Udara di dalam kelas XII-A siang itu terasa lebih gerah dari biasanya, padahal mesin pendingin ruangan sudah bekerja maksimal. Suara bel elektrik baru saja berhenti berdenging. Bunyi itu memutus keheningan paska ujian akhir yang melelahkan. Di depan kelas, Mataya masih sibuk merapikan tumpukan kertas esai. Tujuh tahun sudah ia mengabdi di SMA ini. Perjalanan itu cukup panjang untuk membuatnya hafal setiap sudut gedung. Namun, ia tetap merasa getir setiap kali musim perpisahan tiba, terlebih saat ini ia harus melepas kelas XII-A yang sudah ia bimbing secara khusus dalam tanggung jawabnya sebagai wali kelas.
Mataya menarik napas panjang. Jemarinya sedikit gemetar saat memasukkan bolpoin ke dalam tas—sebuah detail yang ia sembunyikan rapat dari pandangan murid-muridnya. Sebelum beranjak dari meja guru, matanya tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di sudut meja—tempat ia menyimpan beberapa batang kapur tua yang ia bawa dari masa awal ia mengajar, jauh sebelum sekolah ini beralih sepenuhnya ke spidol dan papan putih. Jemarinya menyentuh sisa-isa kapur yang sudah mengecil dan patah itu, lalu ia memasukkannya ke dalam saku blus. Baginya, kapur itu adalah pengingat akan adab yang tak boleh luntur oleh teknologi.
Ia meletakkan tumpukan kertas itu ke dalam tas, lalu mematikan proyektor. Sekitar sepuluh murid sudah bergegas keluar kelas untuk mengejar angkutan atau sekadar ingin cepat sampai di rumah. Akan tetapi, sebagian besar lainnya masih bergeming. Dari empat puluh kursi yang ada, lebih dari separuhnya masih terisi. Sebagian murid tetap duduk di tempatnya masing-masing. Sementara itu, beberapa lainnya mulai merapat ke depan dan membentuk kerumunan kecil yang tidak beraturan di sekitar meja guru.
Mataya tidak langsung keluar ruangan. Ia memilih untuk berjalan ke barisan tengah dan duduk di salah satu kursi murid yang kosong. Tindakan sederhana itu seketika mengubah atmosfer ruangan. Ketegangan formalitas antara guru dan murid perlahan luruh. “Sudah, simpan semua buku kalian ke dalam tas. Jam pelajaran secara resmi sudah usai,” ucap Mataya dengan nada yang lebih santai. “Sekarang, anggap saja Teteh adalah kakak kalian. Kita bicara santai saja, dari hati ke hati.” Latar belakang pesantren yang Mataya jalani selama dua belas tahun, mulai dari SD hingga SMA, membentuk kesantunannya menjadi karakter yang alami. Masa kuliahnya di universitas negeri kemudian melengkapi sudut pandangnya tentang realitas dunia luar. Ia bisa menjadi guru yang disiplin saat mengajar. Namun, di saat-saat seperti ini, ia bertransformasi menjadi sosok Teteh yang sangat terbuka bagi murid-muridnya, bukan hanya yang diwalikelasinya saja.
“Teh Mataya,” panggil Intan dengan suara serak. Matanya sembap. “Boleh ya saya panggil Teteh? Saya sedang bingung sekali. Orang rumah bilang saya harus masuk Kedokteran karena nilai saya selalu tinggi. Katanya itu masa depan yang paling menjamin. Masalahnya, saya takut melihat darah. Saya takut kalau saya menolak, saya jadi anak durhaka.”
Mataya menatap Intan dengan teduh. Ia diam sejenak, mencari kata yang tidak menghakimi orang tua Intan sambil menahan kegamangan di dadanya sendiri. “Intan, dengarkan Teteh. Nilai bagusmu itu bukti kamu bertanggung jawab … tapi, memilih jurusan kuliah itu ibarat memilih sepatu untuk mendaki gunung. Kalau kamu paksakan memakai sepatu yang kekecilan hanya karena orang lain bilang sepatu itu bagus, kakimu sendiri yang akan berdarah-darah di sepanjang jalan. Kamu punya nilai bagus, tapi kalau hati kamu tidak di sana, kamu akan sulit menjalaninya.”
Di pojok kelas, Bagas yang biasanya paling berisik kini tampak lesu. “Teh, kalau saya berbeda lagi,” sahut Bagas tanpa mendongak. “Saya dipaksa masuk Hukum oleh Ayah karena beliau dulu gagal di sana. Beliau ingin saya membalaskan dendam kegagalannya. Padahal saya tahu kapasitas saya tidak di sana.” Mataya menoleh ke arah Bagas. Menatapnya begitu dalam, sebelum benar-benar memberikan jawaban: “Bagas, hidupmu bukan alat penebus kegagalan orang lain. Kuliah itu perjalanan panjang yang melelahkan. Ayah mungkin ingin yang terbaik, tapi jika kamu menjalaninya tanpa kesenangan dan kemampuan yang sesuai, kamu hanya akan menyiksa diri sendiri. Kamu harus berani jujur pada beliau.”
Suasana semakin dalam saat Rio, yang duduk di barisan depan, mengangkat tangan dengan ragu. “Bu Mataya,” ia tetap memanggil secara formal sebagai bentuk hormat tertingginya. “Saya tidak punya kemewahan untuk bingung memilih jurusan. Orang tua saya sudah bilang kalau mereka tidak sanggup membiayai kuliah. Saya harus langsung cari kerja untuk bantu adik-adik. Apakah saya tidak punya masa depan?” Mataya bergeser dan menghadap Rio sepenuhnya. Ia merasakan tenggorokannya tercekat, menyadari bahwa kalimat bijak terkadang terasa begitu tawar di depan kerasnya ekonomi. “Rio, kuliah bukan satu-satunya pintu keberhasilan. Banyak orang sukses yang memulai langkahnya dari kerja keras di lapangan. Masa depanmu tidak tertutup. Ia hanya mengambil jalan yang sedikit lebih berliku. Jangan pernah merasa kecil hati hanya karena langkahmu berbeda.”
“Saya juga sama, Teh,” sahut Siti dari meja sebelah. “Saya ingin kerja di pabrik saja di kota seberang. Saya ingin cepat-cepat kirim uang ke rumah … tapi saya malu kalau tidak punya gelar.” Mataya memegang tangan Siti sejenak. “Siti, tidak ada yang lebih mulia daripada seorang anak yang memikul beban keluarganya dengan ikhlas. Menurut Teteh … gelar itu bergantung pada cara kita dalam menyikapinya … tapi, niat keringatmu yang ingin membiayai sekolah adik-adikmu adalah kehormatan yang jauh lebih besar.”
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh isak tertahan dari Dimas di barisan belakang. “Teh… saya tiba-tiba merasa takut,” suaranya bergetar hebat. “Selama tiga tahun ini saya ke sekolah cuma buat main. Saya sering tidur di kelas, saya sering menyepelekan tugas. Sekarang pas ujian sudah lewat, saya baru sadar kalau saya tidak punya bekal apa-apa. Saya merasa sia-sia.” Kalimat Dimas seolah membuka keran penyesalan bagi murid yang lain. Sarah ikut tertunduk, air matanya mulai menetes deras ke atas meja. “Saya juga merasa begitu, Teh. Kami dulu merasa tiga tahun itu lama, tapi ternyata kami cuma menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak penting. Sekarang kami harus pergi, tapi kami merasa belum punya ilmu yang cukup.”
Lani menyela dengan isakan yang lebih keras. “Kami merasa bersalah sama Bu Mataya, sama guru-guru lain. Kami sering tidak sungguh-sungguh belajar. Pas sudah di ujung jalan begini, rasanya ingin balik lagi ke kelas satu dan mengulang semuanya dengan benar.” Mataya terdiam. Ia memandang wajah-wajah yang kini dipenuhi rasa bersalah itu. Ada gumpalan sesak di dadanya. Ia tidak ingin memberikan janji manis yang palsu, karena ia tahu penyesalan ini adalah bagian dari badai emosi yang juga mengoyak ketenangannya.
“Dengarkan Teteh,” ucap Mataya lembut, suaranya kini sedikit serak. “Teteh tidak akan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan mudah, karena Teteh pun tidak tahu apa yang menanti kalian di luar sana. Waktu yang hilang memang tidak bisa kembali … tapi, penyesalan kalian hari ini adalah bukti bahwa kalian sebenarnya sudah mulai dewasa. Di pesantren dulu, Teteh belajar bahwa ilmu tanpa kejujuran itu kosong. Dan di universitas negeri, Teteh belajar bahwa kecerdasan tanpa keberanian untuk jujur pada diri sendiri—termasuk jujur mengakui kesalahan masa lalu—itu akan menyiksa.” Mataya menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya sendiri. “Jujur memang sulit … tapi kalian harus tahu, kalau kalian tidak jujur tentang apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian mampu, kalian akan menghabiskan sisa hidup kalian untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Jadilah penulis bagi cerita kalian sendiri. Jangan biarkan orang lain yang memegang penanya.”
Seterusnya, Mataya menatap wajah-wajah di depannya sebelum mereka benar-benar bubar. “Ingat satu hal dari Teteh. Di luar sana, orang mungkin akan menilai kalian dari gelar atau seberapa besar gaji kalian nanti … tapi, bagi Teteh, keberanian kalian untuk jujur pada diri sendiri, mengakui kekurangan kalian, dan tetap menjadi manusia yang santun adalah keberhasilan yang sesungguhnya.”
Suasana haru semakin menyelimuti kelas. Ruang kelas yang biasanya riuh kini dipenuhi suara tangis penyesalan yang berubah menjadi rasa terima kasih. Tujuh murid yang bertanya tadi, diikuti oleh murid-murid lain yang menyimak, mulai berdiri dan mendekat ke arah Mataya. Mereka membentuk lingkaran kecil yang hangat. Tradisi bersalaman yang selalu Mataya jaga kini terasa jauh lebih bermakna. Beberapa siswi memeluk Mataya dengan erat seolah ingin mencurahkan seluruh rasa terima kasih dan permohonan maaf mereka: “Terima kasih sudah tidak pernah menyerah pada kami, Teh,” bisik Sarah di tengah pelukan itu.
Saat satu per satu murid mulai melangkah keluar, kelas pun perlahan menjadi sunyi. Mataya berdiri sendirian di dekat jendela yang menghadap ke arah gerbang sekolah. Bahunya sedikit merosot karena lelah yang amat sangat; ia sadar nasihatnya mungkin akan segera tertimbun hiruk-pikuk dunia, akan tetapi ia tetap memilih mengatakannya sebagai ikhtiar terakhir. Ia merogoh saku blusnya, menyentuh patahan kapur yang tadi ia ambil. Baginya, murid-muridnya hari ini sedang memungut sisa-isa kapur kejujuran dari hatinya sebelum mereka benar-benar melangkah keluar.
Ia melihat bayangan mereka mengecil di kejauhan. Ada rasa bangga yang menyelinap di antara rasa kehilangan. Tugasnya untuk angkatan ini telah selesai. Ia telah memberikan jembatan berupa bahasa, adab, dan kekuatan untuk jujur. Sekarang, saatnya mereka menyeberanginya sendiri. Kembali Mataya menarik napas panjang, yang entah untuk kesekian kalinya, laju merapikan kursinya, seterusnya berjalan keluar kelas dengan langkah yang lapang. Di dalam tasnya masih ada setumpuk esai terakhir yang harus ia nilai. Akan tetapi, di dalam dadanya, ia membawa harapan yang tidak terhingga untuk setiap masa depan yang baru saja ia lepaskan. Ia yakin bahwa kejujuran yang tumbuh dari penyesalan hari ini akan menjadi kompas paling tajam bagi mereka di luar sana. []









