Di luar jendela, udara terasa dingin dan malam begitu amat terasa panjang bagi para siswa yang tengah beraktifitas rutin dalam bulanan. Namun bagi Rian, di ini malam tak ubanya ia tengah berada di ujung tanduk, bagaimana tidak—input data tak selesai-selesai disebabkan beberapa faktor. Sementara, jarum jam di ruang tata usaha sudah lewat angka sembilan malam. Di luar, sayup-sayup terdengar suara riuh rendah anak-anak yang sedang mengantre wudu di musala madrasah. Malam itu sedang diadakan acara Mabit bulanan. Namun bagi Rian, malam bina iman itu justru jadi malam uji nyali di depan monitor komputer inventaris. Jajaran tabel Excel dan portal EMIS-nya masih setengah kosong, padahal target sinkronisasi tinggal beberapa jam lagi dan server pusat Kemenag terus-terusan eror.
Napas Rian mendadak tertahan saat sebuah bayangan hitam melesat cepat dari balik tumpukan berkas proposal bantuan madrasah, lalu berhenti tepat di samping tetikusnya. Seekor coro. Panjang, ramping, pipih, dengan dua antena yang bergerak-gerak cepat. “Sialan,” desis Rian.
Stres akibat sistem yang lambat langsung berpindah sasaran. Rian berdiri, menyambar buku tebal panduan pengelolaan anggaran di atas meja. Posisi badannya membungkuk, siap menghempaskan buku itu dengan sekuat tenaga ke atas meja kerja. “Coro ini harus mati, kotor dan mengganggu jalannya pekerjaan negara,” pikirnya.
“Jangan dipukul, Pak Rian.” Suara itu lembut, tapi sukses membuat gerakan tangan Rian membeku di udara. Mila berdiri di ambang pintu TU yang terbuka, menenteng tas mukenanya. Sebagai pembina siswi, dia baru saja selesai menemani anak-anak kajian malam sebelum mereka tidur di kelas-kelas madrasah. Jilbab instannya rapi, dan entah karena efek lampu TL yang remang atau apa, Rian selalu merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat tiap kali guru agama baru itu ada di dekatnya.
Rian buru-buru menurunkan buku, mencoba tetap terlihat berwibawa meski posisinya agak canggung. “Coro, Bu Mila. Jorok, nanti malah lari acak dan nyelip masuk ke dalam tumpukan berkas, bertelur, pipis dan berak di sana.”
Mila tidak mendekat, tapi matanya menatap botol plastik bekas yang ada di keranjang sampah dekat meja Rian. “Dikurung saja pakai itu, Pak. Jangan dibunuh. Kasihan, dia hanya numpang lewat.”
“Tapi ini ruang kerja, Bu. Hewan begini nggak ada fungsinya sama sekali selain bikin kotor,” sanggah Rian. Agak keras kepala, khas operator yang biasa mempertahankan argumen data.
Mila tersenyum tipis—lengkung senyumnya itu yang membuat Rian mendadak lupa berapa digit angka yang harus dia input tadi. Mila mengambil botol plastik tersebut, lalu dengan gerakan pelan dan pasti, menangkup coro yang bertubuh pipih itu saat si pencari makanan sisa mulai bergerak gelisah di tepi meja.
“Emas memang mahal, Pak Rian, tapi kalau kita lapar, ya tidak bisa dimakan. Tanah di luar sana kelihatan kotor, sering kita injak, tapi kita tetap butuh tanah itu buat menumbuhkan padi,” kata Mila sambil membawa botol berisi coro itu berjalan ke arah pintu yang menghadap ke kebon belakang madrasah.
Rian mengikuti langkah Mila dengan pandangan matanya. “Apa hubungannya emas sama coro, Bu?” Mila tak buru-buru menjawab, membuka pintu, membiarkan angin malam Nagaratengah masuk, lalu melepas coro itu ke semak-semak gelap di bawah pohon mahoni.
“Semua yang diciptakan Allah itu ada porsinya, Pak. Lingkaran hidup ini butuh coro untuk mengurai sampah di bawah sana agar tanahnya subur. Mereka bekerja diam-diam, menjalankan tugasnya tanpa pernah mengeluh atau bikin pusing seperti sistem EMIS,” Mila terkekeh kecil, melirik Rian.
Rian terdiam. Argumennya untuk memusnahkan coro tadi mendadak runtuh, menguap bersama angin malam. Ada rasa malu yang tiba-tiba menyergap batinnya, bercampur dengan rasa kagum yang semakin tak karuan—bergemuruh di sebalik dadanya.
Rian melihat ke luar jendela yang gelap. Selama ini Rian merasa sebagai manusia yang paling sibuk dan memegang kendali atas data seluruh madrasah. Namun malam ini, lewat perkataan guru agama di sampingnya, Rian tersadar. Di luar ruang TU yang pengap ini, di dalam tanah yang gulita, makhluk-makhluk kecil yang Rian anggap menjijikkan justru sedang sibuk bekerja menjaga keseimbangan alam yang mahaluas.
“Batu tidak bisa memilih mau diam atau menggelinding, Pak Rian, tapi kita manusia diberi kebebasan untuk memilih. Mau pakai tangan kita buat merawat, atau malah merusak karena ego kita,” lanjut Mila, sambil merapikan tas mukenanya.
Rian mengangguk pelan, tangannya yang tadi memegang buku tebal kembali di simpan di atas meja. Gengsinya kalah total oleh kalimat sederhana itu. “Iya, Bu. Benar.”
Dari arah koridor, terdengar suara mikrofon musala dites, tanda acara malam mabit akan berlanjut ke sesi istirahat tidur. Mila berjalan menuju pintu keluar. “Saya kembali ke kelas anak-anak dulu ya, Pak. Jangan kemalaman, nanti malah eror datanya.”
“Mari, Bu. Hati-hati, koridornya agak gelap,” sahut Rian, matanya melepas kepergian Mila sampai bayangannya hilang di belokan koridor.
Rian kembali duduk di depan monitor. Suasana ruang TU terasa berbeda sekarang. Seterusnya, Rian kembali menatap layar komputer, lalu melirik jendela yang masih terbuka sedikit. Tangannya kembali mengetik, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Sebab, apa yang terlihat sepele dalam pandangan matanya yang lelah, belum tentu kecil dalam pengetahuan Allah.
Ciampanan, 4 Juni 2026









