Pejabat, Rakyat dan Batu Satangtung

politik adat

Pejabat atau birokrat harus sadar, dia asal dari rakyat, besok-besok juga kalau berakhir menjabat atau dipecat pasti jadi rakyat lagi. rakyat digugat tetap jadi rakyat, demokrasi pancasila menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat—bukan di tangan pejabat. Rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang bermartabat. Rakyat yang bermartabat adalah bukan rakyat yang disumpal dengan uang pejabat /birokrat, tapi mereka yang taat pada adat istiadat kebangsaannya. Rakyat yang bermartabat adalah mereka yang taat melaksanakan amanat leluhur bangsanya. Rakyat yang bermartabat adalah mereka yang meskipun dikhianat dan ditipu muslihat tapi tetap kuat dan tidak goyah sejengkal tanah pun membela hak adat dan tanah adat nya.(Source: kosapoin.com/pejabat-rakyat-dan-batu-satangtung)

Mereka yang berkoar, menggeliat karena tersumbat aliran pikiran jernihnya, hanya senang sesaat setelah menerima bingkisan “berkat” dan buang hajat. berkelindan dengan nafsu sesaat menghujat adat leluhurnya, tapi tersesat dalam jurang sahwat kualat bersama pejabat yang esok pun kena tulah laknat dari amanat tradisi adat leluhur. Nampak gundah gulana. siang malam duduk gak enak pantat. tidur pun gak bisa mimpi nikmat. Sungguh tersesat dalam kubangan harta, tahta, wanita dan mudarat.(Source: kosapoin.com/pejabat-rakyat-dan-batu-satangtung)

Mereka datang dengan tangan terkepal dan mulut ternganga membuncah. yang didapat hanya batu satangtung. yang tegak menatap bisu para pembuncah narasi dagangan pembenaran. Diam-diam mereka berpikir sejuk sekali udara disini. Kelak kalau mati pun ingin rasanya terkubur di tanah yang udaranya sejuk di kaki gunung, bukan di padang gurun yang kering kerontang tak ada gunung hijau menjulang tinggi. Tapi itu pikiran sesaat, karena aliran darah jernih ke otak sudah tersumbat oleh “bingkisan berkat” dari uang pejabat dan para pelaknat adat istiadat. Kembali pulang dengan mulut tersumbat kebingungan. berteriak hanya memekakan telinga sendiri. Sementara rakyat bermartabat menyimak tontonan drama kepongahan rakyat penista adat dan pejabat tak berakhlak adat, yang ditogkrongi oleh batu satangtung. (Source: kosapoin.com/pejabat-rakyat-dan-batu-satangtung)

Mungkin batu satangtung terheran-heran, kenapa banyak orang melarang dirinya tidak boleh nangtung mandiri? Padahal batu satangtung itu bisa nangtung atau berdiri karena semangat adat gotongroyong para kaum rakyat bermartabat. bahkan semua bangsa di dunia pun berjuang berlomba untuk nangtung mandiri. Berlomba untuk bangkit berdikari mandiri dalam pijakan budaya sendiri di tanah airnya sendiri. Sementara mereka rakyat pembuncah nada pembenaran dan pejabat yang datang berkepala batu tidak pernah berkeinginan untuk nangtung mandiri, berdaulat dalam kebudayaan bangsanya sendiri. Terjajah berkepanjangan dalam buaian wacana surgawi yang nun jauh disana. padahal bumi pertiwi nusantara ini, adalah surgawi dunia yang diburu dan diperebutkan berbagai bangsa di dunia. Hanya rakyat yang beradat istiadat kebangsaannyalah, mereka rakyat bermartabat dan peneguh keutuhan keragaman adat dan budaya nusantara…”(Source: kosapoin.com/pejabat-rakyat-dan-batu-satangtung)

BANTUAN “HARAM” 
Baca Tulisan Lain

BANTUAN “HARAM” 

Ira Indrawardana

Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *