KH. MUCHTAR AL-HUSAINI HASIBUAN
Di bawah
rumah panggung
dari tradisional Lampung itu,
malam-malam berbau kopi hitam,
tembakau, dan lembaran usia
yang diam-diam
mulai renta.
Lampu remang
menggantung malu,
angin menyisir daun-daun pisang,
dan tikar sederhana terbentang
seperti kesabaran para
fakir ilmu.
Di sanalah
seorang ustadz
duduk tanpa singgasana.
Tak ada pendingin ruangan.
Tak ada pengeras suara
berlapis gema.
Tak ada protokoler.
Tak ada baliho raksasa
dengan slogan penuh
pencitraan.
Hanya sang guru
dan beberapa manusia
yang ingin memahami
dirinya sendiri.
Namanya:
KH. Muchtar Al-Husaini Hasibuan.
Bagi sebagian orang,
beliau hanya ustadz kampung
yang bersarung biasa.
Namun bagi mereka
yang pernah duduk di bawah
rumah panggung itu,
beliau adalah mata air
yang tak mengiklankan
kejernihannya.
Dan malam Jumat
menjadi semacam perahu kecil
yang membawa jiwa-jiwa letih
menuju dermaga perenungan.
Di sana ada seniman.
Ada penyair.
Ada aktor.
Ada penganggur.
Ada manusia patah hati.
Ada orang-orang yang gagal
memahami hidupnya
sendiri.
Termasuk
seekor Burung Merak
bernama
W.S. RENDRA.
Ah, negeri ini memang aneh.
Kadang orang paling besar
justru duduk paling bawah.
Kadang orang paling terkenal
justru paling rajin mencatat.
Kadang yang paling lantang
di panggung justru paling khusyuk
saat mendengar nasihat
kehidupan.
Rendra menulis
apa yang disampaikan
Ustadz Muchtar
di lembar kertas rokok
dengan pena kecil.
Bayangkan itu.
Hari ini
orang berebut tampil
di kamera podcast tiga jam,
membahas filsafat yang
separuh dipahami,
lalu memotong videonya
jadi konten motivasi.
Sedangkan dahulu,
seorang penyair besar
mencatat petuah ustadz
di kertas rokok.
Betapa ilmu
selalu menemukan rumah
pada hati yang rendah.
Dan kita sekarang?
Baru membaca dua halaman buku
sudah merasa menjadi
nabi intelektual.
Baru hafal tiga istilah asing
sudah memandang rendah
tetangga sebelah.
Baru viral seminggu
sudah merasa abadi.
Padahal umur manusia
lebih pendek daripada
antrean janji politik.
Lucu sekali negeri ini.
Orang miskin disuruh sabar.
Orang kaya disuruh seminar.
Yang lapar diberi slogan.
Yang kenyang diberi penghargaan.
Yang jujur diminta mengalah.
Yang licik diberi ruang bicara.
Tetapi di bawah
rumah panggung itu,
Ustadz Muchtar tidak
mengajar cara membenci
kehidupan dunia.
Beliau mengajar
cara tidak diperbudak
oleh dunia.
Itu berbeda.
Sebab agama
bukan pelarian pengecut
dari kenyataan.
Agama adalah cahaya
agar manusia tidak
menabrak dirinya
sendiri.
Beliau bicara pelan.
Tidak membentak.
Tidak mengkafirkan.
Tidak mengutuk orang
berbeda pilihan.
Sebab orang yang
benar-benar berilmu
tidak sibuk melempar batu.
Ia sibuk menyalakan
lampu.
Hari ini
terlalu banyak manusia
berteriak atas nama Tuhan
padahal sedang membela
egonya sendiri.
Sedikit-sedikit marah.
Sedikit-sedikit tersinggung.
Sedikit-sedikit merasa
paling suci.
Padahal surga
bukan milik kelompok
yang paling ribut.
Dan neraka
tidak selalu diumumkan
melalui pengeras suara.
Ustadz Muchtar paham
bahwa manusia harus
disentuh hatinya,
bukan dipukul kepalanya.
Sebab kepala yang dipukul
akan melahirkan dendam.
Tetapi hati yang disentuh
akan melahirkan
kesadaran.
Di bawah
rumah panggung itu
agama tidak berubah
menjadi pentungan.
Ia menjadi cermin.
Dan manusia
yang berani bercermin
akan tahu betapa banyak debu
di wajah batinnya sendiri.
Malam berjalan.
Waktu berganti.
Anak-anak muda tumbuh
dengan telepon genggam
lebih pintar daripada pemiliknya.
Informasi berlari lebih cepat
daripada kebijaksanaan.
Semua orang ingin bicara.
Sedikit yang mau mendengar.
Semua ingin terkenal.
Sedikit yang ingin
berguna.
Kita hidup
di zaman ketika orang
memotret makanan
lebih khusyuk daripada
memotret penderitaan
rakyat.
Di televisi,
koruptor tersenyum rapi.
Di media sosial,
kebodohan diberi tepuk tangan.
Dan kejujuran kadang
kalah menarik dibanding
seribu sensasi.
Tetapi aku teringat
pada rumah panggung itu.
Tempat ilmu tumbuh
tanpa sponsor.
Tempat manusia belajar
bahwa hidup bukan
sekadar menang.
Bahwa manusia
bukan hanya tubuh
yang harus diberi makan,
tetapi jiwa yang harus
diberi arah.
Aku membayangkan
RENDRA duduk mencatat.
Ah, barangkali di situlah
kebudayaan menemukan
akarnya.
Bukan di gedung mewah.
Bukan di seminar mahal.
Bukan di pidato berbusa-busa.
Tetapi pada kerendahan hati
untuk terus belajar.
Negeri ini terlalu sering
membanggakan gelar
tetapi melupakan karakter.
Sekolah dibangun megah,
tetapi murid diajari takut gagal
bukan berani jujur.
Anak-anak
dipaksa menghafal,
tetapi tidak diajak berpikir.
Mereka tahu rumus,
tetapi tidak tahu belas kasih.
Mereka pandai mengerjakan ujian,
tetapi gagap menghadapi
gerak roda kehidupan.
Lalu kita heran
mengapa banyak orang pintar
tetapi sedikit manusia bijaksana.
Padahal pendidikan
tanpa akhlak
hanyalah pisau
di tangan orang
mabuk.
Ustadz Muchtar
mengerti bahwa ilmu sejati
harus membuat manusia
makin rendah hati.
Semakin berisi,
semakin menunduk.
Bukan semakin pongah
seperti spanduk kampanye.
Agama, kebudayaan, sastra,
dan kehidupan bertemu
di bawah rumah panggung itu.
Tidak saling memusuhi.
Karena Tuhan
tidak anti puisi.
Tuhan
tidak alergi seni.
Yang dibenci langit
bukan nyanyian,
melainkan kesombongan.
Dan manusia sombong
bisa lahir di mimbar agama
maupun di panggung
kesenian.
Maka hidup ini
sesungguhnya bukan perang
antara orang suci dan pendosa.
Tetapi perjuangan panjang
antara kejujuran melawan
kepura-puraan.
Aku masih ingat
ketika “Sajak Buat Presiden”
dibacakan.
Suasana malam serupa
sedang membuka luka
nusa bangsa.
Ada kata-kata
menggigit nurani.
Ada suara rakyat
yang terlalu lama
dibungkam
formalitas.
Puisi
memang tidak bisa
mengenyangkan perut.
Tetapi puisi bisa
membangunkan hati
yang terlalu lama tidur.
Dan bangsa yang hatinya
tidur mudah dijual oleh
para pedagang
kekuasaan.
Di plaza parkir
Taman Ismail Marzuki
orang-orang berkumpul.
Ada saksi sejarah.
Ada penyair.
Ada penonton.
Ada langit malam
yang diam
mendengarkan
manusia.
Di sana hadir
Sutardji Calzoum Bachri
dan Jose Rizal Manua.
Tetapi sesungguhnya,
yang paling hadir malam itu
adalah kenangan.
Kenangan tentang guru.
Tentang ilmu.
Tentang kesederhanaan.
Dan tentang bangsa
yang sering lupa
menghormati orang-orang sunyi
yang sebenarnya menjaga
akal sehat negeri.
Sepuluh hari kemudian
Ustadz KH. Muchtar
Al-Husaini Hasibuan
berpulang.
Begitulah hidup.
Manusia datang
membawa napas
pinjaman.
Lalu pulang
membawa amal
dan jejak kasih sayang.
Tak ada yang abadi
kecuali perubahan.
Tak ada yang pasti
kecuali kematian.
Jabatan selesai.
Popularitas redup.
Tepuk tangan bubar.
Tinggal satu pertanyaan:
“Apakah hidup kita
pernah membuat orang lain
lebih dekat kepada kebaikan?”
Hari ini kita terlalu sibuk
mengukur sukses
dengan angka.
Padahal ada manusia
yang miskin harta
tetapi kaya manfaat.
Ada yang rumahnya kecil
tetapi doanya besar.
Ada yang namanya
jarang masuk berita tetapi
dikenang dalam air mata
murid-muridnya.
Ustadz Muchtar
mungkin tidak memiliki
kerajaan bisnis.
Tetapi beliau punya sesuatu
yang lebih mahal:
Kepercayaan
manusia.
Dan itu
tak bisa dibeli
dengan uang triliunan.
Humor kehidupan pun
kadang lucu.
Banyak orang sibuk
mencari pengikut,
padahal belum selesai
mengikuti hati
nuraninya sendiri.
Banyak
yang ingin viral,
tetapi lupa belajar.
Banyak yang ingin dihormati,
tetapi malas menghormati.
Lucunya lagi, orang yang
paling keras bicara moral
kadang paling galak
kepada keluarganya
sendiri.
Di luar tampak alim.
Di rumah mudah menyakiti.
Padahal Tuhan tidak hanya
mendengar ceramahmu.
Tuhan juga mendengar
cara bicaramu kepada istri,
kepada anak,
kepada orang kecil,
kepada pelayan restoran,
kepada tukang parkir,
kepada orang yang tak bisa
membalas apa-apa.
Sebab agama sejati
tidak berhenti di sajadah.
Ia berjalan
sampai ke pasar,
ke kantor,
ke jalan raya,
ke ruang sidang,
ke media sosial,
bahkan ke cara kita
menghadapi
perbedaan.
Negeri ini
tidak kekurangan
orang pintar.
Yang kurang
adalah orang jujur.
Negeri ini
tak kekurangan ceramah.
Yang kurang adalah
keteladanan.
Kita terlalu sering
membangun citra,
tetapi lupa membangun nurani.
Dan ketika nurani rusak,
manusia bisa tersenyum
sambil menipu
bangsanya
sendiri.
Di bawah
rumah panggung itu
barangkali Ustadz Muchtar
telah mengingatkan:
Bahwa hidup hanyalah persinggahan.
Bahwa manusia jangan mabuk pujian.
Bahwa kekuasaan bukan Tuhan.
Bahwa ilmu tanpa cinta
akan menjadi dingin
dan angkuh.
Aku
membayangkan
malam-malam itu.
Suara jangkrik.
Asap rokok.
Catatan kecil di kertas tipis.
Dan seorang guru
yang mengajar tanpa
merasa paling besar.
Barangkali
itulah Indonesia
yang sesungguhnya.
Indonesia yang ramah.
Indonesia yang santun.
Indonesia yang mau mendengar.
Indonesia yang menghormati ilmu
dan memuliakan
perbedaan.
Bukan Indonesia
yang gampang marah
karena beda pilihan.
Bukan Indonesia
yang sibuk saling menghina
di kolom komentar.
Bukan Indonesia
yang menjadikan agama
sebagai alat memukul lawan.
Sebab bangsa besar
tidak dibangun oleh
kebencian.
Bangsa besar
dibangun akal sehat,
gotong royong,
dan kasih sayang.
Dan kebudayaan
adalah jembatan
agar manusia tidak
berubah menjadi
mesin.
Puisi,
teater, musik,
dan pengajian
pernah duduk bersama
di bawah rumah panggung itu.
Ah, alangkah indahnya.
Tak ada saling curiga.
Tak ada saling membatalkan.
Karena orang yang dewasa
tidak takut dialog.
Yang takut dialog
biasanya hanya dua:
Orang yang malas berpikir
atau orang yang takut
kehilangan pengaruh.
Kini zaman berubah.
Gedung tinggi tumbuh.
Teknologi melesat.
Tetapi
kegelisahan
manusia
tetap sama:
Takut kehilangan cinta.
Takut miskin.
Takut tua.
Takut mati.
Takut tidak
dianggap.
Dan agama hadir
bukan menambah ketakutan.
Melainkan memberi cahaya
agar manusia sanggup
berjalan.
Maka
wahai bangsaku,
janganlah terlalu mudah
membenci sesama anak negeri.
Kita lahir dari tanah yang sama.
Dibesarkan hujan yang sama.
Dan kelak akan tidur
di bumi yang sama.
Tak perlu merasa
paling Indonesia.
Cukuplah
menjadi manusia
yang berguna bagi Indonesia.
Belajarlah dari para guru sunyi.
Dari mereka yang tidak sibuk
mengiklankan
kesalehan.
Dari mereka
yang lebih banyak bekerja
daripada berbicara.
Karena dunia hari ini
terlalu penuh suara,
tetapi miskin makna.
Dan jika suatu hari
anak cucu bertanya:
“Di mana kebijaksanaan
pernah tinggal?”
Mungkin kita bisa menjawab:
“Pernah ada seorang ustadz
sederhana, di bawah
rumah panggung,
yang mengajarkan manusia
cara menjadi manusia.”
Selamat jalan …
KH. Muchtar Al-Husaini Hasibuan.
Semoga segala ilmu menjadi
cahaya tanpa padam.
Semoga
segala nasihat
menjadi mata air bagi
generasi mendatang.
Semoga Allah SWT
melapangkan kuburmu,
menerangi perjalanan ruhmu,
dan menempatkanmu
di taman kasih
sayang-Nya.
Dan semoga
kami yang masih hidup
tak hanya mengenang,
tapi belajar meneladani
kerendahan hati.
Aamiin Ya Allah.
Desa Singasari
Senin, 18 Mei 2026
02.07









