Film “Pesta Babi” ini adalah memang sebuah gambaran kolonialisme di zaman kita.
Sebelum menjadi polemik, karena kampus ISBI Bandung juga menyelenggarakan screening filem yang sedang jadi perhatian. Apabila ada pihak eksternal mempertanyakan dan atau cenderung menyampaikan penolakan terhadap kegiatan semacam ini, memang harus dijelaskan bahwa dalam ruang akademik kegiatan ini bersifat kajian ilmiah, apalagi di kampus ISBI Bandung punya jurusan filem.

Apresiasi pada teman-teman mahasiswa dan jurusan filem ISBI Bandung Hari Kamis, Jam 17.00, Tanggal 14.Mei.2024, di GOR Patanjala ISBI Bandung yang menyelenggarakan diskusi filem di lingkungan kampus.
Film itu sering menjadi sumber medium untuk membaca realitas situasi kondisi sosial-politik, termasuk relasi kuasa, kekerasan simbolik, dan bentuk-bentuk kolonialisme baru. Dalam konteks akademik, pemutaran dan diskusi film bukan semata hiburan, tetapi bagian dari tradisi intelektual: menguji gagasan, membaca simbol, dan melatih daya kritis mahasiswa.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Institut Seni Budaya Indonesia Bandung melalui jurusan film dapat dipahami sebagai bagian dari kebebasan akademik dan ruang dialektika seni. Kampus memang seharusnya menjadi ruang aman untuk membedah karya, termasuk karya yang kontroversial sekalipun, selama dilakukan dalam kerangka ilmiah, diskursif, dan bertanggung jawab.
Pernyataan bahwa “Film Pesta Babi adalah gambaran kolonialisme di zaman kita” juga menarik dibaca sebagai tafsir sosial. Kolonialisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan fisik seperti masa lalu, tetapi dapat muncul melalui: dominasi ekonomi, penguasaan budaya dan informasi, eksploitasi sumber daya, manipulasi opini publik, hingga normalisasi kekerasan melalui media dan politik identitas.
Dalam kajian film dan humaniora, justru karya-karya yang memantik polemik sering menjadi bahan penting untuk memahami: bagaimana masyarakat bereaksi terhadap simbol, bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana seni memotret kegelisahan zaman.
Apresiasi layak diberikan kepada mahasiswa dan jurusan film di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang berupaya menjaga tradisi diskusi kritis di lingkungan kampus. Tradisi semacam ini penting agar kampus tidak kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang berpikir, bukan sekadar ruang administratif pendidikan. Kegiatan diskusi film di GOR Patanjala ISBI Bandung juga menunjukkan bahwa seni tidak berdiri terpisah dari realitas sosial. Film dapat menjadi cermin zaman: kadang nyaman ditonton, kadang justru mengusik kesadaran.
Sekian Terimakasih
Bandung, 13.Mei.2026









