Di tepi danau yang mengering, ia duduk, tubuh renta dibalut sulaman yang lusuh, di bawah bulan pucat yang menggigil menggantung tanpa irama di langit yang tak bernada.
Tangannya pernah menebar bunga ke angkasa, kini menggenggam debu gamelan yang bisu. Langkah-langkahnya dulu menaklukkan malam, kini terseret oleh waktu yang enggan berpaling.
Topeng-topeng pecah di sekitar, mata kosong memandang dari retakan-retakan seolah bertanya: di mana tepuk tangan yang dulu menggema?
Dalam kabut, bayangan dirinya menari, menari, menari tapi tak ada yang peduli, kecuali sunyi yang makin tua.
Anak-anak zaman menari dalam cahaya neon, dengan irama asing yang menggugurkan warisan. Ia hanya diam. Menunggu. Menjadi tanah.
Negeri ini perahu purba, dibuat dari akar dan mantra, berlayar di samudra waktu yang kini berubah jadi layar raksasa penuh gelombang sinyal dan bendera tak bernama.
Layar terkembang bukan oleh angin, tapi oleh algoritma dan utang yang mengalir seperti angin asing yang tak pernah membawa hujan, hanya badai tanda tangan.
Simbol-simbol jadi lukisan kabur: topeng diganti lensa filter, aksara tua terselip di pojok iklan, dan tifa bergema dalam sunyi museum yang lebih sering difoto daripada didengar.
Bayangan perang bukan deru meriam, tapi bisik lembut dari meja-meja bundar, yang memutar nasib lewat mata uang sambil menyajikan kopi kita di cangkir mereka.
Dan bangsa ini? Masih berdiri di antara bayang dan bayu, memanggul pusaka dalam baju pinjaman, berusaha bersuara dengan lidahnya sendiri di tengah hiruk pikuk dunia yang melantakkan identitas.
Nun jauh di dasar tanah, ada suara yang tak bisa dicuri denyut nadi dari tanah yang pernah berdoa, akar yang diam-diam mencengkeram meski daunnya diterpa arah yang berubah-ubah.
Sebuah bangsa bukan sekadar bendera, tapi luka dan cinta yang bermakna tetap diingat, tak menjadi asing.
Yoyo C. Durachman lahir di Bandung 21 September 1954. Sejak lahir sampai sekarang tinggal di Kota Bandung dan Cimahi- Jawa Barat, meskipun tahun 1977 pernah tinggal di Jakarta selama enam bulan untuk menimba/mengamati pengalaman menjadi penulis dan aktivis teater.
Tahun 1978 menjadi Mahasiswa angkatan pertama Jurusan Teater ASTI (kini ISBI) Bandung dan sekaligus pada waktu itu juga bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) dengan kapasitas sebagai Aktor, Asisten Sutradara dan Sutradara, sampai sekarang. Di STB terlibat dalam pementasan pementasan; Lingkaran Kapur Putih, karya: Bertold Brecht; Antigone, karya: Sophokles, Egmont, karya: Goethe; Burung Camar, karya: Anton Chekov dan Impian di Tengah Musim, karya: W. Shakespeare. di STB pun pernah menyutradarai; Nyanyian Angsa, karya: Anton Chekov; Tiga Kehidupan Karya: Yasmina Resa dan Macbeth, karya: W. Shakespeare. Selain di STB aktif dalam pementasan Sanggar Kita Bandung, Jurusan Teater ISBI Bandung dengan kapasitas sebagai Aktor, Sutradara dan Produser.
Dunia kepenulisan meskipun tidak produktif, diakrabinya dengan menulis Cerpen, Puisi, Esai yang dimuat di Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Suara Karya, Gala, Bandung Pos, Prioritas dan Mandala, dan Jurnal Panggung serta dalam buku bunga rampai tulisan.
Sebagai Dosen Teater pernah mengajar di ISBI Bandung (1983-2019), IKIP (kini UPI- 1990-1995) dan IKJ (2002-2014).
Aktivitasnya sebagai penulis diperkaya dengan penelitian yang hasilnya dibukukan dengan Judul; Enam Teater/1996, Teater Tradisi dan Baru/2009, Perkembangan Konsep Penyutradaraan/2008.
Aktif menjadi Jury dan narasumber work shop dan seminar di Perguruan Tinggi dan beberapa Event dan Festival. Selain daripada itu pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Kota Bandung/2019-2023 dan kini menjadi Pengurus Dewan Kesenian Kota Cimahi (DKKC)2016 SD Sekarang.
DOA sebaris doaku terbangMenangis di pojok malam, kelelahanberdesakan bersama beribu doaYang di lontarkan bermilyard bibirorang soleh menuju ArsyNya. Aku kembali…
MlHRAB KEHIDUPANMerawat mihrab dalam lautan kehidupan_melintasi lalulalang jiwa yang lengangKiranya bukan jalan yang mengantar tujuan pada mihrab tempat kita bersunyi…