Sore itu, 12 Maret 2026, percakapan kami mengalir tanpa terasa, ketika saya tertarik melihat foto dengan bayi kembar, katanya mendampingi seorang ibu pemulung melahirkan di sebuah rumah sakit. Tidak ada kesan bahwa saya sedang mewawancarai seorang “aktivis sosial.” Di hadapan saya hanya seorang ibu sederhana, dengan suara tenang, tapi menyimpan cerita yang tidak sederhana. Namanya Ibu Mulyani. Jika dilihat sekilas, ia tidak berbeda dari ibu-ibu lainnya. Tapi begitu ia mulai bercerita, pelan-pelan kita sadar, hidupnya tidak berjalan di jalur yang biasa. Perjalanan sosialnya tidak dimulai dari seminar, pelatihan, atau organisasi besar. Ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sunyi, dan lebih berat.
Sejak usia 13 tahun. Di sebuah kecamatan bernama Ipuh, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Bu Mul kecil sudah akrab dengan hal-hal yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup menghadapinya. Ia sering membawa pasien yang diterkam binatang buas, dipatuk ular, atau mengalami kondisi darurat lainnya menuju rumah sakit besar. Perjalanan itu bukan perjalanan singkat. Ia harus melewati hutan. Jalan yang tidak selalu jelas. Medan yang tidak selalu bersahabat. Tapi bagi Bu Mul, itu bukan soal keberanian. Itu soal keharusan. “Kalau tidak dibawa, mereka bisa meninggal,” katanya pelan. Kalimat sederhana, tapi terasa berat. Sejak saat itu, mungkin tanpa ia sadari, hidupnya sudah memilih arah.
Tahun 2010, Bu Mul kembali ke Bandung. Ia mungkin berharap menemukan kehidupan yang lebih “tenang.” Tapi ternyata, luka sosial tidak hanya ada di pelosok hutan. Di kota, ia melihat hal yang sama, namun dengan wajah yang berbeda. Banyak orang sakit, tapi tidak pergi ke rumah sakit. Bukan karena mereka tidak ingin sembuh. Tapi karena mereka tidak mampu. “Lebih baik mati di rumah daripada ke rumah sakit,” begitu kata sebagian dari mereka. Bukan kalimat putus asa, tapi kenyataan.
Tahun 2013, Bu Mul pindah ke Soreang. Ia berharap keadaan berbeda. Tapi ternyata, cerita itu berulang. Orang sakit, orang miskin, orang yang tidak tahu harus ke mana. Sampai suatu hari, ia melihat pemandangan yang tidak bisa ia lupakan. Seorang kakek, dengan kateter terpasang, berdiri di pinggir jalan, mencoba menghentikan angkutan umum. Di sampingnya, seorang nenek, istrinya, mendampingi dengan wajah lelah. Mereka harus pergi ke rumah sakit. Kakek itu harus operasi prostat, dan membutuhkan biaya 20 juta rupiah.
Bagi sebagian orang, mungkin itu angka yang masih bisa dicari. Tapi bagi mereka, itu seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Di titik itu, Bu Mul tidak bisa lagi hanya melihat. Ia bergerak, bertanya ke sana kemari. Mencari tahu bagaimana caranya orang tidak mampu bisa mendapatkan bantuan. Tidak ada yang langsung memberi jawaban pasti. Tapi ia tidak berhenti. Sampai akhirnya, ia menemukan satu jalan, yaitu pengajuan Surat Rekomendasi Gakinda (Keluarga Miskin Daerah). Prosesnya tidak instan, namun tetap ia jalani. Dan kakek itu akhirnya bisa dioperasi, tanpa membayar biaya apa pun.
Ketika ia menceritakan itu, tidak ada nada bangga. Hanya senyum kecil. Seolah itu hal biasa. Padahal, bagi kakek itu, itu adalah hidup yang kembali. Namun, bagi Bu Mul, mungkin itu adalah titik di mana ia semakin yakin, bahwa ia tidak bisa berhenti. Dari sana, cerita-cerita lain bermunculan. Ada satu yang paling membekas. Ketika seorang ibu yang hendak melahirkan, yang tidak sempat sampai ke rumah sakit. Ibu tersebut melahirkan di jalan. Dan di situ, Bu Mul tidak hanya menjadi pengantar, namun menjadi penolong. Ia membantu proses persalinan, memotong ari-ari. Bahkan… memberi nama pada bayi itu, “Dirgantara,” katanya. Nama yang kemudian ia berikan kepada beberapa bayi lain yang ia bantu lahirkan. Menariknya, salah satu dari mereka kini sudah menjadi polisi. Ketika ia bercerita itu, matanya berbinar. Bukan karena kebanggaan pribadi. Tapi karena ia melihat sesuatu yang dulu ia bantu, kini tumbuh menjadi sesuatu yang berarti.
Tahun 2021, Bu Mul memutuskan bergabung dengan Paksya Bogalakon. Bagi banyak orang, ini mungkin hanya langkah organisasi. Tapi bagi Bu Mul, ini adalah menemukan “rumah” bagi perjuangannya. Tempat di mana ia tidak lagi berjalan sendiri. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada luka lain yang tidak terlihat. Tidak semua orang memahami apa yang ia lakukan. Ada yang menganggapnya sebagai calo. Seolah-olah setiap bantuan yang ia fasilitasi pasti ada imbalannya. Padahal, kenyataannya jauh dari itu. “Pekerja sosial itu tidak menghasilkan uang,” katanya lirih. Kalimat yang sederhana, tapi terasa seperti tamparan. Di tengah semua itu, Bu Mul tetap berjalan. Ia pernah empat hari berturut-turut tidak berhenti. Dalam satu hari, bisa mengantar hingga delapan pasien. Pulang ke rumah hanya untuk mandi, ganti baju, lalu berangkat lagi. Tidak ada waktu istirahat yang cukup. Tidak ada jaminan. Hanya satu hal yang membuatnya terus bergerak, mereka yang membutuhkan.
Sebagian orang mungkin bertanya, “Kenapa harus sejauh itu?” Bahkan ada yang berkata, “Ngapain dibantu sampai selesai? Biar mereka belajar.” Tapi Bu Mul melihatnya berbeda, “Mereka itu awam,” katanya. Bukan tidak mau berusaha, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Dan di situlah peran Bu Mul dan kawan-kawan di Paksya Bogalakon. Mereka tidak hanya membantu di awal. Mereka mendampingi sampai selesai. Sampai pasien itu benar-benar sembuh. Tanpa berharap imbalan. Tanpa menghitung waktu. Tanpa menuntut balasan.
Itulah yang mereka sebut sebagai sayap “Paksya”, tidak terlihat, tapi mengangkat, tidak bersuara, tapi bekerja.Sore itu, percakapan kami berakhir tanpa kesimpulan yang dibuat-buat. Hanya satu perasaan yang tertinggal, bahwa di tengah dunia yang sering kali sibuk dengan dirinya sendiri, masih ada orang-orang seperti Bu Mulyani. Yang memilih untuk tidak diam. Yang memilih untuk peduli. Dan yang memilih untuk bertahan, bahkan ketika tidak semua orang mengerti. Sebuah pertanyaan sederhana muncul, bukan tentang apakah kita bisa menjadi seperti Bu Mul. Tapi… apakah kita mau mencoba?









