Malam itu, Aminah terbangun oleh suara benda jatuh dari kamar Ningsih.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
“Ningsih?”
Tidak ada jawaban.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Aminah bangkit dari tikar dan berjalan tergesa menuju kamar putrinya. Dari balik pintu terdengar napas tersengal, disusul suara seperti orang sedang menahan tangis.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
“Ningsih?”
Aminah membuka pintu.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Tubuh Ningsih tergeletak di lantai. Kedua tangannya kaku. Matanya terbuka, tetapi pandangannya seperti menembus dinding. Bercak-bercak kebiruan tampak di leher dan lengannya, padahal sebelumnya tidak ada.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
“Ningsih!” Teriakan Aminah membangunkan Herman. Lelaki itu berlari dari ruang depan.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
“Kenapa, Bu?”
“Ayah…” Ningsih bergumam. “Panggil Ayah…”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Herman mengangkat tubuh putrinya. Tubuh itu terasa berat dan lemas dalam pelukannya. “Baca istigfar, Nak. Pelan-pelan.” Namun Ningsih tiba-tiba menjerit. Jeritan itu membuat rumah berdinding papan tersebut seolah ikut bergetar.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Sejak malam itu, rumah kecil keluarga Aminah dan Herman tidak pernah benar-benar tenang. Semula mereka mengira ujian terberat dalam hidup hanyalah dapur yang kadang tidak mengepul dan biaya kuliah Ningsih yang terus meningkat. Ningsih adalah mahasiswi semester lima yang selama ini menjadi kebanggaan mereka. Nilainya baik, tekun, dan memiliki cita-cita yang membuat kedua orang tuanya rela bekerja dari pagi hingga malam.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Tetapi beberapa minggu terakhir, sesuatu berubah. Ningsih sering terbangun tengah malam karena mendengar jeritan yang tidak didengar siapa pun. Tubuhnya mendadak kaku. Memar kebiruan muncul tanpa sebab. Kadang ia merasa ada suara berbisik di dekat telinganya: Menyerahlah. Tidak ada yang akan menolongmu.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih berusaha melawan. Ia membaca doa. Ia berwudu. Ketika ketakutan datang, ia bahkan tidur di kamar orang tuanya. Namun suara-suara itu tetap kembali. Hari demi hari tubuhnya semakin lemah. Kuliahnya mulai berantakan. Ia lebih banyak diam dan kehilangan selera makan. Aminah berkali-kali mengajaknya berobat, sementara Herman membawa putrinya dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari pertolongan. Tak seorang pun benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Sampai suatu malam, Ningsih kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Aminah mendengar suara benda pecah dari kamar putrinya. Ketika pintu dibuka, ia melihat darah.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
“Ningsih!” Herman berlari menyusul. Tangannya gemetar ketika merangkul tubuh putrinya.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
“Ya Allah… Ningsih!” Aminah menangis sambil terus memanggil nama Allah. Herman membopong putrinya keluar rumah. Mereka bergegas mencari pertolongan dengan satu ketakutan yang sama: kehilangan anak yang selama ini menjadi salah satu alasan mereka bertahan hidup.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Malam itu mengubah segalanya. Kondisi Ningsih memburuk. Biaya pengobatan menguras tabungan yang dikumpulkan Aminah dan Herman bertahun-tahun. Modal warung kecil mereka ikut terpakai. Sedikit demi sedikit, apa yang mereka miliki habis.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Suatu malam, setelah keadaan Ningsih sedikit membaik, gadis itu duduk di antara kedua orang tuanya. “Ibu… Ayah…”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Herman menoleh. “Uang kuliah Ningsih sudah habis.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Aminah menggenggam tangannya. “Jangan pikirkan itu dulu, Nak.”
“Tapi tabungan juga habis. Modal warung juga.” Suara Ningsih bergetar. “Semua habis karena Ningsih.”
“Jangan bilang begitu,” kata Herman.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menunduk. “Riko terus mengejar Ningsih. Dia mengancam Ningsih. Maya juga…” Ia berhenti sejenak. “Maya tidak suka nilai Ningsih. Ningsih tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Herman mengusap wajahnya, wajah yang dulu tampak tegar kini menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. “Uang bisa dicari lagi, Nak,” ia menepuk pundak Ningsih. “Yang penting kamu sembuh. Ayah tidak butuh apa-apa kalau kamu sudah bisa duduk bersama kami seperti ini.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Aminah mengusap rambut putrinya. “Kita mulai lagi dari awal.” Kalimat itu sederhana. Tetapi malam itu Ningsih menangis dalam diam, tahu betul kedua orang tuanya sudah hampir tidak memiliki apa-apa.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Beberapa hari kemudian, Ningsih mengambil keputusan. “Aku mau kerja, Bu.”
Aminah terdiam. “Untuk apa?”
“Bantu Ayah dan Ibu. Ningsih nggak mau terus jadi beban.”
Herman menggeleng. “Kamu masih bisa kuliah.”
“Nanti, Yah,” Ningsih menatap ayahnya. “Kalau Ningsih sudah kuat.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Di tengah keadaan yang semakin berat, seorang kerabat datang dan menyarankan agar mereka meminta bantuan seorang ahli agama yang dipercaya. Aminah dan Herman membawa Ningsih ke sana. Malam pengobatan itu menjadi malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ayat-ayat suci dilantunkan. Ningsih tiba-tiba menegang. Tubuhnya bergerak tidak beraturan; punggungnya melengkung, kemudian tubuhnya meliuk seperti sedang menari mengikuti irama yang hanya didengarnya sendiri. Aminah menangis, “Ningsih… Ibu di sini.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menjerit. Suara jeritannya berubah-ubah—sesekali seperti suara seorang anak kecil, sesekali seperti suara orang yang jauh lebih tua. Herman terus membaca doa. “Nak, dengar suara Ayah.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menggeliat, kemudian muntah. Gumpalan rambut hitam yang panjang dan beberapa benda tajam berkarat keluar bersama muntahan itu. Aminah menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa henti. “Ningsih!”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Putrinya menjerit lagi. “Ibu!”
Aminah mendekat. “Ibu di sini, Nak.”
“Ayah!”
Herman meraih tangannya. “Ayah di sini.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menangis seperti anak kecil. “Ibu… Ayah… maafkan Ningsih.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan sekarang,” kata Herman.
“Maaf…” Ningsih kembali terisak. “Maaf kalau selama ini Ningsih banyak salah. Maaf kalau Ningsih pernah membuat Ibu sama Ayah kecewa.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Aminah memeluknya. “Sudah, Nak. Sudah.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Untuk pertama kalinya malam itu, tubuh Ningsih perlahan melemas. Jeritannya berhenti. Ruangan menjadi sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar. Aminah memeluk putrinya lebih erat, sementara Herman menundukkan kepala. Tidak seorang pun berbicara. Namun untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka merasa badai itu telah berlalu.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
**(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Beberapa waktu kemudian, Ningsih mulai bekerja. Ia tidak banyak mengeluh; setiap pagi berangkat lebih awal dan pulang ketika hari sudah gelap. Ia belajar kembali percaya pada dirinya sendiri. Perlahan, hidupnya berubah. Pekerjaannya mendapat penghargaan. Tugas-tugas baru berdatangan. Ia beberapa kali ditugaskan ke Bali dan Aceh, bahkan mendapat kesempatan bekerja dalam perjalanan ke Malaysia.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Suatu malam, Ningsih pulang membawa sebuah penghargaan. Ayahnya sedang duduk di depan rumah.
“Ini apa?” tanya Herman.
“Penghargaan.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Herman membaca tulisan di atasnya, kemudian tersenyum. “Jadi sekarang anak Ayah sudah hebat?”
Ningsih tertawa kecil. “Belum, Yah.”
“Kenapa belum?”
“Masih banyak yang harus dikerjakan.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Herman menatap putrinya. “Yang penting jangan lupa pulang.”
Ningsih tersenyum. “Aku selalu pulang, Yah.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Malam itu mereka makan bersama. Untuk sesaat, tidak ada yang mengingat badai yang pernah menghantam rumah mereka.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, tubuh Ningsih kembali jatuh sakit. Memar-memar muncul. Tidurnya kembali terganggu. Ia mulai mendengar suara-suara yang pernah menghantuinya. Awalnya Ningsih berusaha mengabaikannya, tidak ingin kembali menjadi perempuan yang hidup dalam ketakutan. Tetap tubuhnya semakin lemah, memaksanya kembali meminta pertolongan.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Dari penelusuran spiritual yang dilakukan, muncul dugaan bahwa gangguan itu berkaitan dengan seseorang di tempat kerjanya yang menyimpan iri terhadap pencapaiannya. Ningsih terdiam lama. Ia teringat ayah dan ibunya. Teringat malam ketika mereka hampir kehilangan dirinya. Teringat tabungan yang habis. Teringat warung yang pernah mereka bangun dengan susah payah. Dan untuk pertama kalinya, Ningsih memahami bahwa tidak semua yang harus dipertahankan adalah sesuatu yang harus dimiliki.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Pekerjaan itu ia lepaskan. Bukan karena ia kalah, ia hanya tidak ingin pulang membawa luka yang sama untuk kedua kalinya.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
**(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Malam kembali turun di rumah berdinding papan itu. Ningsih duduk di lantai, di antara Aminah dan Herman. Lampu kecil di ruang tengah memantulkan bayangan mereka pada dinding.
“Ibu…” Aminah menatap putrinya. “Ningsih berhenti kerja.”
Herman diam. “Kenapa?”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menarik napas panjang. “Ningsih capek, Yah.” Ia menunduk. “Ningsih tidak mau Ibu sama Ayah lihat Ningsih sakit lagi.”
Aminah menggenggam tangannya. “Kamu tidak perlu meminta maaf karena memilih sehat.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Air mata Ningsih jatuh. “Tapi Ningsih merasa sudah terlalu banyak mengambil dari Ibu dan Ayah.”
Herman menggeleng. “Anak bukan utang.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menangis, meletakkan kepalanya di pangkuan Aminah. “Ibu… Ayah…”
Tidak ada jawaban. Hanya tangan Aminah yang perlahan mengusap rambutnya.
“Ningsih mau mulai lagi.”
Herman menatapnya. “Mulai apa?”
“Usaha kecil,” Ningsih menghapus air matanya. “Pelan-pelan saja. Tidak perlu besar.”
Herman tersenyum. “Itu baru anak Ayah.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih menggenggam tangan kedua orang tuanya. “Doakan Ningsih.”
Aminah mengangguk. “Selalu.”
“Ningsih ingin suatu hari punya rumah yang lebih kokoh untuk kita.”
Herman tersenyum tipis. “Rumah ini juga sudah cukup.”
“Nanti, Yah,” Ningsih tersenyum di tengah air matanya. “Biar Ningsih yang membangunnya.” Ia terdiam sebentar. “Dan kalau Allah mengizinkan, Ningsih ingin membawa Ibu dan Ayah ke Baitullah.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Aminah menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Jangan terlalu jauh bermimpi, Nak.”
“Biar Ningsih yang mengejarnya.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Kemudian Ningsih melihat ke sudut ruangan. Di sana, di antara tumpukan buku lama, masih tersimpan buku kuliahnya. Ia mengambilnya; sampulnya sudah kusam dan beberapa halaman terlipat, tetapi namanya masih jelas di sana. Ningsih tersenyum. “Suatu hari nanti, Ningsih juga akan kembali kuliah.”
Herman menepuk bahunya. “Kalau waktunya tiba.”
“Ya, Yah.”(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Malam semakin larut. Di luar, angin bergerak pelan di antara pepohonan. Rumah papan itu masih sama—belum menjadi rumah kokoh seperti yang dibayangkan Ningsih, tabungan mereka belum banyak, dan usaha baru itu bahkan belum dimulai. Tetapi malam itu ada sesuatu yang berbeda.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Ningsih tidak lagi merasa sedang berdiri di tengah badai. Ia menggenggam tangan Aminah dan Herman. Tiga tangan bertaut di bawah cahaya lampu yang redup. Aminah mulai berdoa, Herman mengaminkan, dan Ningsih menundukkan kepala.(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Di luar, angin kembali melewati dinding papan. Rumah itu berderit pelan. Namun kali ini, Aminah tidak terbangun karena ketakutan; ia hanya tersenyum sambil terus berdoa. Di sampingnya, Ningsih menggenggam tangan ayahnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, gadis itu tidak meminta agar badai berhenti. Ia hanya meminta agar langkahnya tidak kehilangan arah.[](Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)

SOUZA
(Source: kosapoin.com/lentera-rida-di-balik-badai-sihir)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








