Beranda Arus Bawah

BERANDA ARUS BAWAH

Lampu layar Info GTK itu menyala kuning. Warna puyar yang di kantor dinas diterjemahkan sebagai lampu oranye di perlintasan kereta: bersiaplah berhenti, atau babat alas dan ditabrak gulungan utang.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Nirna merapikan tumpukan kertas format analisis butir soal di meja kerjanya yang berbau triplek tua dan debu kapur. Di luar jendela, gerimis bulan tua menimpa seng parkiran motor. Di dompetnya, sisa uang tunai tidak cukup untuk menebus satu liter beras kualitas sedang. Gaji pokoknya sudah habis dibabat cicilan koperasi untuk renovasi dapur, sementara tunjangan profesi—yang diandalkan untuk melunasi cicilan semester Dika—tersangkut di operator kabupaten karena jam mengajar lintas sekolahnya kurang dua SKS.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Di dalam bus kota yang bau solar dan bangku kulitnya mengelupas, Nirna tidak menangis. Ia hanya menghitung di kepala: jika cicilan dibayar separuh, pihak bank akan menelepon dengan nada suara paling sabar yang bernada ancaman. Jika tidak dibayar, riwayat kreditnya di sistem BI checking akan berubah menjadi merah.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Rumah menyambutnya dengan bau kopi dingin. Pran, suaminya, duduk di kursi rotan dengan pandangan kosong menatap lantai keramik yang retak satu garis. Di atas meja, amplop putih berlogo perusahaan tempat Pran bekerja selama dua belas tahun tergeletak begitu saja.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan piring. Pran hanya mendorong amplop itu dengan ujung jarinya: “Pabrik merampingkan struktur, Nir,” suara Pran serak, seperti amplas yang digesekkan ke kayu kering. “Aku di rumah mulai besok.”(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Nirna menarik napas dalam-dalam, menahan agar rongga dadanya tidak runtuh. Di luar jendela, malam turun dengan kepatuhan yang mengerikan.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Pukul dua pagi, saat rumah telah jatuh dalam sunyi yang pekat, Nirna membuka laptopnya kembali. Ia menyelesaikan unggahan dokumen “Aksi Nyata” di PMM. Ia mengejar hijau di layar indikator BKN. Jari-jarinya menari di atas kibor yang huruf N-nya sudah aus, sementara di luar, jangkrik-jangkrik got berderik tanpa ampun.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Menjelang subuh, ia menutup laptopnya rapat-rapat. Ia membentangkan sajadah di sudut kamar, merendahkan kepala dalam diam yang panjang—bukan untuk mengeluhkan sistem yang rumit, melainkan untuk merakit kembali pecahan tenaga di dadanya agar esok hari pundaknya tidak patah.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Keesokan harinya di sekolah, Nirna menghadap operator Dapodik.
“Pak, bagaimana dengan jam mengajar saya? Apakah sudah linear?”
“Masalahnya ada di jadwal kelas sosiologi yang bentrok dengan sekolah induk lain, Bu. Sistem menolak validasi,” jawab operator, matanya tidak lepas dari layar monitor yang penuh kode jenuh.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Nirna menghela napas. Namun, di hadapan tiga puluh lima anak remaja di kelasnya beberapa menit kemudian, ia menghapus lingkar hitam di bawah matanya dengan senyum paling terang yang ia miliki. Ia tidak menceritakan surat PHK suaminya. Ia adalah guru yang utuh: sabar, bertenaga, dan hadir tanpa sisa cela.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Sore harinya, strategi bertahan hidup dimulai tanpa ratapan. Nirna dan Pran duduk di meja dapur. Tidak ada lagi gengsi kepala bagian atau wibawa guru sertifikasi. Pran menyalakan kembali motor bebek tuanya, membawa kotak-kotak donat bikinan tetangga untuk dititipkan ke kantin-kantin sekolah menengah. Nirna bangun pukul tiga pagi, membantu menggoreng adonan di atas kompor minyak yang sumbunya mulai aus.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Tiga minggu kemudian, pada suatu petang ketika hujan mereda meninggalkan genangan di halaman paving, layar Info GTK di laptop Nirna berkedip. Warna kuning puyar itu mendadak berubah menjadi hijau terang: Sudah Valid (Menunggu Penerbitan SP2D).(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Bersamaan dengan bunyi dengung pesan masuk di ponselnya, Dika mengirim tangkapan layar transkrip nilai semester dengan IP nyaris sempurna, dan si kembar pulang membawa piala juara lomba esai tingkat provinsi.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Nirna berdiri di ambang pintu dapur. Ia melihat punggung suaminya yang membungkuk saat mencuci wajan bekas penggorengan donat, dan di ruang tengah, anak-anaknya tertawa kecil memperebutkan lembar soal ujian lama.(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Ia mematikan layar laptopnya. Di luar, malam membentang tanpa janji apa-apa, dan pundaknya, sekali lagi, siap menyambut matahari esok pagi. [](Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)

Eneng Sri Supriatin M.Pd

(Source: kosapoin.com/beranda-arus-bawah)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *