Perayaan di Hari Tua
mana mau hujan-hujanan
ketika engkau merayakan kesepian
bersama penjual pentol di pinggiran
kota yang lebat oleh kesusahan
dan seribu kesia-siaan
pernahkah kau mengucap
selamat pagi kepada dekap
ibu kepada anaknya yang tiarap
pada usia paling tua
sementara pekerjaan hanya
angan di kepala, anaknya
terpenggal di antara harap
dan rindu mengembalikan ceria
ya, kau hanya memandang
lagi kota tua itu
seharusnya aku
yang memenangkannya
inginmu besar
inginmu tegar
lantas pada dua kaki
yang bergerak ke selatan
engkau menancapkan doa
agar kelak mencarimu
menujumu, memberimu
kekuatan baru
Bandung, 2026

PUISI Sosiawan Leak
Kota Diri
kota ini
kota tak bertuan
jutaan mimpi
tak terurai
tetapi lelaki berpeci
kujang tak menyerah
pada langkah
ke depan ia meyakini
tentang tangan api
dan kaki api
membuat kota ini
menyala bagai sirkus pagi
ramai oleh tawa
ramai oleh ceria
ramai oleh cerita
ia menatap lagi
kota di diri
hening
dan ia mengerti
di balik lambaian
tangan perempuan pagi
Bandung, 2026

PUISI Diro Aritonang
Kepergian Kartini
seperih itukah
negeri ini tinggal ratapan sunyi
negeri yang dipanggil kartini
ia halus dalam senyum tetapi
ia telak kalah oleh kekuatan asing
laksana ia telah hancur lebur
meski ia memiliki sejuta sumberdaya
tetapi apa daya, tak ada
upaya apa-apa dari pemimpinnya
ia hanya kartini di masa tua
jelang ia pergi, ia dipeluk
oleh harapan yang sirna
ia tahu kekalutan
bagaikan hari-hari patah
oleh angin dan waktu bergantian
memberi senyum keadilan
ia menggumam lagi
seperti masa kecil
yang kalah oleh busur api
sesudah takdir
lalu apa yang ia percaya akan berakhir
Bandung, 2026

PUISI Sosiawan Leak
Sebatas Nyanyian
tempuhlah jalan panjang
menuju keabadian
lantas harus apalagi
musim ketidakpercayaan lahir
dan membentang di pundak kita
kejujuran hanya butir tasbih
yang tidak pernah teramini
oleh orang-orang, sementara kita lirih
meminta dalil keadilan di pinggiran
sebab keadilan sekadar investasi
bagi pemilik modal, sisanya sunyi
jika kita lantang bernyanyi
lalu apa benar makan pagi
terhidang di meja ini
biarlah kita begini
bernyanyi di media sosial
demi menegakkan tubuh
agar tak lunglai di ruang keruh
Bandung, 2026

SAJAK-SAJAK Imas Utami Lokayanti
Puisi, Kota, Jembatan Tua
reda hujan bukan resah mereda
ojek-ojek mencari jalan kebahagiaan
dan ibu-ibu mendamaikan perkelahian
nuansa di pinggiran kota
terlatih dengan suasana senja
penyair melatih diri
diksi berenang-renang di pikiran
sementara toko buku puisi
tak semeledak negeri
persia, arah puisi seperti ini
melambaikan tawa
meski tak sesuap ikan sapu-sapu
menggoyang lidahnya
sepeda motor membawamu
ke buku puisi penyair itu
engkau membaca barisan
di lembaran puisi
‘dengan nama kota ini
tidak ada puisi
selaris film tetapi
menggemakan hati
menusuk pagi
untuk pekerja seni’
‘pekerja seni hari senin
menakar mimpi yang lain’
engkau menutup buku
‘oh kota, sampaikah kita
pada sebaris cerita
membawa damai di bibir jembatan tua’
Bandung, 2026

