Hari ini ada muncul isu dan juga tawaran menarik: Prodi-prodi Pendidikan–humaniora mau ditutup oleh Kemendikti. Kita mau mengajukan Pendidikan Seni moratorium; Ada Program Badan Gizi Nasional masuk kampus mungkin akan ganti prodi yang meluluskan gelar ini ya (S.Pg dan M.Bg) Dan Lapangan Kerjanya: M.Bg minat cuci piring, catering, delivery dan supir. Isu seperti itu memperlihatkan benturan besar antara dua arah pembangunan pendidikan di Indonesia: Pendidikan sebagai ruang pembentukan manusia dan peradaban, serta Pendidikan sebagai mesin pencetak tenaga kerja teknis pasar. Dan ketika hadir prodi-prodi humaniora, seni, filsafat, sastra, atau pendidikan dianggap “tidak produktif”, maka ukuran nilai kampus mulai bergeser: bukan lagi apa yang membuat manusia matang, tetapi apa yang cepat terserap industri. Padahal sejarah menunjukkan, bangsa besar justru dibentuk oleh kombinasi: ilmu teknis, kemampuan berpikir kritis, imajinasi budaya, etika, dan kesadaran sosial. Tanpa humaniora, teknologi mudah kehilangan arah. Tanpa seni, masyarakat menjadi efisien tetapi kering makna. Tanpa pendidikan kritis, negara hanya menghasilkan operator sistem.
Tentang usulan moratorium Pendidikan Seni, itu bisa dibaca sebagai gejala kegelisahan yang lebih dalam: minimnya dukungan negara terhadap ekosistem seni, orientasi kampus pada angka pasar kerja, dan ketakutan bahwa seni dianggap “beban ekonomi”. Padahal seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah: pembentuk sensitivitas, memori kebudayaan, alat kritik sosial, bahkan terapi kolektif masyarakat. Negara yang mematikan pendidikan seni biasanya perlahan kehilangan daya imajinasi kebudayaannya sendiri. Sementara isu Program Badan Gizi Nasional dengan gelar seperti S.Pg atau M.Bg memperlihatkan model baru pendidikan vokasional yang sangat pragmatis. Tidak salah membangun bidang gizi—karena Indonesia memang punya masalah stunting, ketahanan pangan, dan kesehatan publik. Tetapi kritik akan muncul ketika: gelar akademik menjadi terlalu teknokratis, kampus diarahkan hanya memenuhi rantai kerja rendah, dan lulusan dipersempit menjadi fungsi industri semata.
Kalau orientasinya hanya: “Lulusan harus cepat kerja apa saja,” maka universitas perlahan berubah menjadi pusat pelatihan tenaga operasional, bukan pusat pengembangan pengetahuan dan kebudayaan. Dan dari sini masalahnya adalah bukan pada profesi seperti Catering, Delivery, Dapur, atau Logistik—semua pekerjaan punya martabat. Dan juga yang menjadi masalahnya adalah apakah pendidikan tinggi masih memberi ruang mobilitas intelektual dan kemanusiaan, atau hanya menyiapkan tenaga kerja murah? Di sinilah muncul kecemasan banyak akademisi, bahwa: Humaniora dipersempit, Seni dimarginalkan, Kampus semakin korporatis, dan Ukuran keberhasilan hanya statistik pasar kerja. Secara lebih filosofis, ini mirip pergeseran dari Universitas sebagai Taman Pengetahuan menjadi Universitas sebagai pabrik sertifikasi kerja.
Dalam konteks Indonesia, yang dampaknya bisa panjang adalah: Budaya lokal makin terpinggirkan, Daya kritis publik melemah, Kreativitas nasional menurun, dan Generasi muda makin terputus dari akar kebudayaan sendiri. Padahal di era AI dan otomatisasi justru kemampuan yang sulit digantikan mesin adalah: Kreativitas, Empati, Imajinasi, Interpretasi budaya, dan Pemikiran lintas disiplin. Ironisnya, itu semua adalah wilayah utama seni dan humaniora. Otomatisasi Kemampuan yang sulit digantikan mesin: kreativitas, empati, imaginasi, interpretasi budaya, dan pemikiran lintas disiplin; ini semua wilayah utama seni dan humaniora. Pasti dalam hal ini, akan terasa betul, di tengah gelombang otomatisasi dan AI, justru kemampuan paling manusiawi menjadi semakin bernilai. Mesin sangat kuat dalam: menghitung, mengulang pola, mengolah data besar, mempercepat produksi, dan meniru struktur yang sudah ada. Tetapi mesin masih lemah dalam segi rasa merasakan makna, memahami konteks budaya secara hidup, mengalami rasa penderitaan, menangkap rasa ironi sosial, membangun rasa jiwa empati otentik, dan melahirkan visi peradaban baru.
Karena itu, wilayah seni dan humaniora sebenarnya bukan “sisa masa lalu”, tapi melainkan sebuah fondasi kuat masa depan manusia. Sebagai contohnya: AI bisa membuat ribuan gambar dalam detik, tetapi belum tentu memahami trauma kolektif suatu bangsa. AI bisa menulis puisi, tetapi tidak mengalami kehilangan ibu, perang, cinta, atau pengasingan sebagaimana manusia. AI bisa meniru musik tradisional, tetapi tidak hidup dalam ritus budaya yang melahirkan musik itu. Di sinilah pentingnya hadirnya wujud: Seniman, Antropolog, Filsuf, Pendidik, Budayawan, Penulis, dan Pekerja Humaniora lainnya. Mereka menjaga “Ruh” peradaban agar manusia tidak berubah menjadi sekadar komponen sistem teknologis. Bahkan banyak negara maju sekarang mulai kembali menyadari pentingnya: liberal arts, creative thinking, interdisciplinary studies, cultural literacy, dan ethics in technology. Karena krisis abad modern bukan hanya krisis teknologi, melainkan: krisis makna, krisis empati, krisis identitas, dan krisis hubungan manusia dengan alam maupun sesamanya.
Jika pendidikan hanya mengejar efisiensi industri, maka manusia bisa menjadi sangat canggih secara teknis, tetapi miskin secara batin dan sosial. Itulah sebabnya seni dan humaniora penting: seni melatih sensitivitas, filsafat melatih refleksi, sastra melatih imajinasi, sejarah melatih kesadaran waktu, antropologi melatih pemahaman terhadap keberagaman manusia. Semua itu adalah “otot kemanusiaan” yang sulit direplikasi mesin. Paradoks: Semakin maju AI, semakin penting kualitas manusia yang tidak sepenuhnya bisa diotomatisasi. Ya… Di sinilah adanya paradoks besar di abad ini. Ketika AI mengambil alih pekerjaan yang repetitif dan teknis, nilai manusia justru bergeser ke wilayah yang paling “manusiawi”. Dulu banyak orang mengira masa depan hanya membutuhkan: Hafalan, kepatuhan prosedur, kemampuan administratif, dan produksi massal. Tetapi AI kini mampu: menulis laporan, membuat desain, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, bahkan menggubah musik dan video. Akibatnya, keunggulan manusia tidak lagi terletak pada sekadar “lebih cepat menghitung” daripada mesin.
Yang mampu menjadi pembeda adalah: Kedalaman makna, intuisi, kebijaksanaan, sensitivitas etis, keberanian moral, dan kemampuan membaca kompleksitas hidup. Karena hidup manusia bukan hanya soal efisiensi. Sebagai contoh nyatanya: dokter terbaik bukan hanya yang hafal diagnosa, tetapi yang mampu memberi empati pada pasien; dan Guru yang terbaik itu bukan hanya penyampai materi, tetapi pembentuk jiwa dan rasa ingin tahu; dan Seniman bukan sekadar pembuat bentuk, tetapi penerjemah pengalaman manusia; pemimpin juga bukan hanya pengolah data, tetapi pembaca arah peradaban. AI bisa membantu keputusan, akan tetapi belum tentu memahami masalah rasa: penderitaan, martabat, ketakutan eksistensial, atau makna pengorbanan manusia. Di sinilah seni dan humaniora menjadi penting kembali karena fungsi dan peran Seni melatih manusia menghadapi ambiguitas. Aspek dalam Filsafat melatih manusia mempertanyakan arah. Dalam aspek Sastra itu adalah melatih manusia memahami batin orang lain. Aspek Sejarah itu mengingatkan bahwa kemajuan teknis tidak selalu berarti kemajuan moral.
Karena itu, paradoks modern muncul: Dunia akan semakin dipenuhi otomatisasi, dan juga akan semakin mahal nilai kemanusiaan yang otentik. Bahkan ekonomi masa depan kemungkinan besar akan semakin menghargai: kreativitas asli, kemampuan lintas disiplin, storytelling, desain pengalaman, empati sosial, diplomasi budaya, dan pemikiran visioner. Oleh karena hal-hal seperti itu maka akan sulit diproduksi massal oleh mesin, karena lahir dari: pengalaman hidup, kesadaran budaya, konflik batin, dan refleksi eksistensial manusia. Jika pendidikan hanya mencetak operator teknis, maka manusia akan kalah oleh AI. Akan tetapi jika pendidikan membentuk manusia yang kreatif, reflektif, berbudaya, dan mampu memberi makna, maka AI justru menjadi alat yang memperluas potensi manusia, bukan menggantikannya.
Sekian terima kasih …
Bandung, 13.Mei.2026









