Sesuatu Yang Samar Di Tengah Cahaya

sesuatu yang samar di tengah cahaya

Saya pernah menuliskan tentang “Takut Tertinggal”, atau dalam bahasa populernya Fear of Missing Out (FOMO). Saya kira, persoalan ini tidak cukup dibaca sebagai kecemasan psikologis karena takut ketinggalan informasi. Di tengah masyarakat digital, FOMO telah berubah menjadi persoalan sosial. Di mana manusia takut tidak tahu, takut tidak ikut bicara, dan lebih jauh takut dianggap tidak mengetahui sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Pada titik itulah saya teringat sebuah pantun Bogor:(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

“Si aki laju nindak, nindakna sabari ngareuhak,
Manggeuy pantun dina taktak…..
nyoren kaneron beurat ku eusi!(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Eusina?
Lalakon pinuh siloka!(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Lalakonna, nu ceuk inyana paruntagan…
Paruntagan geh, pajar anu gariruk!
Pajar arinyana, anu hanteu nyarahoeun siloka teh napak di uga!(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Hanteu nyarahoeun,
Uga anu ngalangkang dina ucap,
Ngan poekna dina nu caang,
Tapi natrat di anu poek…!”(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Bagi saya, pantun Bogor memiliki kekuatan pada silokanya. Yang mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu dapat dibaca dari apa yang tampak. Ada isi di balik wadah, makna di balik cerita. Ada sesuatu yang tampak caang (terang), tetapi justru meninggalkan jejak yang poek (gelap).(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Pantun ini sangat relevan untuk membaca masyarakat digital. Hari ini, kita hidup dalam kebudayaan yang menyukai sesuatu yang segera terlihat. Judul besar, potongan video, foto, kutipan pendek, angka yang mengejutkan, dan pernyataan kontroversial. Kita mengonsumsi informasi bukan untuk memahami keseluruhan peristiwa, tetapi untuk mengetahui bagian mana yang sedang ramai.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Di sinilah FOMO bekerja. Kita takut tertinggal, lalu bergegas mengikuti. Karena takut dianggap tidak tahu, kita ikut menyebarkan. Karena ingin dianggap paling mengetahui, kita memberikan komentar sebelum membaca keseluruhan persoalan.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Akibatnya, sesuatu yang belum tentu benar, dapat berubah menjadi “kebenaran sosial” hanya karena terus diulang. Framing bekerja di ruang tersebut.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Framing adalah teknik memengaruhi pengambilan keputusan dan penilaian melalui cara informasi disajikan. Informasi tidak selalu dipalsukan. Kadang-kadang justru fakta digunakan, tetapi dipilih, dipotong, diberi penekanan, dan ditempatkan dalam konteks tertentu sehingga publik diarahkan kepada kesimpulan tertentu.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Yang caang diperlihatkan, sementara poek disembunyikan.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Di sinilah siloka pantun Bogor menjadi kritik yang tajam.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Persoalan masyarakat digital bukan hanya kurang informasi, tetapi kelebihan informasi tanpa kedalaman membaca. Kita melihat terlalu banyak, tetapi memahami terlalu sedikit. Kita mengetahui potongan, tetapi kehilangan keseluruhan. Kita menjadi cepat berpendapat, tetapi lambat memeriksa.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Lebih ironis lagi, media sosial membuat pengetahuan berubah menjadi pertunjukan identitas.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Seseorang membagikan berita, bukan selalu karena telah memverifikasinya, melainkan ingin terlihat paling dahulu mengetahui. Ada kebutuhan untuk hadir dalam percakapan. Ada dorongan agar dirinya dianggap relevan. FOMO menyediakan dorongan psikologisnya, algoritma menyediakan panggungnya, framing menyediakan arah ceritanya. Maka lahirlah masyarakat yang cepat bereaksi tetapi lambat berefleksi.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Padahal siloka mengajarkan sebaliknya: jangan berhenti pada apa yang tampak.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Membaca sebuah informasi, seharusnya seperti membaca pantun. Jangan hanya menikmati bunyi dan kata-katanya. Cari isinya, maksudnya. Perhatikan apa yang dikatakan, tetapi juga tanyakan apa yang tidak dikatakan. Inilah etika intelektual yang semakin diperlukan.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Ketika menerima sebuah berita, kita perlu bertanya: siapa yang membuatnya? Untuk kepentingan apa? Fakta apa yang ditampilkan? Fakta apa yang hilang? Siapa yang diuntungkan jika saya mempercayainya? Dan pertanyaan paling pentingnya adalah, mengapa saya merasa harus segera membagikannya?(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Sebab, sering kali yang membuat kita menyebarkan informasi, bukan keyakinan bahwa informasi itu benar, melainkan ketakutan bahwa kita akan dianggap tidak tahu. Itulah wajah FOMO yang paling berbahaya. Ia mengubah kebutuhan manusia untuk mengetahui, menjadi kebutuhan untuk terlihat mengetahui.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Dalam masyarakat demokratis, keadaan ini tidak sederhana. Saat warga mengambil keputusan politik berdasarkan informasi yang telah dibingkai secara manipulatif, maka yang terganggu bukan hanya kualitas percakapan publik. Tetapi juga kualitas demokrasi. Pilihan politik dapat dibentuk oleh persepsi yang sengaja diarahkan, sementara masyarakat merasa sedang mengambil keputusan secara bebas.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Di sinilah pantun Bogor tadi menemukan relevansi filosofisnya.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Hanteu nyarahoeun, (tidak seorang pun menyadari)
uga anu ngalangkang dina ucap, (gambaran yang membayangi setiap ucapan)
ngan poekna dina nu caang, (sesuatu yang samar di tengah cahaya)
tapi natrat di anu poek.” (namun tampak sangat jelas di tengah kegelapan)(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Kita mungkin tidak mengetahui sesuatu yang melintas di balik ucapan. Kita melihat yang terang, tetapi belum tentu melihat bayangan yang menyertainya. Karena itu, melawan framing tidak cukup dengan meminta masyarakat menjadi lebih kritis. Kita membutuhkan kebudayaan berpikir yang menghargai jeda, kedalaman, dan kemampuan membaca siloka.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Tidak semua informasi harus segera dibagikan.
Tidak semua yang viral harus diikuti.
Tidak semua yang terlihat harus dipercaya.
Dan tidak semua orang yang paling cepat berbicara adalah orang yang paling mengetahui.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Inilah pelajaran penting dari pantun Bogor bagi manusia digital: jangan hanya membaca yang caang; carilah apa yang natrat di balik yang poek.(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Sebab FOMO membuat kita takut tertinggal dari kerumunan. Sedangkan siloka mengajarkan kita keberanian untuk berhenti dari kerumunan, lalu bertanya: apa sebenarnya isi dari cerita yang sedang kita percaya? (jbp 08/09/2026)(Source: kosapoin.com/sesuatu-yang-samar-di-tengah-cahaya)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *