Eksperimen Sunyi dalam Merawat Ikhtiar dan Menumbuhkan Manfaat

Eksperimen Sunyi dalam Merawat Ikhtiar dan Menumbuhkan Manfaat

Di Hari yang cerah ini, Rabu 03 Juni 2026, saya senang sekali bisa berdiskusi bersama Doni Muhamad Nur (Doni), saya bertanya padanya tentang historis atau sejarah perjalanan berdirinya Kosapoin.com ini, ternyata berakar dari sebuah gerakan literasi yang digagas oleh Lingkar Daulat Malaya (LDM) Kota Tasikmalaya di bawah kepemimpinan Ihsan Farhanuddin dan Aa Saeful Milah. Pada pertengahan tahun 2023, gerakan ini meluncurkan program “Sinau Nulis Bareng bersama Kang Doni M Nur” dengan tajuk yang puitis: “Menyuling Rasa, Menyulam Kata”.

Kegiatan belajar menulis ini dilaksanakan secara rutin di Galeri Vanya Art, kediaman Doni. Sastra yang dipelajari di sini merujuk pada makna luas sesuai KBBI—mencakup segala bentuk tulisan yang memiliki bobot bahasa dan gaya—bukan hanya terbatas pada genre tertentu. Semangat kolektif untuk mendokumentasikan pemikiran dan realitas sosial inilah yang menjadi embrio lahirnya Kosapoin.com.

Secara resmi, portal digital ini didirikan dan dikembangkan oleh Doni selaku CEO dan Editor, bersama Acep Firman Rianjaya sebagai pakar teknologi informasi (IT), dan logo Kosapoin dibuat oleh Galih M. Rosyadi. Kosapoin (Kolom Sastra Potret Indonesia News) kini terus bertransformasi menjadi wadah yang menghubungkan energi penulis muda dengan kedalaman pemikiran para maestro nasional maupun internasional.

Dalam kehidupan ini pasti ada banyak jalan dalam ber–ikhtiar, salah satunya adalah mendirikan sebuah portal. Namun yang namanya mendirikan portal di zaman digital ini, hal itu sama saja merawat kesabaran. Sebab mendirikan media digital hari ini hampir selalu identik dengan urusan angka. Orang-orang sibuk menghitung klik, mengejar trafik, dan memikirkan cara dalam mendapatkan duit dari iklan sejak hari pertama. Tentu saja hal itu sangatlah mustahil ditambah lagi kini posisi hidup dan kehidupannya berada di tengah arus media yang semakin padat oleh perebutan perhatian dan perhitungan pasar itu, tapi Doni tetap memilih menempuh jalan yang sama meski isi kontennya berbeda saat menyalakan mesin Kosapoin.com. Ketika ditanya alasan di balik pendirian portal yang memuat sastra, teater, seni tari, seni rupa, seni bunyi, budaya, esai, opini, cerpen, hingga puisi ini, Doni justru menyodorkan sesuatu jawaban yang jarang terdengar dalam pengelolaan media: manfaat.

Sepintas, dalam memaknai pernyataan dari Doni yang nampak tengah bersilat kata atau mencoba terdengar sok pahlawan saat menceritakannya, tapi hal itu bisa terbantahkan langsung dengan nyata, saat Doni memperlihatkan dapurnya. Kalimat-kalimatnya meluncur biasa saja, datar, seperti seseorang yang membicarakan rutinitas harian yang lumrah. Namun dari situlah nampak percakapan sebenarnya mulai berkembang. Bagi Doni, Kosapoin lahir bukan semata-mata untuk menghadirkan ruang publikasi karya atau menjadi laman digital yang menampung tulisan. Doni ingin menjadikannya ruang pertemuan gagasan sekaligus wadah yang kelak dapat memberi manfaat yang lebih luas. Doni memulai segalanya dari sebuah pertanyaan yang sederhana: dapatkah sebuah usaha tumbuh tanpa harus membangun keuntungan di atas kerugian orang lain?

“Niat saya simpel saja, saya ingin Kosapoin ini nanti ada gunanya buat orang banyak. Jangan sampai kita cari untung, tapi bikin orang lain buntung,” ujarnya santai. Bagi Doni, ketika seseorang mulai memikirkan sebuah usaha, pada saat yang sama ia juga sedang berhadapan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Karena ada kehidupan orang lain yang suatu hari mungkin ikut terhubung dengan usaha tersebut. Ketika seseorang memasukkan rezeki orang lain ke dalam rancangan usahanya, katakanlah, maka usaha tersebut tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan dan pendapatan. Ada lingkaran nasib yang cepat atau lambat akan ikut menempel di dalamnya.

“Katakanlah sebagai contoh mutlaknya di dalam saban usaha yang kita rintis itu, ada hak istri, anak, orang-orang yang ikut membantu di dalamnya, sampai hak masyarakat,” Doni melanjutkan, nadanya sedikit bergeser lebih serius ketika menyentuh urusan tanggung jawab. “Jadi kalau kita membuat keputusan apa pun itu, alasannya harus lebih besar, bukan hanya perihal memikirkan isi perut sendiri.” Tentu saja pandangannya itu bukan berarti Doni sedang membicarakan sesuatu yang sudah terwujud di hari ini.

Justru Doni sangat menyadari betul, bahwa; Kosapoin masih berada dalam tahap merawat fondasi. Dimensi Ruang yang Doni bangun ini masih terus bertumbuh, dan juga pembacanya masih berkembang, serta berbagai harapan yang dibicarakannya masih berupa tujuan yang sedang dituju. Pada hari ini ia masih berfokus mengumpulkan karya, membangun basis pembaca, serta menjaga ruang publik yang sehat bagi sastra, seni, budaya, dan pemikiran. Jadi, ketika berbicara tentang manfaat yang kelak ingin diwujudkan, Doni tidak sedang membicarakan sesuatu yang sudah terjadi saat ini, melainkan sebuah harapan dan realita yang ingin dicapainya.

Dalam fase peletakan batu pertama inilah; struktur di balik layar mulai diperkuat agar portal yang baru mengudara ini tidak hilang dari jejak dunia digital. Di balik laman about us yang bersahaja, Doni tidak merawat ikhtiar ini sendirian. Ada peran penting; Acep Firman Rianjaya dan Galih M Rosyadi yang ikut bahu-membahu menyusun bata demi bata fondasi Kosapoin. Kehadiran mereka menegaskan bahwa media ini dibentuk oleh kerja kolektif yang serius, di mana masing-masing kepala membawa komitmen yang sama untuk menjaga arah dan kualitas ruang bersama ini agar tetap berjalan lurus.

Melalui solidnya tim internal tersebut; prinsip-prinsip dasar mengenai masa depan finansial media pun bisa dirumuskan dengan lebih matang, terutama menyangkut para kontributor yang menghidupkan ruang tersebut. Menurut Doni, dalam sebuah usaha harus tahu mau dibawa ke mana bahkan sejak ia masih kecil dan belum menghasilkan apa-apa. Doni lalu tersenyum kecil, menyadari kalau membicarakan honorarium kontributor di saat keran iklan bahkan belum berjalan mungkin terdengar terlalu jauh dan muluk-muluk bagi sebagian orang. Namun menurutnya, justru tujuan semacam itu harus dipikirkan sejak awal. Arah sebuah usaha ditentukan jauh sebelum usaha itu bertumbuh—ketika masih kecil, ketika belum menghasilkan apa-apa, bahkan ketika belum ada yang bisa dibagikan. Sebab pada tahap itulah seseorang sedang menentukan untuk apa sebenarnya ia bekerja.

“Nanti kalau iklan sudah mulai jalan dan portal ini kian besar manfaatnya bagi masyarakat pembaca, maka saya enggak mau makan sendiri. Harus dibagi rata manfaatnya, terutama buat teman-teman kontributor yang selama ini sudah menjadikan hidup media ini dengan memakai karya-karya mereka,” tuturnya sambil tersenyum. “Kalau kita dari awal mikirnya hanya buat diri sendiri, nanti pas ada hasilnya … ya bakal kembali ke diri sendiri lagi.” Sisi idealisme Doni semakin menebal saat obrolan bergeser ke arah proses kreatif: Doni menyadari bahwa sebuah media tidak mungkin bertumbuh hanya karena kerja pengelolanya semata.

Doni sangat menyadari hal itu bahwa sebuah portal membutuhkan para kontributor yang memiliki kesungguhan yang sama dalam merawat kualitas tulisan. Sebab bagi Doni, kekuatan sebuah media tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau jumlah pembaca, melainkan oleh kualitas gagasan yang dihadirkan di dalamnya. Di era ketika kecerdasan buatan bisa memuntahkan ribuan teks dalam hitungan detik, Doni justru memasang pagar yang begitu tegas. Ia juga berharap Kosapoin terus diisi oleh penulis-penulis yang menulis dari pengalaman, pembacaan, pengamatan, dan pergulatan pemikirannya sendiri.

Karena itu, ia berpesan tegas dan meminta kepada para kontributor tidak menyerahkan proses kreatif penulisannya kepada mesin kecerdasan buatan. Teknologi itu boleh menjadi alat bantu, tetapi tidak seharusnya menggantikan suara, pengalaman, sudut pandang, dan tanggung jawab seorang penulis terhadap karyanya. “Bagi saya, tulisan yang dibuat atau ditulis langsung oleh manusia itu beda rasanya, ada nyawanya dan sulit digantikan. Ada rasa ragu, bingung, sedih, senang, atau pengalaman hidupnya yang menjadikan ciri khas dalam cara pandang orang itu berbeda-beda. Hal-hal seperti itulah yang membuat sebuah tulisan itu pas dibaca bisa menjadi terasa lebih hidup dan penuh spirit,” jelas Doni.

Sebab itulah Doni berharap Kosapoin tetap menjadi dimensi ruang dan waktu bagi karya-karya yang tumbuh dari kesungguhan berpikir dan kejujuran kreatif para penulisnya. Dan juga bukan hanya sekadar kumpulan teks yang selesai ditulis dengan cepat oleh mesin; melainkan tulisan yang mampu membawa Jejak Manusia di belakangnya. Barangkali itulah yang membedakan cara Doni memandang Kosapoin. Baginya, portal tersebut bukan hanya tempat menerbitkan tulisan, melainkan sebuah ikhtiar yang sedang dirawat perlahan-lahan. Sebagaimana harapannya di atas—jika suatu hari berkembang dan mampu memberi manfaat yang lebih luas, Doni menekankan dalam berharapnya agar manfaat itu dapat dirasakan oleh banyak pihak, terutama mereka yang sejak awal ikut semangat berjuang berdarah-darah menghidupkan ruang tersebut.

Tentu saja di balik berbagai rencana dan jangka panjang yang disusunnya, ada satu keyakinan yang terus Doni pegang erat-erat. Kalimat tersebut tidak diucapkan sebagai slogan penarik simpati. Doni mengatakannya sebagaimana seseorang menyampaikan kesimpulan dari sebuah perjalanan berpikir dan perenungan hidup yang panjang. Bahwa manusia itu bisa merancang banyak hal, tetapi tidak pernah benar-benar berkuasa atas hasil akhirnya. Dan seperti setiap ikhtiar yang lahir dari niat baik, hasil akhirnya tetap berada di luar kuasa manusia. “Tugas kita itu hanya satu: Usaha mati-matian dengan niat yang baik. Selebihnya, tinggal pasrah saja sama Tuhan, biarkan Tuhan Yang Maha Suci yang menentukan jalanNya, saya yakin–ainul yaqin bahwa Tuhan itu Maha Cinta dan cintaNya tak terbatas dalam meridoi segala harapan cita–cita dan realita.” pungkasnya.

Ada satu renungan tertanam dalam obrolan singkat dengannya di hari ini di waktu siang tadi, yaitu; yang dapat dilakukan hari ini hanyalah terus menjaga niat tetap lurus, bekerja dengan sungguh-sungguh, menghadirkan karya-karya yang jujur, serta melanjutkan langkah. Soal ke mana semua ikhtiar dan manfaat itu akan bermuara, Doni lebih memilih membiarkan waktu dan ketetapan Tuhan Yang Maha Kasih Tak Terbatas yang akan menjawabNya. []

Sekian Terimakasih
Salam Kebajikan Bogalakon
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangian, Silih Warnian, Silih Surtian…

Bandung, 03.Juni.2026

Dody Satya Ekagustdiman

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *