Sebelum Magrib

sebelum maghrib

Gambar buatan anakku tergeletak di meja makan, di antara buku tulis dan kotak pensil yang belum ditutup. Ada sungai berwarna biru, anak-anak yang memunguti sampah dengan jaring dan keranjang, serta seorang anak yang mengangkat kapak di dekat pohon besar. Seekor monyet bertengger di dahannya. Pohon itu memiliki dua mata bulat dan air mata yang menjulur sampai ke batang. Pagi tadi, anakku menunjukkan gambar itu sebelum berangkat sekolah. Aku hanya sempat memujinya sambil menyiapkan bekal. Sekarang, setelah pulang dari pasar, aku berdiri cukup lama di depan meja. Di luar jendela, daun mangga bergerak ditiup angin.(Source: kosapoin.com/sebelum-magrib)

Aku teringat sungai di kampung, tempat aku dan teman-teman menghabiskan sore sepulang sekolah. Kami biasa mencari ikan kecil atau duduk di tepian sampai ibu-ibu memanggil dari kejauhan. Suatu hari, kami membawa keranjang bekas untuk memunguti sampah yang tersangkut di batu. Teman-temanku sibuk menarik plastik dengan jaring, sedangkan aku pergi ke gudang kebun dan mengambil kapak kecil. Sebatang pohon tumbuh miring ke arah sungai. Aku ingin memotong dahannya untuk dijadikan galah. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana enaknya bermain perang-perangan dengan galah itu.(Source: kosapoin.com/sebelum-magrib)

Kapak pertama kali mengenai batang dengan bunyi pendek. Kulit kayu terkelupas, meninggalkan bagian pucat selebar dua jari. Dari atas terdengar suara ranting bergesekan. Seekor monyet berpindah ke dahan yang lebih tinggi. “Jangan!” teriak kawanku dari sungai. Aku menoleh dengan kesal. Ia berdiri sambil memegang jaring penuh plastik. Tak ada yang menghampiriku. Aku kembali mengangkat kapak, tetapi tanganku tertahan ketika monyet itu menghilang di balik daun. Beberapa saat aku berdiri begitu saja, lalu meletakkan kapak di dekat akar. Setelah itu aku membantu mengangkat keranjang. Kami pulang ketika azan magrib terdengar. Kapak itu tertinggal di sana. Aku baru ingat keesokan harinya, tetapi tak pernah kembali mengambilnya.(Source: kosapoin.com/sebelum-magrib)

“Bu, kenapa pohonnya menangis?” Anak perempuanku berdiri di samping meja. Aku menarik kursi untuknya dan melihat gambar itu sekali lagi. “Menurutmu kenapa?” tanyaku. Ia mengangkat bahu, lalu mulai merapikan pensil warnanya. Dari dapur, air mendidih berdesis. Aku menyuruhnya mencuci tangan sebelum makan. Setelah ia pergi, aku mengangkat gambar itu agar tidak terkena gelas yang basah. Ujung kertasnya terlipat sedikit. Aku meratakannya dengan telapak tangan, kemudian berhenti pada batang pohon yang digambar anakku. Ada garis cokelat tipis di sana, tepat di bawah tangan si pemegang kapak. Aku tak tahu apakah anakku sengaja membuatnya. Dari ruang tengah, ia memanggilku lagi. Aku meletakkan gambar itu di meja, lalu menjawab panggilannya. [](Source: kosapoin.com/sebelum-magrib)

ROBIN HOOD REBORN
Baca Tulisan Lain

ROBIN HOOD REBORN

Syifa Siti Sofia

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.43
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *