KESUNYIAN YANG MELAHIRKAN PERADABAN

KESUNYIAN YANG MELAHIRKAN PERADABAN

Di tengah zaman yang sibuk memamerkan gelar, jabatan, dan pencitraan sosial, ada manusia-manusia tertentu yang memilih berjalan sunyi. Mereka tidak mengejar sorotan kamera. Tidak sibuk membangun popularitas digital. Bahkan sering dianggap aneh oleh lingkungannya sendiri. Namun justru dari kesunyian itulah lahir sesuatu yang perlahan membentuk masa depan manusia. Salah satunya adalah Adit Barli.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia hanyalah seorang guru menggambar di sebuah sanggar sederhana yang dibangun sejak tahun 1996 di kawasan Museum Barli, Bandung. Di sela aktivitas mengajarnya, ia berdagang bacang jando Bogalakon. Tidak ada atribut kemewahan yang menempel pada dirinya. Tidak ada bahasa motivasi yang dibuat-buat. Hidupnya sederhana, bahkan bagi ukuran masyarakat urban hari ini mungkin dianggap “tidak sukses”.

Tetapi justru di situlah letak ironi peradaban modern. Kita terlalu sering mengukur keberhasilan manusia dari jabatan, kekayaan, dan validasi sosial. Padahal banyak orang yang tampak berhasil di luar, tetapi kosong di dalam dirinya sendiri. Sebaliknya, ada manusia yang hidup biasa-biasa saja, namun pikirannya melahirkan pengaruh yang jauh melampaui zamannya. Adit Barli termasuk yang terakhir.

Apa yang dibangunnya melalui metode menggambar sesungguhnya bukan sekadar pendidikan seni. Ia sedang membangun cara berpikir manusia. Di dalam aktivitas sederhana menarik garis, membuat bentuk oval, mencampur warna, hingga menggerakkan tangan dari poros bahu, tersembunyi sebuah sistem pembentukan kesadaran yang sangat mendalam.

Anak-anak yang belajar menggambar di tempatnya perlahan belajar mengenali emosi. Mereka belajar fokus. Belajar membangun logika dasar. Belajar memahami tahapan berpikir. Dengan kata lain, mereka sedang belajar menjadi manusia yang utuh. Ironisnya, hal-hal seperti itu sering dianggap remeh oleh sistem pendidikan formal kita.

Pendidikan terlalu sibuk mengejar angka, ranking, dan kurikulum administratif, tetapi lupa bahwa inti pendidikan adalah membentuk kualitas kesadaran manusia. Kita menghasilkan banyak anak yang pandai menghafal, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Banyak yang mampu menjawab soal ujian, tetapi rapuh menghadapi kehidupan.

Di sinilah metode Adit Barli terasa “mengganggu” cara berpikir pendidikan modern yang serba instan. Ia tidak percaya hasil cepat. Ia percaya proses. Dan dalam masyarakat yang terobsesi pada kecepatan, orang seperti Adit sering tampak tidak relevan. Padahal sejarah peradaban selalu menunjukkan bahwa sesuatu yang bertahan lama lahir dari proses yang mendalam, bukan dari sensasi sesaat.

Yang menarik, pengaruh pemikirannya ternyata tidak berhenti di Bandung. Bahkan suatu ketika, Muhyiddin Yassin (saat itu wakil Perdana Menteri Kerajaan Malaysia) pernah memintanya untuk membantu memperbaiki sistem pendidikan di Malaysia. Sebuah pengakuan internasional yang bagi sebagian orang mungkin akan dianggap sebagai puncak kesuksesan.

Namun jawaban Adit justru memperlihatkan sesuatu yang langka di jaman ini. Ia menolak pergi. Dengan rendah hati ia berterima kasih atas tawaran tersebut, tetapi memilih tetap di Bandung untuk memperbaiki metode pendidikan di Indonesia. Keputusan itu tampak sederhana, tetapi secara filosofis sangat besar maknanya.

Sebab hari ini terlalu banyak manusia yang ingin diakui dunia luar, tetapi lupa membangun tanah tempat ia berpijak. Kita hidup di era ketika banyak orang merasa baru bernilai jika mendapat validasi asing. Mentalitas kolonial itu masih hidup secara halus dalam psikologi sosial bangsa ini. Adit Barli mengambil jalan berbeda. Ia tidak membangun hidup berdasarkan pengakuan. Ia membangun hidup berdasarkan keyakinan.

Itulah makna terdalam dari seorang Bogalakon, pemeran utama dalam kehidupan dirinya sendiri. Ia tidak sibuk menjadi tokoh dalam cerita orang lain. Ia sedang menjalankan perannya sendiri dengan kesadaran penuh. Bahkan ketika ditanya siapa idolanya, jawabannya bahkan terdengar nyaris provokatif, yaitu dirinya sendiri.

Tetapi jawaban itu bukan bentuk kesombongan. Namun refleksi tentang mengenal diri sendiri. Tentang keberanian bercermin setiap hari dan bertanya: “Apakah saya hari ini lebih baik daripada kemarin?” Dalam psikologi eksistensial, manusia yang sehat adalah manusia yang tidak hidup dari ketergantungan validasi eksternal. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan untuk merasa berarti. Ia menemukan makna dari proses pertumbuhan dirinya sendiri. Dan itu semakin langka hari ini.

Media sosial telah membentuk manusia yang haus pengakuan. Orang ingin terlihat berhasil, terlihat bahagia, terlihat pintar, bahkan terlihat peduli. Kehidupan berubah menjadi panggung pencitraan tanpa akhir. Akibatnya, banyak manusia kehilangan kemampuan menikmati kesunyian dan berdamai dengan dirinya sendiri. Adit Barli justru memilih kesendirian itu.

Ia lebih bahagia hidup sederhana, meski sering dianggap aneh. Tidak memiliki jabatan penting. Tidak hidup berlebih. Tetapi juga tidak pernah merasa kekurangan. Kalimat terakhir itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat revolusioner. Karena di tengah peradaban konsumtif yang membuat manusia terus merasa kurang, kebahagiaan sejati justru lahir dari kemampuan merasa cukup.

Dan mungkin itulah yang gagal dipahami banyak orang tentang kehidupan. Bahwa manusia tidak selalu membutuhkan kehidupan besar untuk melahirkan pengaruh besar. Kadang dunia berubah justru dari seorang guru menggambar di sudut sanggar sederhana, yang diam-diam sedang membentuk cara manusia mengenali dirinya sendiri (jbp).

Jossy Belgradoputra M.H.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *