Di sebuah pagi yang tampak sempurna di kawasan elit perkotaan, udara terasa bersih, atau setidaknya terlihat bersih. Jalanan rapi, pagar tinggi berlapis cat mengilap, dan taman-taman tertata seperti lukisan yang terlalu dipaksakan untuk tampak alami. Namun, ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang dulu begitu biasa, kini terasa asing, seperti suara burung yang riuh, aroma tanah basah, dan bayangan rindang pohon buah yang dulu menjadi bagian dari kehidupan.
Yang tersisa kini hanyalah pohon-pohon hias. Cantik, ya. Tapi sunyi. Tak memberi makan siapa pun, kecuali mata.
Ironisnya, di balik keindahan yang dikurasi itu, ada kisah yang jarang diceritakan. Tentang bagaimana manusia, dengan dalih modernitas dan estetika, perlahan menghapus kehidupan yang sesungguhnya. Pohon mangga yang dulu berbuah lebat ditebang karena “mengotori halaman”. Pohon jambu yang dulu jadi tempat anak-anak memanjat hilang karena “tidak sesuai konsep taman minimalis”. Bahkan pohon pisang ditebang karena dianggap kotor dan “kampungan.” Semua diganti dengan tanaman impor, yang bahkan burung lokal pun tak mengenalinya.
Lebih menyedihkan lagi, keputusan itu sering dibungkus dengan logika yang terdengar rasional, seperti efisiensi, kebersihan, dan nilai properti.
“Daunnya jatuh terus, repot bersihinnya.”
“Buahnya bikin semut datang.”
“Akar pohonnya bisa merusak fondasi rumah.”
Kalimat-kalimat itu terdengar biasa. Bahkan mungkin masuk akal. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, siapa yang sebenarnya sedang kita lindungi? Rumah kita, atau ego kita?
Ada semacam logika baru yang diam-diam kita terima, bahwa segala sesuatu yang “merepotkan” harus disingkirkan. Daun jatuh? Gangguan. Buah busuk di tanah? Kotor. Serangga datang? Menjijikkan. Padahal, semua itu adalah bagian dari siklus yang menjaga keseimbangan semesta.
Di kota-kota besar, manusia seperti sedang berlomba menciptakan dunia yang steril dari ketidaksempurnaan alam. Daun kering dianggap sampah. Tanah dianggap kotor. Bahkan suara serangga pun dianggap gangguan. Padahal, justru di sanalah kehidupan berdenyut.
Lucunya lagi, di banyak kawasan elit, membakar sampah daun menjadi hal yang dilarang keras. Alasannya jelas, polusi udara. Aturan dibuat, sanksi ditegakkan. Sekilas, ini terlihat seperti bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Tapi jika ditelisik lebih dalam, ada ironi yang tak bisa diabaikan.
Mereka melarang membakar daun, tapi sebelumnya mereka sudah menebang pohon yang menghasilkan daun itu. Seolah-olah masalahnya bukan pada hilangnya pohon, tapi pada keberadaan daunnya. Kita seperti sedang memperdebatkan bayangan, sambil melupakan benda aslinya.
Di balik pagar tinggi dan taman yang “bersih”, ada ketidakseimbangan yang perlahan membesar. Tanpa pohon buah, burung kehilangan sumber makanan. Tanpa burung, serangga berkembang tanpa kontrol alami. Tanpa serangga tertentu, penyerbukan terganggu. Dan tanpa penyerbukan, kehidupan tanaman pun ikut terancam.
Semua saling terhubung. Tapi manusia kota sering lupa, atau mungkin memilih untuk tidak peduli.
Ada satu momen yang mungkin pernah dialami banyak orang, meski jarang disadari. Saat kita melihat seorang tukang kebun memotong habis ranting pohon yang sebenarnya masih sehat, hanya karena dianggap “tidak rapi”. Atau ketika sebuah pohon besar ditebang karena menghalangi pemandangan balkon. Kita mungkin diam saja. Bahkan mungkin menganggap itu hal biasa.
Padahal, di situlah awal dari kerusakan yang lebih besar.
Kerusakan yang tidak selalu terlihat secara langsung, tapi terasa perlahan. Udara yang semakin panas. Hujan yang semakin tak menentu. Dan perasaan hampa yang sulit dijelaskan, meski kita hidup di rumah yang katanya “nyaman”.
Manusia kota sering membanggakan dirinya sebagai makhluk paling rasional. Tapi dalam banyak hal, kita justru bertindak seperti makhluk yang lupa asal-usulnya. Kita lupa bahwa sebelum ada beton, ada tanah. Sebelum ada AC, ada angin. Sebelum ada supermarket, ada pasar tradisional serta pohon yang memberi buah tanpa diminta.
Dan yang paling menyedihkan, kita mulai melihat alam bukan sebagai bagian dari diri kita, tapi sebagai sesuatu yang harus dikontrol.
Segala sesuatu harus sesuai keinginan manusia. Pohon harus tumbuh di tempat yang ditentukan. Daun tidak boleh jatuh sembarangan. Bahkan waktu berbunga pun seolah harus mengikuti jadwal manusia. Jika tidak, maka dianggap mengganggu, sungguh ironis serta menyedihkan.
Bagi manusia yang memiliki kesadaran tinggi, hal itu menjadikan sebuah pertanyaan yang sederhana, sejak kapan kita merasa lebih berhak menentukan kehidupan dibanding alam itu sendiri?
Di balik semua ini, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu keserakahan yang dibungkus kenyamanan. Menebang pohon buah bukan hanya soal estetika, tapi juga soal pilihan. Pilihan untuk mengutamakan nilai ekonomi daripada nilai kehidupan. Kita lupa bahwa alam tidak pernah bekerja untuk estetika. Ia bekerja untuk kehidupan.
Lahan yang dulunya ditumbuhi pohon produktif, kini diubah menjadi bangunan atau taman dekoratif yang meningkatkan harga jual properti. Uang menjadi ukuran utama. Sementara manfaat jangka panjang bagi ekosistem dianggap tidak relevan.
Kita mungkin tidak langsung melihat dampaknya. Tapi alam selalu punya cara untuk “mengingatkan”.
Banjir yang datang tiba-tiba. Suhu kota yang semakin panas. Polusi yang semakin sulit dikendalikan. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah konsekuensi.
Dan ironisnya, ketika dampak itu mulai terasa, manusia kembali mencari solusi dengan cara yang sama, yaitu teknologi, regulasi, dan kontrol yang lebih ketat.
Jarang sekali kita melihat ke belakang dan bertanya, apa yang sudah kita lakukan?
Mungkin, masalahnya bukan pada kurangnya solusi. Tapi pada keberanian untuk mengakui kesalahan.
Sadarkah kita, bahwa dalam upaya menciptakan kehidupan yang “lebih baik”, kita justru sedang menghancurkan fondasi kehidupan itu sendiri?
Sadarkah kita, bahwa pohon yang kita tebang hari ini mungkin adalah sumber kehidupan yang kita butuhkan esok hari?
Dan yang lebih penting, sadarkah kita bahwa tidak semua hal bisa digantikan dengan uang?
Ada sesuatu yang tidak bisa dibeli, yaitu keseimbangan.
Keseimbangan antara manusia dan alam. Antara kebutuhan dan keserakahan. Antara kenyamanan dan keberlanjutan.
Keseimbangan itu tidak akan tercapai jika kita terus melihat alam sebagai objek, bukan sebagai partner hidup.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak. Melihat kembali halaman rumah kita. Bukan dari segi keindahan visual, tapi dari segi kehidupan yang ada di dalamnya.
Apakah ada burung yang singgah?
Apakah ada serangga yang hidup?
Apakah ada pohon yang memberi, bukan hanya menghias?
Jika jawabannya tidak, mungkin ada yang perlu kita ubah. Bukan tentang mengganti semua yang sudah ada. Tapi tentang mengembalikan kesadaran yang sempat hilang.
Bahwa setiap pohon yang tumbuh adalah bagian dari cerita besar yang tidak kita tulis sendiri. Dan bahwa dalam cerita itu, manusia bukanlah tokoh utama. Kita hanya bagian kecil dari semesta yang jauh lebih besar.
Pertanyaannya sekarang, kita ingin menjadi bagian yang menjaga, atau bagian yang merusak? []




