama. Ketika akhirnya dibalas, jawabannya pendek. Ia tidak terlalu memikirkannya. Mungkin memang sedang sibuk.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Pada kesempatan lain, ia kembali mengatakan tidak bisa membantu. Kali ini temannya tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, barulah kalimat itu muncul. “Padahal dulu waktu kamu perlu, saya ada.”(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat itu tidak salah. Waktu itu ia memang membutuhkan bantuan dan temannya datang. Ia masih mengingatnya dengan baik. Yang membuatnya tidak nyaman adalah sesuatu yang lain: sejak kapan pertolongan yang diberikan dengan cuma-cuma berubah menjadi alasan untuk meminta sesuatu kembali?(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Pertanyaan itu ia bawa pulang. Besoknya, ketika sedang bekerja, ia kembali memikirkan semua yang pernah terjadi. Ada tumpangan yang pernah diberikan, pekerjaan yang pernah dibereskan, uang yang pernah dibayarkan lebih dahulu, ada waktu yang pernah diluangkan ketika ia sedang membutuhkan. Semua itu tidak pernah terasa seperti utang sebelumnya. Tetapi setelah kalimat kemarin, semuanya seperti berdiri di tempat yang berbeda.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Akhirnya ia menerima permintaan berikutnya meskipun sebenarnya sedang tidak ingin. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa tidak ada salahnya membantu. Toh, orang itu pernah membantunya.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Sejak itu, setiap kali temannya meminta sesuatu, ia mulai berhenti lebih lama sebelum menjawab. Bukan jumlah uangnya yang ia pikirkan, bukan pula berapa kali ia pernah dibantu. Yang muncul hanya rasa tidak enak, seolah-olah mengatakan tidak akan membuatnya menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih. Setelah satu permintaan dipenuhi, permintaan berikutnya datang dengan perasaan yang sama.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Suatu malam datang lagi sebuah pekerjaan yang sebenarnya bukan urusannya. Ia hampir langsung menjawab iya, lalu berhenti. Malam itu ia membuka percakapan-percakapan lama dan membacanya pelan-pelan. Tidak ada pembicaraan bahwa bantuan dulu harus dibalas dengan kesediaan untuk selalu membantu. Tidak pernah ada janji. Ia bahkan tidak pernah merasa sedang membuat perjanjian ketika menerima semua pertolongan itu. Yang ia temukan hanya kebaikan. Dan justru di situ ia merasa semakin sulit mengatakan tidak.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Pesan itu dibiarkannya sampai pagi. Ketika akhirnya membalas, ia tidak membuat alasan panjang. Ia hanya mengatakan bahwa kali ini ia tidak bisa. Jawabannya datang beberapa menit kemudian. “Sekarang sudah berubah, ya.”(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Ia membaca kalimat itu dua kali. Dulu mungkin ia akan menjelaskan panjang lebar. Kali ini tidak. Ia meletakkan telepon dan kembali mengerjakan pekerjaannya.(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Hubungan mereka tidak langsung putus. Mereka masih bertemu, masih berbicara. Hanya saja, sejak itu ia mulai melihat pertolongan-pertolongan lama dengan cara yang berbeda. Ia tetap mengingatnya sebagai kebaikan. Hanya saja kebaikan itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dibayar setiap kali sebuah permintaan datang. Dan ketika ingin mengatakan tidak, ia tidak lagi sibuk menghitung apa yang pernah diterimanya. [](Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)

Anita Salma

(Source: kosapoin.com/utang-yang-tidak-pernah-dipinjam)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *