Kalimat “Agama di Indonesia bergema: dorongan elan vital menghilang” adalah aspek kritik sosial yang tajam. Karena ini bukan menyerang agama sebagai nilai aspek spiritual, tetapi mempertanyakan: mengapa gema simbolik agama semakin keras, sementara daya hidup etik dan kemanusiaannya justru makin melemah? Dalam dorongan aspek “Elan vital” sendiri adalah konsep dari filsuf Henri Bergson — semacam daya hidup kreatif, energi batin yang membuat kehidupan terus bertumbuh, bergerak, dan melahirkan makna baru. Ketika dorongan itu hilang, agama bisa tetap ramai secara bentuk, tetapi kehilangan ruh transformasinya. Ada beberapa gejala yang tampak di Indonesia hari ini:
Agama menjadi gema seremoni. Ritual makin besar, visual makin megah, tetapi belum tentu melahirkan empati sosial yang mendalam. Rumah ibadah bisa terlihat penuh, festival keagamaan meriah, simbol religius tampil di ruang publik. Namun bersamaan dengan itu; korupsi tetap tinggi, kekerasaan verbal meningkat, eksploitasi alam berjalan, kesenjangan sosial melebar. Dalam artinya, bahwa agama terdengar sebagai “gema”, tetapi tidak selalu menjadi tenaga moral yang menggerakkan kehidupan.
Aspek Spiritualitas itu begitu berubah menjadi administrasi identitas. Dan Agama sering direduksi menjadi; label kelompok, alat legitimasi politik, identitas sosial, atau sekadar formalitas budaya. Dan akibatnya, orang lebih sibuk; membela simbol, daripada membela manusia; menjaga citra kesalehan, daripada menjaga kejernihan hati. Padahal hampir semua tradisi spiritual besar menempatkan: kasih, keadilan, welas asih, dan kejujuran sebagai inti utama.
Dorongan kuat Elan vital menjadi hilang ketika agama kehilangan daya gugah batin. Karena Agama awalnya hadir sebagai kekuatan yang; membangunkan kesadaran, mengguncang ketidakadilan, memuliakan kehidupan, dan menuntun manusia melampaui ego. Tetapi ketika agama terlalu dekat dengan; adanya kekuasaan, kapitalisme simbolik, industri citra, dan politik massa, maka agama berisiko menjadi; keras di pengeras suara, tetapi jadi sunyi di dalam nurani.
Masyarakat pertunjukan religius dari seorang pemikir Guy Debord menyebut modernitas sebagai society of the spectacle — masyarakat pertunjukan. Dan dalam konteks ini; kesalehan mudah dipentaskan, spiritualitas mudah dikomodifikasi, dan agama dapat berubah menjadi konsumsi visual. Yang penting terlihat religius, bukan sungguh mengalami transformasi batin. Dan akibatnya; agama menjadi konten, moral menjadi slogan, kebijaksanaan kalah oleh viralitas.
Kehilangan hubungan dengan bumi dan kehidupan nyata. Karena ketika agama hanya sibuk mengurus “langit”, manusia bisa lupa merawat bumi. Padahal; sungai tercemar, hutan rusak, tanah adat hilang, kemiskinan struktural membesar. Di titik ini, aspek spiritualitas terpisah dari realitas sosial-ekologis. Padahal dalam banyak kearifan Nusantara, hubungan dengan Tuhan tidak dipisahkan dari hubungan dengan; alam, sesama manusia, dan keseimbangan hidup. Mungkin yang hilang bukan agama — tetapi daya hidupnya. Karena itu, kritik ini sebenarnya bukan anti-agama. Justru ia bisa dibaca sebagai panggilan untuk menghidupkan kembali; nurani, kejujuran, keberanian moral, solidaritas, dan kesadaran ekologis. Karena dalam aspek Agama tidak cukup hanya; bergema di pengeras suara, hadir di seremoni, atau ramai di media. Ia itu perlu hidup; dalam tindakan, dalam keadilan, dalam cara manusia memperlakukan sesama, dan dalam cara manusia memperlakukan bumi. Sebab tanpa adanya kekuatan dorongan elan vital, agama bisa tetap ramai — tetapi kehilangan kemampuan untuk benar-benar menghidupkan manusia.
Ketika agama hanya sibuk mengurus “langit”, manusia bisa lupa merawat bumi. Kalimat ini adalah menyentuh kritik yang sangat mendasar: Ketika agama hanya sibuk mengurus “langit”, manusia bisa lupa merawat bumi. Artinya di sini aspek spiritualitas menjadi terlalu terfokus pada; keselamatan setelah mati, ritual formal, simbol kesalehan, dan urusan metafisik, tapi sementara kehidupan nyata di bumi; kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan alam, penderitaan manusia, dan krisis moral, justru diabaikan. Padahal hampir semua aspek tradisi spiritual besar lahir bukan untuk membuat manusia lari dari dunia, tetapi untuk; memuliakan kehidupan, menjaga keseimbangan, dan merawat ciptaan. Dalam konteks Indonesia hari ini, kontradiksi itu sering terlihat; dalam cara doa begitu ramai, tetapi sungai penuh sampah; rumah ibadah megah, tetapi hutan dibabat; ceramah moral marak, tetapi korupsi tetap subur.
Di sini seolah-olah: manusia ingin masuk surga, tetapi membiarkan bumi menjadi neraka. Padahal bumi adalah ruang hidup bersama. Kalau tanah rusak, air tercemar, udara kotor, dan manusia saling membenci, maka aspek spiritualitas kehilangan makna konkretnya. Banyak kearifan Nusantara justru memahami hubungan: Tuhan, manusia, alam, sebagai satu kesatuan kosmis. Di dalam budaya Sunda misalnya: gunung bukan sekadar objek tambang, sungai bukan sekadar saluran ekonomi, hutan bukan sekadar komoditas. Alam dipandang memiliki dimensi sakral karena menjadi sumber kehidupan. Di titik itu, merawat bumi sebenarnya bukan sekadar urusan ekologis, tetapi juga tindakan spiritual.
Pemikiran seperti ini juga dekat dengan gagasan Seyyed Hossein Nasr yang mengkritik modernitas karena memisahkan manusia dari kesakralan alam. Begitu pula Paulo Freire yang melihat bahwa kesadaran sejati harus hadir dalam tindakan nyata membebaskan kehidupan, bukan hanya wacana. Oleh karena itu agama yang hidup bukan hanya agama yang; fasih berbicara tentang surga, tetapi juga; menanam pohon, menjaga sungai, membela yang tertindas, menolak keserakahan, dan menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Sebab bila bumi hancur, manusia kehilangan ruang untuk menjalankan nilai-nilai langit itu sendiri.
Sekian Terimakasih
Bandung, 12.Mei.2026









