Puisi Muh. Husen Arifin

Sebatas Nyanyian

Perayaan di Hari Tua

mana mau hujan-hujanan
ketika engkau merayakan kesepian
bersama penjual pentol di pinggiran
kota yang lebat oleh kesusahan
dan seribu kesia-siaan

pernahkah kau mengucap
selamat pagi kepada dekap
ibu kepada anaknya yang tiarap
pada usia paling tua
sementara pekerjaan hanya
angan di kepala, anaknya
terpenggal di antara harap
dan rindu mengembalikan ceria

ya, kau hanya memandang
lagi kota tua itu
seharusnya aku
yang memenangkannya
inginmu besar
inginmu tegar

lantas pada dua kaki
yang bergerak ke selatan
engkau menancapkan doa
agar kelak mencarimu
menujumu, memberimu
kekuatan baru

Bandung, 2026

PUISI Sosiawan Leak
Baca Tulisan Lain

PUISI Sosiawan Leak

Kota Diri

kota ini
kota tak bertuan
jutaan mimpi
tak terurai

tetapi lelaki berpeci
kujang tak menyerah
pada langkah
ke depan ia meyakini
tentang tangan api
dan kaki api

membuat kota ini
menyala bagai sirkus pagi
ramai oleh tawa
ramai oleh ceria
ramai oleh cerita

ia menatap lagi
kota di diri
hening
dan ia mengerti
di balik lambaian
tangan perempuan pagi

Bandung, 2026

PUISI Diro Aritonang
Baca Tulisan Lain

PUISI Diro Aritonang

Kepergian Kartini

seperih itukah
negeri ini tinggal ratapan sunyi
negeri yang dipanggil kartini

ia halus dalam senyum tetapi
ia telak kalah oleh kekuatan asing
laksana ia telah hancur lebur

meski ia memiliki sejuta sumberdaya
tetapi apa daya, tak ada
upaya apa-apa dari pemimpinnya

ia hanya kartini di masa tua
jelang ia pergi, ia dipeluk
oleh harapan yang sirna
ia tahu kekalutan
bagaikan hari-hari patah
oleh angin dan waktu bergantian
memberi senyum keadilan

ia menggumam lagi
seperti masa kecil
yang kalah oleh busur api

sesudah takdir
lalu apa yang ia percaya akan berakhir

Bandung, 2026

PUISI Sosiawan Leak
Baca Tulisan Lain

PUISI Sosiawan Leak

Sebatas Nyanyian

tempuhlah jalan panjang
menuju keabadian
lantas harus apalagi
musim ketidakpercayaan lahir
dan membentang di pundak kita

kejujuran hanya butir tasbih
yang tidak pernah teramini
oleh orang-orang, sementara kita lirih
meminta dalil keadilan di pinggiran

sebab keadilan sekadar investasi
bagi pemilik modal, sisanya sunyi
jika kita lantang bernyanyi
lalu apa benar makan pagi
terhidang di meja ini

biarlah kita begini
bernyanyi di media sosial
demi menegakkan tubuh
agar tak lunglai di ruang keruh

Bandung, 2026

Puisi, Kota, Jembatan Tua

reda hujan bukan resah mereda
ojek-ojek mencari jalan kebahagiaan
dan ibu-ibu mendamaikan perkelahian
nuansa di pinggiran kota
terlatih dengan suasana senja

penyair melatih diri
diksi berenang-renang di pikiran
sementara toko buku puisi
tak semeledak negeri
persia, arah puisi seperti ini
melambaikan tawa
meski tak sesuap ikan sapu-sapu
menggoyang lidahnya

sepeda motor membawamu
ke buku puisi penyair itu

engkau membaca barisan
di lembaran puisi
‘dengan nama kota ini
tidak ada puisi
selaris film tetapi
menggemakan hati
menusuk pagi
untuk pekerja seni’

‘pekerja seni hari senin
menakar mimpi yang lain’

engkau menutup buku
‘oh kota, sampaikah kita
pada sebaris cerita
membawa damai di bibir jembatan tua’

Bandung, 2026

PUISI Jose Rizal Manua
Baca Tulisan Lain

PUISI Jose Rizal Manua


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *