GELORA SUMPAH PEMUDA: BERSATU DI TENGAH GENERASI YANG TERPECAH

GELORA SUMPAH PEMUDA

Setiap 28 Oktober, kita kembali mengucapkan tiga ikrar yang telah menjadi fondasi kebangsaan: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sejarah yang melahirkannya tidak pernah sederhana. Sumpah Pemuda 1928 bukan tombol ajaib yang seketika menyatukan seluruh anak bangsa. Itu adalah titik awal, sebuah deklarasi niat yang kemudian harus diperjuangkan, dinegosiasikan, dan dirawat terus-menerus di tengah perbedaan suku, bahasa, agama, kepentingan, dan pandangan politik.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Para pemuda saat itu, tidak menunggu semua perbedaan menghilang untuk menyatakan persatuan. Mereka justru menyadari bahwa persatuan diperlukan karena perbedaan itu nyata. Mereka tidak harus menjadi manusia yang seragam untuk memiliki cita-cita kebangsaan yang sama.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Di sinilah makna Sumpah Pemuda sering kali luput dari pemahaman generasi sekarang. Kita terlalu sibuk menghafalkan bunyi ikrarnya, tetapi kurang memberi perhatian pada pekerjaan sosial yang harus dilakukan setelah ikrar itu diucapkan. Persatuan bukan warisan yang otomatis hidup hanya karena pernah dinyatakan oleh generasi terdahulu. Ia harus terus dibuktikan melalui sikap, tindakan, dan kesediaan menerima orang lain sebagai bagian dari kehidupan bersama.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Ironisnya, saat teknologi digital membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berkomunikasi tanpa batas geografis, kita justru menyaksikan kecenderungan baru: masyarakat semakin mudah dikelompokkan.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Media sosial menawarkan pengikut, popularitas, monetisasi konten, aset digital, blog, hingga berbagai layanan ekonomi kreatif. Semua itu bukan sesuatu yang keliru. Generasi muda berhak memanfaatkan teknologi untuk berkarya, membangun usaha, dan memperoleh penghasilan. Persoalannya muncul ketika perhatian manusia berubah menjadi komoditas, sementara perbedaan dijadikan bahan untuk menarik keterlibatan.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Konten yang memancing kemarahan sering lebih cepat menyebar daripada percakapan yang menenangkan. Identitas kelompok dijadikan alat untuk mengumpulkan pengikut. Orang didorong membela kelompoknya sendiri, mencurigai kelompok lain, bahkan merasa perlu merendahkan pihak yang berbeda agar terlihat paling benar.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Kita sedang menghadapi paradoks kebudayaan digital: semakin mudah manusia terhubung, semakin mudah pula mereka terpisah secara psikologis.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Dalam perspektif sosiologi, keadaan ini berkaitan dengan terbentuknya kelompok sosial yang memiliki identitas, kepentingan, dan batas keanggotaan masing-masing. Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut melalui algoritma yang menyajikan konten berdasarkan perilaku dan minat pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terus-menerus berada dalam ruang informasi yang membenarkan pandangannya sendiri. Ia merasa sedang memahami dunia, padahal mungkin hanya sedang mendengar gema dari pikirannya sendiri.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Dampaknya bukan sekadar perbedaan pendapat. Ketika identitas kelompok menjadi lebih penting daripada kemanusiaan, dialog berubah menjadi pertarungan. Kritik dianggap serangan, perbedaan diperlakukan sebagai ancaman, dan popularitas sering disalahartikan sebagai kebenaran.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Di tengah situasi seperti ini, Sumpah Pemuda perlu dipahami kembali sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar romantisme sejarah. Persatuan tidak menuntut semua orang memiliki pendapat yang sama. Persatuan menuntut kemampuan untuk tetap menghormati martabat manusia meskipun berbeda pendapat.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Karena itu, generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar ajakan untuk mencintai Indonesia. Mereka membutuhkan ruang nyata untuk mengalami keberagaman, bekerja bersama, dan menghasilkan sesuatu tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Kolaborasi seni dan kebudayaan, misalnya, dapat menjadi salah satu ruang perjumpaan tersebut. Ketika musik Sunda bertemu musik Tionghoa, ketika komunitas yang berbeda latar belakang berada dalam satu panggung, keberagaman tidak lagi berhenti sebagai slogan. Ia hadir sebagai pengalaman sosial yang dapat dirasakan bersama.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Dalam semangat itulah, kegiatan “GELORA SUMPAH PEMUDA DI GEDUNG HOA” yang mempertemukan unsur seni dan budaya Sunda-Tionghoa di Bandung menjadi relevan. Perjumpaan semacam ini mengingatkan kita bahwa kebudayaan bukan milik satu kelompok. Ia tumbuh dari kesediaan untuk saling memberi ruang.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Di sinilah persoalan memberi contoh dan menjadi contoh menemukan jawabannya. Memberi contoh dapat dilakukan melalui pidato, unggahan, atau ajakan tentang persatuan. Namun, menjadi contoh menuntut konsistensi: bersedia bekerja sama dengan orang yang berbeda, tidak menjadikan identitas sebagai alasan untuk merendahkan, dan tidak mengorbankan nilai kemanusiaan demi popularitas.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Generasi muda tidak cukup hanya memproduksi konten tentang nasionalisme. Mereka perlu menghadirkan tindakan yang membuat nasionalisme memiliki arti, dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, cinta tanah air tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengibarkan simbol kebangsaan di ruang digital, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama warga negara.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Sumpah Pemuda telah diucapkan hampir satu abad lalu. Namun, pekerjaan untuk mewujudkan maknanya belum selesai. Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Jika generasi 1928 menghadapi sekat-sekat kolonial dan kedaerahan, generasi hari ini menghadapi sekat algoritma, polarisasi, kepentingan ekonomi digital, dan budaya popularitas.(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

Indonesia tidak membutuhkan generasi muda yang hanya pandai mengucapkan persatuan, tetapi generasi yang sanggup mempraktikkannya. Sebab, Sumpah Pemuda bukan sekadar suara yang pernah menggema pada 1928. Ia harus menjadi tindakan yang terus bergema dalam kehidupan hari ini. (jbp 31/10/2026)(Source: kosapoin.com/gelora-sumpah-pemuda-bersatu-di-tengah-generasi-yang-terpecah)

MENAK: BIROKRAT ALA SUNDA
Baca Tulisan Lain

MENAK: BIROKRAT ALA SUNDA

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.43
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *