Paramalenyep

paramalenyep

Paramalenyep
Sebelum Memutuskan, Berhentilah Sejenak(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Ada satu istilah Sunda yang menarik perhatian saya, yaitu paramalenyep. Kata ini terasa asing bagi telinga yang terbiasa dengan bahasa yang serba langsung. Tetapi justru di situlah ia menarik untuk direnungkan.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Secara kultural, paramalenyep berakar dari gagasan “malenyep” yakni, mengambil jarak, menepi dari hiruk-pikuk. Atau memberi ruang, agar sesuatu tidak langsung ditelan oleh reaksi. Dalam pengertian ini, paramalenyep bukan sekadar “berpikir” dan bukan pula sekadar “merenung”. Paramalenyep menunjukan sebuah proses batin. Mengendapkan pengalaman, agar manusia tidak mengambil keputusan, saat dirinya masih dikuasai oleh riuh perasaan.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Ada perbedaan besar antara berpikir dan mengendapkan pikiran. Berpikir dapat berlangsung dalam kegaduhan. Orang bisa berpikir sambil marah, sambil tersinggung, sambil ingin membalas. Namun paramalenyep, justru meminta manusia menepi terlebih dahulu. Peristiwa datang. Perasaan muncul. Pikiran bergerak. Tetapi keputusan, tidak harus langsung lahir. Ada jeda. Dalam jeda itulah, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Karena itu, paramalenyep bukan bentuk kelembekan atau keraguan. Hal tersebut merupakan disiplin batin, untuk tidak membiarkan keputusan direbut oleh emosi sesaat.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Orang Sunda, memiliki banyak ungkapan yang memperlihatkan pentingnya kemampuan mengendalikan gerak diri, sebelum bertindak. Seperti Mangka eling, hendaknya selalu ingat. Ingat kepada diri sendiri, ingat kepada orang lain, ingat kepada akibat dari tindakan.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Itulah sebabnya, saya tertarik pada istilah yang diperkenalkan Kang Dody dalam tulisannya tentang paramalenyep. Dalam kerangka itu, paramalenyep dapat dipahami sebagai cara untuk kembali eling melalui keheningan. Manusia menepi bukan untuk meninggalkan kehidupan, melainkan agar dapat kembali kepada pandangan yang lebih jernih.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Dan, di sinilah akar filosofisnya menjadi penting. Bahwa sebelum mengubah dunia di luar diri, manusia perlu mampu menghadapi keramaian yang ada di dalam dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Saya membayangkan seorang manusia berdiri di persimpangan. Di hadapannya ada beberapa jalan. Ia dapat langsung memilih, berdasarkan apa yang tampak paling mudah. Ia dapat mengikuti arus orang banyak. Ia dapat memilih jalan yang sedang ramai, karena merasa banyak orang tidak mungkin salah.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Tetapi, paramalenyep meminta sesuatu yang sederhana, berhenti sebentar. Bukan untuk takut melangkah, atau bukan untuk kehilangan kesempatan. Melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri, ke mana sebenarnya saya akan pergi? Pertanyaan semacam itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi mahal dalam kebudayaan yang mengagungkan kecepatan.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Hari ini kecepatan sering disamakan dengan kemajuan. Orang yang cepat, dianggap produktif. Keputusan yang cepat dianggap tegas. Respons yang cepat dianggap cerdas. Padahal keputusan yang cepat, tidak selalu merupakan keputusan yang matang.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Ada keputusan yang cepat, karena seseorang memang telah memahami persoalan. Namun, ada pula keputusan yang cepat, karena seseorang tidak mau berpikir lebih jauh. Perbedaannya tipis, tetapi akibatnya bisa sangat panjang.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Dalam kehidupan sosial, keputusan yang lahir tanpa perenungan, dapat berubah menjadi stigma. Stigma, dapat berubah menjadi diskriminasi. Diskriminasi, dapat berubah menjadi kekerasan. Dan kekerasan yang terus dibenarkan, akhirnya dapat menjadi kebiasaan sosial. Karena itu, perenungan bukan urusan pribadi semata. Namun, memiliki konsekuensi sosial.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Di sinilah paramalenyep menjadi bagian dari etika, bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar, dan mana yang salah. Etika juga menyangkut kemampuan manusia menahan dirinya sendiri, ketika memiliki kesempatan untuk bertindak.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Ada saat ketika kita sebenarnya bisa membalas, tetapi memilih menahan diri. Ada saat ketika kita bisa mempermalukan seseorang, tetapi memilih menjaga martabatnya. Ada pula saat ketika kita bisa ikut menghakimi, tetapi memilih menunggu fakta. Menahan diri atau lebih tepatnya mengendalikan diri, bukan kelemahan. Dalam banyak situasi keadaan, justru di situlah kekuatan moral seseorang diuji.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Manusia yang tidak mampu mengendalikan reaksinya, akan mudah dikendalikan oleh keadaan. Ia menjadi bagian dari kerumunan, mengikuti emosi kolektif, lalu merasa benar hanya karena banyak orang berdiri di belakangnya.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Sosiologi menyebutnya sebagai kekuatan kelompok. Psikologi sosial mengenal, bagaimana individu dapat berubah, ketika berada di tengah massa. Politik memahami, bagaimana emosi publik dapat diarahkan. Bahkan teknologi digital, membuat semua itu berlangsung dalam hitungan detik.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Satu potongan video dapat membuat seseorang dihukum oleh opini publik, sebelum pengadilan berbicara. Satu kalimat, dapat dipisahkan dari konteksnya, lalu menjadi senjata. Satu kesalahan, dapat diabadikan selamanya di ruang digital.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Pertanyaan sederhana yang timbul kemudian adalah, di mana tempat bagi perenungan? Jika semua orang berlomba menjadi yang pertama berkomentar, siapa yang bersedia menjadi orang terakhir yang berpikir?(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Paramalenyep, bukan ajakan untuk menjadi manusia yang pasif. Justru sebaliknya, ia mengajarkan, bahwa sebelum mengambil keputusan, manusia perlu berjumpa terlebih dahulu dengan dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Apa yang sedang saya rasakan? Mengapa saya marah? Apakah keputusan ini lahir dari pertimbangan, atau dari luka? Apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sekadar mencari pembenaran? Berbagai pertanyaan tersebut, mungkin tidak menghasilkan jawaban seketika. Tetapi, justru karena itulah ia penting. Manusia yang mampu bertanya kepada dirinya sendiri, memiliki peluang lebih besar untuk tidak diperbudak oleh emosinya sendiri.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Dalam konteks seni pendidikan, kemampuan semacam ini seharusnya tidak kalah penting, dibandingkan kemampuan menghafal pengetahuan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan kemampuan menjawab soal, tetapi juga kemampuan berhenti sebelum bertindak. Mempertimbangkan akibat, membaca perasaan orang lain, dan memahami bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Sebab, pendidikan yang hanya menghasilkan manusia cepat menjawab, namun tidak mampu mempertimbangkan akibat dari jawabannya, dapat melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Dan, sejarah manusia sudah cukup panjang menunjukkan, bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan dapat menjadi sangat berbahaya.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Kang Dody menempatkan paramalenyep, dalam rangkaian pemikiran yang lebih luas, bersama Ahata, Anahata, dan Sanghyang Wuku Lima. Saya, tidak ingin terburu-buru mengubahnya, menjadi suatu teori yang kaku. Justru kekuatan gagasan seperti ini, mungkin terletak pada kemampuannya untuk tetap hidup dalam pengalaman manusia.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Sebab kebudayaan, tidak selalu hadir dalam bentuk buku yang tebal. Kadang, ia hidup dalam satu kata, satu ungkapan. Atau dalam sebuah kebiasaan, yang diwariskan dari orang tua kepada anak.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Dan dalam kebudayaan Sunda, perenungan memiliki tempat yang penting. Sebab, manusia tidak semata-mata dipandang sebagai makhluk yang bertindak, tetapi juga makhluk yang harus mampu membaca tanda-tanda kehidupan. Alam berbicara. Pengalaman berbicara. Kesalahan berbicara. Bahkan diam pun berbicara.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Masalahnya, manusia modern terlalu sibuk berbicara, sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk mendengar. Itulah persoalan terbesar kita hari ini. Bukan kekurangan informasi, namun sebaliknya, kita kebanjiran informasi. Yang semakin langka, adalah kebijaksanaan untuk memilahnya.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Kita memiliki teknologi yang mampu memberi jawaban dalam hitungan detik. Namun, belum tentu memiliki kesabaran, untuk mengajukan pertanyaan yang tepat. Kita memiliki kecerdasan buatan yang dapat mengolah jutaan data. Namun, manusia tetap harus menentukan, untuk apa data itu digunakan dan siapa yang akan menanggung akibatnya.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Teknologi dapat mempercepat keputusan. Tapi, teknologi tetap tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral, atas keputusan tersebut. Di sinilah paramalenyep menjadi relevan, seperti rem pada kendaraan yang bergerak terlalu cepat.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Rem, bukan dibuat untuk menghentikan perjalanan selamanya. Namun, diperlukan agar perjalanan tidak berubah menjadi kecelakaan. Begitu pula perenungan, bukan sebagi penghalang kehidupan. Ia adalah cara manusia memastikan bahwa langkahnya tidak kehilangan arah.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Kita tidak perlu selalu segera menjawab. Tidak semua tuduhan harus langsung dibalas. Tidak semua provokasi harus ditanggapi. Tidak semua informasi harus segera dipercaya. Tidak semua persoalan, harus diselesaikan pada hari yang sama saat persoalan itu muncul.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Ada waktunya manusia berhenti, menarik napas. Memandang persoalan dari jarak yang sedikit lebih jauh. Lalu merenung, apakah keputusan ini diambil karena paham, atau hanya karena emosi yang tidak disadari?(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Di situlah paramalenyep menemukan maknanya. Bukan sekadar berpikir sebelum bertindak. Melainkan, memberi kesempatan kepada nurani untuk berbicara, sebelum keputusan diambil oleh emosi.(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Sebab kadang-kadang, keputusan yang paling manusiawi bukanlah keputusan yang paling cepat. Tapi keputusan yang lahir setelah kita cukup lama berdiam, sehingga akhirnya mampu melihat, apa yang sebelumnya tertutup oleh kebisingan diri sendiri. (jbp 28/09/2026)(Source: kosapoin.com/paramalenyep)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?
IP: 144.76.19.72
Negara: Germany (Saxony)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *