Obrolan imajiner bersama Nana Munajat Dahlan
“Tong eleh geleng atuh, kang ”.
“Soalna rada heurin letah euy. Mangkana kuring menta bantuan ka didinya teh, poek euy!”
“Ah, jiga lain seniman wae dikau mah. Seniman mah tong eleh ku kaayaan anu geus jadi kabiasaan salah jadi bener”.
“Tah, tah cik atuh kumaha?”
Pertemuan saya dengan kang Nana saat terjadi obrolan di kantor Redaksi Galura. Ketika itu saya ada beberapa hal pembahasan mengenai Forum FIlm Bandung dengan kang Eddy D. Iskandar dan kang Rosyid E. Abby.
Saat akan pulang, kang Nana memanggil dan kami berdua ngobrol ngaler-ngidul dan ujungnya minta bantuan saya untuk membantu pelaksanaan kegiatan yang sedang digarapnya, yaitu Ngalokat Cai Ngalokat Diri Situ Ciburuy. Dari obrolan sepintas tersebut, kang Nana prihatin terhadap keberadaan Situ Ciburuy saat kemarau tiba airnya tidak ada. Situ menjadi ajang balapan motor dan main warga sekitar. Padahal tahun-tahun sebelumnya Situ Ciburuy bila kemarau selalu ada airnya, kalaupun surut tidak sampai setengah volume airnya apalagi sampai kering.
Usut punya usut ternyata sumber air yang menjadi pasokan utama Situ Ciburuy sudah dibeli atau dimiliki oleh perusahaan untuk usaha. Air dari hulu dialirkan melalui pipa besar untuk memproduksi air mineral. Perusahaan tersebut memberikan pipa untuk diarahkan ke Situ Ciburuy, tapi pipanya lebih kecil dari pada pasokan ke perusahaan air mineral tersebut. Sangat dipahamilah kang Nana menjadi sangat prihatin melihat keberadaan Situ Ciburuy, saat kemarau airnya pun ikut surut dialirkan ke sumber produksi air mineral.
Kang Nana ingin mengembalikan marwah Situ Ciburuy dengan wisata airnya naik perahu-perahu yang dikelola oleh Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Bandung Barat serta area mancing bagi para mancing mania. Akhirnya saya pun bersedia menemani kang Nana untuk Ngalokat Cai Ngalokat Diri Situ Ciburuy, karena sejak lama saya pun aktif dalam kepedulian lingkungan.
Obrolan selanjutnya kami berdua membahas soal tata kelola teknis acara ngalokat. Karena merasa sudah tidak bisa lagi memiliki air dari hulu dan hak untuk mengalirkan ke Situ Ciburuy pun dipatok hanya sedikit. Maka kami berdua berencana untuk membuat hal itu menjadi ‘riuh’.
“Jadi kumaha tah carana?”.
“Kang Nana, Supaya hal ini menjadi ramai maka seminggu sebelum pelaksanaan Ngalokat Cai, kita harus mengadakan Jumpa Pers tempatnya di Situ Ciburuy. Kang Nana bisa kontak rekan-rekan Pers untuk hadir dan bisa juga minta bantuan kang Retno dari pikiran Rakyat untuk kontak rekan yang lainnya”.
“Terus pejabat perlu diondang?”
“Ah, teu kudu jumpa Pers mah, matak riweuh engke na. Pejabat Pamarentah mah engke wae di acara gempungan ngabahas rek kumahakeun eta hulu cai supaya ka Situ Ciburuy ka agehan deui.
“Terus urang ruwat wae sakalian Situ Ciburuy teh nya, ngarah ngawarah ka masyarakat di sabuderan kudu bersih teu miceun runtah di sisi Situ”.
“Hade, kang”
“Tong hilap poe Minggu di Ciburuy urang bahas ka barudak soal teknis jumpa Pers jeung sagala rupana”. Saya mengangguk. Kami pun pisah.
**
Setelah acara jumpa Pers, banyak sekali media cetak memuat keberadaan mata air yang sudah beralih kepemilikan kepada sebuah perusahaan karena oknum yang menjual lahan di area mata air. Akibatnya para wartawan banyak yang berdatangan ke kawasan Situ Ciburuy terutama ke area mata air, setelah itu para insan Pers mencari data dan fakta ke warga dan pejabat Kepala Desa, RW dan lain sebagainya. Provinsi Jawa Barat melalui dinas terkait mulai melirik dan peduli setelah membaca pemberitaan mengenai kondisi Situ Ciburuy.
Dengan segala keterbatasannya kegiatan tersebut tetap terlaksana dengan ‘daya’ juang dari Kang Nana dan warga yang masih peduli terhadap ‘marwah’ Situ Ciburuy. Para Pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Komunitas Seni Budaya tradisi dan modern, Para Wartawan tumplek hadir pada acara pembukaan sampai acara gempungan malam hari. Para wartawan ingin mengorek keterangan serta kebijakan pemerintah berkaitan dengan mata air yang dimiliki oleh perusahaan. Diskusi berjalan seru antara pejabat, praktisi seni, budayawan dan para wartawan sebagai pencari data dan fakta untuk bahan cetak esok hari.
Tak terasa malam semakin tua. Saya segera bersiap untuk pulang. Jarak dari Ciburuy ke rumah cukup lumayan jauh tak bisa masuk tol karena saya pakai kendaraan roda dua. Saat makanan tradisional disodorkan di lingkaran gempungan, saya pamit ke kang Nana karena jarak tempuh yang cukup lumayan jauh.
“Wilujeng, kang. Moal poek ayeuna mah…”
“ Ayeuna mah babakti wae heula ya, engke babati mah nuturkeun.Hatur nuhun, lur!”. Sambil tertawa-tawa khas kang Nana, saya pun pamit.
Perjalanan malam menjadi sangat berarti meski dingin sudah mulai terasa sampai kulit muka. Laju motor sengaja tidak dipacu cepat. Rasanya ingin menikmati perjalanan malam dengan santai dan nyaman. Jalanan tumben sepi. Dalam kesunyian tak terasa saya melantunkan lagu karya dari sang maestro, yaitu Benny Corda.
Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe
Panon poe disasate
Unggal bulan
Unggal bulan abdi teang
Unggal poe, unggal poe
Unggal poe oge hade
Situ Ciburuy
Laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina
Duh eta saha nu ngalangkung
Unggal enjing
Nyeredet hate
Ningali sorot socana
Nampak sang Dewi Bulan memperlihatkan cerlangnya dalam nuansa purnama. Entah kenapa saya tetiba ingat kang Nana yang saat itu sangat semangat untuk menjaga, merawat, memuliakan, memelihara dan mensyukuri serta prihatin terhadap keberadaan Hulu Cai atau Mata Air yang secara perlahan bahkan diam-diam sudah beralih fungsi dan personal.
Masih bersenandung Bubuy Bulan, selintas terngiang saat tadi berpisah.
“Taun hareup bantuan deui Ciburuy Festivalnya?!”. Saya mengangguk.
“Insya Allah, kang”
“Hurip Sunda!” kang Nana sambil mengepalkan telapak tangannya penuh energi dan terlihat tenteram. Saya pun mengacungkan tiga jari ala metal; “Sangkan hirup urang hurip, kang!!”
Bulan sembunyi entah dimana. Jalanan lengang. Nampak Penjaja malam mulai riuh. Saya pun memacu dalam kesenyapan malam.
Duh. Pileuleuyan, kang.
(3 Desember 1958 – 27 Mei 2021)
Bandung, Caladi 12 Juni 2026




….Mata air..
Air mata !
Alfatihah buat Kang Nana munajat.
Miang ka Alam langgeng tempat dimana air mengalir di bawahnya.
Setiap tetes air di Ciburuy dan mata air dimanapun yang diperjuangkan kelestariannya Insya Allah akan mengalir menjadi pahala. Dan syurga itu tempat yang sebaik- baiknya untukmu. Aamiin ya rabbal Al-Amin 🤲💝
Hatur nuhun atas apresiasi tentang air. Semoga mengalir dengan perlahan-lahan mengikuti langkah almarhum. Aamiin Allahumma Aamiin. Memang kalau kita bicara soal air, maka yang paling dekat dengan adalah air mata. Air mat Inilah kejujuran yang paling dekat dengan kita saat peristiwa terjadi atau hanya sekedar lewat, baik suka-duka, do’a-dosa selalu saja air mata inilah yang menjadi bahasa yang paling jujur. Hatur nuhun, kang Heri.