[Judul Karya Sodara ini adalah memakai Nada Salendro padantara dengan mikroton 20 Nada dalam 1 Oktav, dengan menggunakan 4 instrumen Kacapi yang setiap kacapi berjumlah 20 Dawai]
Jika tertarik ingin mengkaji Karya SO-DA-RA (SORA NADA SWARANTARA) ini secara konseptual, gagasan karya Dody Satya Ekagustdiman yang menggunakan Salendro Padantara dengan 20 nada dalam satu oktaf dan dimainkan melalui empat kacapi yang masing-masing memiliki 20 dawai dapat dipahami sebagai sebuah eksplorasi mikrotonal yang memperluas sistem laras Sunda tradisional.
Pendekatan Mikrotonal: Dalam sistem salendro tradisional, nada-nada tidak selalu ditempatkan pada interval yang identik dengan sistem 12 nada Barat. Ketika oktaf dibagi menjadi 20 nada, maka ruang antar nada menjadi lebih rapat dan memungkinkan munculnya: Nada peralihan (transitional tones), Ornamentasi yang lebih halus, dan Pergeseran intonasi yang sangat kecil.
Nuansa resonansi yang tidak dapat dicapai oleh sistem diatonik biasa.
Secara teoritis, pembagian 20 nada dalam satu oktaf menghasilkan interval rata-rata sekitar 60 cents per langkah apabila dibagi merata. Namun dalam konsep laras Sunda, pembagian tersebut belum tentu bersifat matematis sama rata, karena dapat mengikuti pertimbangan rasa (raos) dan fungsi musikal.
Fenomenologi Salendro Padantara: Bila dikaitkan dengan pemikiran laras Sunda, mikroton di sini tidak hanya menjadi persoalan teknis akustik, melainkan pengalaman estetis. Pendengar dapat mengalami: Ruang bunyi yang lebih luas, dan gradasi emosional yang lebih kaya, serta sensasi “mengambang” di antara pusat-pusat nada, dan juga gerak melodi yang lebih lentur dan organik.
Dalam perspektif fenomenologi musik, yang hadir bukan sekadar dua puluh titik nada, melainkan suatu medan resonansi tempat nada-nada saling berhubungan melalui spektrum mikro-interval.
Fungsi Empat Kacapi: Empat kacapi yang masing-masing memiliki 20 dawai membuka kemungkinan polifoni dan heterofoni yang unik: Kacapi dasar (kerangka laras), Kacapi pengisi mikro-interval, dan Kacapi ornamentasi atau improvisasi, serta Kacapi resonansi dan drone.
Dengan susunan demikian, maka setiap instrumen dapat menempati wilayah frekuensi dan fungsi musikal yang berbeda sehingga menghasilkan tekstur suara yang lebih kompleks dibandingkan permainan kacapi tunggal.
Posisi dalam Tradisi dan Inovasi: Secara etnomusikologis, pendekatan seperti ini dapat dipandang sebagai: Berakar pada konsep laras Sunda, Mengembangkan kemungkinan baru dalam sistem salendro, dan Memperluas praktik mikrotonal Nusantara, serta Menjembatani tradisi lokal dengan wacana musik mikrotonal dunia.
Walaupun berbeda dari sistem mikrotonal Barat yang biasanya dirumuskan melalui pembagian matematis oktaf tertentu (19-TET, 24-TET, 31-TET, dan sebagainya), konsep seperti ini tetap dapat dipahami sebagai sebuah sistem mikrotonal karena menggunakan nada-nada di antara interval yang lazim dipakai dalam sistem Barat modern.
Sebagai Refleksitas Estetis: Apabila Salendro Padantara 20 nada diposisikan sebagai sebuah karya artistik, maka yang menjadi pusat perhatian bukan semata jumlah nadanya, melainkan bagaimana mikro-interval tersebut membangun pengalaman mendengar yang baru. Dan dalam karya ini pendengar diajak memasuki wilayah bunyi yang lebih halus, di mana setiap pergeseran nada memiliki makna ekspresif dan rasa yang khas.
Dengan demikian, maka konsep ini dapat dibaca sebagai upaya memperluas horizon laras Sunda melalui eksplorasi mikrotonal, sambil tetap mempertahankan prinsip dasar bahwa musik tidak hanya diukur oleh frekuensi, tetapi juga oleh rasa, resonansi, dan pengalaman batin yang lahir dari fenomena perjumpaan antara bunyi dan pendengar.
Sekian dan Terimakasih…
Bandung, 12.Juni.2026









