Beberapa hari lalu, saya mencoba melewati satu hari, sejak pagi sampai sore, tanpa menyentuh telepon genggam, membuka laptop, atau mendengarkan musik dan podcast ketika berjalan. Saya tidak sedang mengikuti tantangan apa pun. Saya hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjalani hari tanpa kebiasaan yang selama ini menyelip di antara kegiatan sehari-hari. Ketika menunggu, tangan biasanya mencari telepon. Saat berjalan, ada suara dari earphone. Seusai mengerjakan sesuatu, saya kerap membuka layar sebelum beralih ke pekerjaan berikutnya. Semua berlangsung begitu saja, sampai saya mencoba berhenti melakukannya. Ternyata, meletakkan telepon di dalam laci jauh lebih mudah daripada menghentikan keinginan untuk mengambilnya kembali.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Pada jam-jam pertama, jari tangan kanan terasa gatal ingin bergerak. Beberapa kali saya seperti merasakan telepon bergetar di saku celana, padahal benda itu mati dan tersimpan di laci meja. Sensasinya cukup meyakinkan sampai saya teringat bahwa tidak ada telepon di saku. Saya sempat geli sendiri. Tidak ada pesan yang sedang saya tunggu, tidak ada urusan mendesak yang perlu diperiksa, tetapi tangan seperti tetap mencari pekerjaan. Selama ini, saya bisa mengambil telepon, membuka layar, lalu berpindah dari satu hal ke hal lain tanpa benar-benar tahu apa yang mula-mula ingin dicari.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Kepala pun tidak langsung tenang. Ketika tidak ada musik, video, atau percakapan yang menemani, potongan informasi dari hari-hari sebelumnya justru bermunculan. Ada video pendek yang pernah saya tonton, judul berita sensasional, sampai komentar warganet tentang persoalan yang sekarang bahkan sudah tidak begitu saya ingat. Semuanya datang sepotong-sepotong, seperti suara dari beberapa ruangan yang terdengar bersamaan. Saya tidak sengaja mengingatnya. Barangkali selama ini perhatian saya terlalu cepat berpindah sehingga tidak sempat menyadari apa yang tertinggal setelah sebuah tayangan selesai. Pagi itu, ketika tidak ada hal baru untuk dilihat, sisa-sisa tersebut malah terasa ramai.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Menjelang siang, saya mulai bosan. Saya duduk memandangi tembok kamar. Tidak ada yang menarik di sana; permukaannya sudah saya lihat berkali-kali. Saya juga tidak sedang mencari inspirasi. Saya hanya tidak tahu hendak melakukan apa. Biasanya, kebosanan seperti itu tidak bertahan lama karena selalu ada sesuatu yang bisa dibuka. Kali ini, saya membiarkannya berlangsung. Sesekali tangan masih ingin meraih telepon, dan saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa benda itu memang sengaja saya tinggalkan di laci.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Memasuki jam ketiga atau keempat, kepala terasa lebih lengang. Saya baru menyadarinya setelah beberapa lama duduk tanpa kegiatan. Lalu, entah bagaimana, muncul sebuah ide tulisan yang sudah berbulan-bulan terasa macet. Saya pernah memikirkannya berkali-kali, tetapi selalu berhenti di bagian yang sama. Kali itu, beberapa gagasan yang sebelumnya terasa berjauhan mendadak seperti menemukan hubungannya. Saya tidak sedang membaca pendapat orang lain atau mencari bahan tambahan. Saya bahkan tidak sedang berusaha memikirkan tulisan tersebut. Saya hanya duduk memandangi tembok karena bosan. Saya tersenyum sendiri membayangkan betapa seringnya saya sengaja mencari jalan keluar, sementara kali itu sebuah jalan kecil justru terlihat ketika saya sedang tidak mencarinya.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Saya tidak tahu apakah kepala yang mulai tenang membuat ide itu muncul atau apakah keduanya hanya kebetulan terjadi berdekatan. Sehari tanpa perangkat digital tentu tidak cukup untuk menjelaskan cara kerja pikiran. Saya juga tidak ingin menganggap kebosanan sebagai jalan pintas menuju kreativitas. Ada banyak hal yang bisa membuat sebuah gagasan muncul, termasuk pengalaman dan bacaan yang telah lama tersimpan. Hanya saja, kejadian itu membuat saya teringat pada kebiasaan sendiri: bahkan ketika tidak sedang bekerja, saya sering merasa perlu mengisi waktu dengan sesuatu. Ada yang bisa dibaca, ditonton, didengar, atau diperiksa. Waktu kosong seperti lekas meminta alasan agar tidak terasa kosong.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Saya tetap membutuhkan telepon. Banyak pekerjaan menjadi lebih mudah, komunikasi berlangsung lebih cepat, dan informasi yang dulu sulit dijangkau kini bisa ditemukan dalam beberapa sentuhan. Saya menikmati manfaatnya dan tidak berniat menjauh dari semua itu. Akan tetapi, saya mulai memperhatikan perbedaan kecil yang sebelumnya kerap luput: mengambil telepon karena ada keperluan tidak selalu sama dengan mengambilnya karena tangan telanjur terbiasa. Dari luar, kedua tindakan itu tampak serupa. Saya membuka layar, melihat-lihat, lalu menutupnya. Bedanya baru terasa ketika saya berhenti sejenak dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya hendak saya lakukan.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Sejak hari itu, kebiasaan saya tidak berubah secara drastis. Saya masih menggunakan telepon untuk bekerja, masih mendengarkan musik ketika berjalan, dan masih bisa menggulir layar lebih lama daripada yang saya rencanakan. Kadang saya tetap membukanya tanpa alasan yang jelas. Pada kesempatan lain, saya meletakkannya kembali. Saya belum selalu berhasil mengenali perbedaan antara kebutuhan dan kebiasaan, tetapi setidaknya sekarang saya lebih sering menyadari saat tangan bergerak sebelum pikiran sempat memutuskan.(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Saya masih teringat pada tembok kamar itu. Bukan karena tembok tersebut menyimpan jawaban, apalagi karena hari tanpa layar telah mengubah hidup saya. Barangkali jika saya mengulang percobaan yang sama, saya hanya akan merasa bosan selama beberapa jam. Ide tulisan itu bisa saja tidak datang. Tidak apa-apa. Yang saya ingat justru saat duduk di sana, ketika tidak ada hal baru yang masuk dan saya tidak segera mencari sesuatu untuk menggantikannya. Di luar kamar, berbagai kabar dan percakapan terus bergerak. Telepon saya tetap berada di dalam laci. Untuk beberapa jam, saya membiarkan dunia berjalan tanpa harus mengikuti setiap geraknya. [](Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)

JARAK DI ANTARA DUA KALIMAT
(Source: kosapoin.com/sehari-membiarkan-kepala-sepi)
Negara: United States (California)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown







