Di tengah lanskap musik populer yang sering seragam, muncul tiga perempuan kreator seni bunyi yang bergerak di wilayah eksplorasi, eksperimental, dan pencarian identitas sonik Indonesia kontemporer: Mita Kulsum, Dinar Rizkianti, dan Gema Swaratyagita. Mereka bukan sekadar “musisi”, tetapi pencipta ruang dengar—mengolah bunyi sebagai tubuh budaya, memori, ritus, hingga kritik sosial.
Gema Swaratyagita di antara ketiganya, Gema mungkin yang paling jelas terdokumentasi dalam jalur musik eksperimental Indonesia kontemporer. Ia bergerak lintas disiplin: komposisi, teater, tubuh, suara, visual, dan performans. Karya-karyanya tidak mengejar “lagu enak”, melainkan pengalaman mendengar. Dalam proyek seperti Liring: Sound of Differences dan kolektif Laring Kolektif, suara manusia diperlakukan bukan hanya sebagai medium melodi, tetapi sebagai tekstur emosional dan ruang psikologis. Yang menarik dari Gema adalah keberaniannya mempertemukan; musik kontemporer Barat, teater tubuh, idiom tradisional Nusantara, dan eksplorasi vokal yang nyaris ritualistik. Ia pernah terlibat dalam forum internasional seperti Holland Festival melalui program Ruang Suara, yang menampilkan generasi baru komponis Indonesia dengan pendekatan sonik inovatif. Secara artistik, pendekatan Gema mengingatkan pada gagasan bahwa bunyi bukan sekadar hiburan, melainkan “ruang kesadaran”.
Mita Kulsum merepresentasikan energi kreatif Bandung yang terkenal “motekar”: cair, eksperimental, dan tidak takut mencampur idiom tradisi dengan pendekatan urban-modern. Dalam konteks Bandung, seni bunyi sering lahir bukan dari institusi besar, tetapi dari: ruang alternatif, komunitas, laboratorium bunyi, pertunjukan kecil, hingga kolaborasi lintas media. Karakter kreativitas seperti ini dekat dengan semangat kota Bandung yang sejak lama melahirkan eksperimen musik independen—mulai dari noise, ambient, elektronik, hingga eksplorasi gamelan kontemporer. Mita berada dalam jalur kreator yang melihat bunyi sebagai: atmosfer, tubuh emosional, dan pengalaman ruang. Bukan hanya “musik dimainkan”, tetapi “bunyi dihidupkan”.
Dinar Rizkianti menarik karena berada di simpang; kreativitas urban Jakarta, sensibilitas artistik perempuan, dan eksplorasi media bunyi yang tidak linear. Di Jakarta, seni bunyi sering bersentuhan dengan: teknologi, multimedia, ruang performatif, video art, dan kritik terhadap ritme kota modern. Kreator seperti Dinar menjadi penting karena mereka menghadirkan perspektif yang lebih subtil: bunyi sebagai pengalaman batin, bukan sekadar produksi audio. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, kehadiran perempuan kreator bunyi masih belum terlalu banyak terekspos dibanding musisi mainstream. Karena itu, figur seperti Dinar penting sebagai: pembuka ruang, pengarsip sensibilitas baru, dan penggeser dominasi maskulin dalam musik eksperimental.
Tiga Sosok Ini Menunjukkan Sesuatu yang Penting dari ketiganya yang memperlihatkan bahwa; musik Indonesia masa depan tidak hanya lahir dari industri, tetapi dari eksplorasi bunyi, tubuh, ruang, dan kesadaran. Mereka bergerak di wilayah yang sering tidak populer secara pasar, tetapi justru penting secara kebudayaan. Di era algoritma dan musik instan, seni bunyi eksperimental menjadi semacam “perlawanan sunyi”: melawan homogenisasi, melawan banalitas audio digital, dan mengembalikan aktivitas mendengar sebagai pengalaman yang utuh. Fenomena ini juga sejalan dengan tumbuhnya minat terhadap: gamelan eksperimental, ambient Nusantara, elektro-akustik, hingga kolaborasi lintas tradisi dan teknologi.
Mita Kulsum komposer yang berasal dari Bandung merupakan vokalis dan Praktisi Seni. Menekuni khusus di bidang vokal tradisi, selain tehnik vocal kepesindenan, kawih dan tembang menekuni tehnik vocal jawa dan eksperimental (heavy metal, mongol dll). Sebagai praktisi Seni bidang lakon dan teater tubuh, penata suara serta aktif sebagai anggota management event di Bandung. Karya Baru Seni Bunyi Antimainstream/Kontemporer dari Mita Kulsum saat ini; berjudul: Nga-Juru adalah karya audio visual eksperimental yang mencoba melihat suara bukan cuma sebagai hiburan atau atraksi, tetapi sebagai sesuatu yang hidup yang bisa menyentuh tubuh, pikiran dan ingatan secara langsung. Diambil dari imbuhan bahasa sunda “NGA” setara dengan awalan “ME” dalam bahasa Indonesia, dan kata “JURU” yang berarti ahli, empu, pakar atau tukang. NGA-JURU bisa diartikan sebagai seseorang yang bekerja, berbicara atau merasakan melalui suara. Lewat bunyi, noise, ruang dan visual, karya ini mencoba mengirimkan rasa yang kadang sulit dijelaskan melalui kata-kata. Karya ini juga menjadi ruang untuk mengingat ‘IBU’ nya Mita. Seseorang yang sudah tidak ada secara fisik tetapi masih terasa ada.
Dinar Rizkianti; atau dipanggil akrab disapa Kunay, adalah pesuara berbasis vokal etnik nusantara. Ia menempuh pendidikan S1 jurusan Penciptaan Karawitan di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung, kemudian melanjutkan studi di Prodi Penciptaan & Pengkajian Seni Pascasarjana ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia), Bandung. Kunay bergabung bersama grup ‘Malire’ tahun 2011 yang membuatnya mengenal musik kontemporer lebih jauh dibawah bimbingan Dedy Satya Hadianda. Kunay mempertunjukkan komposisinya yang merupakan pembacaan lukisan ‘Perahu’ karya Rusli, bertajuk Enteung dan Perahu-perahu di GKJ pada Pekan Komponis Indonesia 2013. Karya lainnya berjudul Spektral (2018) juga sempat ditampilkan pada Pekan Komponis Indonesia 2018 di Salihara. Karya Kunay lainnya antara lain Tresna Sulaya Atma Perlaya (2010), Nirmana (2012), Panta Rhei (2014), LOL (2015), Ku-jang (2018), Atmanjiva (2018), Ardhanariswara (2018), Angklah (2019), and Handaruan (2023).
Gema Swaratyagita; adalah seorang musisi dan komponis yang karyanya banyak bereksplorasi di ranah seni interdisipliner. Sejak membuat karya yang berjudul Tubuka (2018), perempuan yang karyanya pernah dimainkan oleh Ensemble Modern di Holland Festival itu, mulai mengembangkan riset dan metode penciptaannya berbasis tubuh, bunyi dan kata. Selain itu, karya-karyanya yang berjudul Tuwakatsa (2018), seri Ngangon Kaedan; Dongeng Polifoni (2018), Dari Ruang Rahim (2019) dan Jeng Sri (2020), juga film opera pendek BANE (2021) merupakan sejumlah komposisi yang mengangkat tema karya yang lebih therapeutic dan banyak melakukan eksplorasi pada vokal (suara) dan elemen perkusif sebagai instrumen bunyi yang utama. Ia kemudian mendirikan Laring Kolektif sebagai aktivitas kekaryaan berbasis bunyi, musisi dan seniman kolektif, yang berfokus pada kerja kolaborasi lintas disiplin. Ia pernah belajar dengan Slamet Abdul Sjukur juga beberapa sesi masterclass dengan Dieter Mack, Roderik de Man, Manfred Stahnke, dan Gatot Danar Sulistiyanto. Sebagai komponis, karya-karyanya pernah dimainkan di sejumlah event, sebut saja Yogyakarta Contemporary Music Festival, Pekan Komponis Indonesia, Solo International Gamelan Festival, Djakarta Theater Platform, dan Musim Seni Salihara. Selain berkarya dan mengajar, perempuan komponis yang pernah meraih EWA Kelola ini juga merupakan direktur Pertemuan Musik dan salah satu penggagas Perempuan Komponis Forum & Lab.
Sekian Terimakasih
Bandung, 12.Mei.2026









