Adit Barli, Tokoh Pendidik Anti Mainstream di Tengah Jaman yang Kehilangan Kesabaran

Adit Barli Tokoh Pendidik

Masih ingat ketika publik Indonesia diramaikan oleh kebijakan yang menempatkan pelajar saat dianggap “bermasalah” ke dalam barak militer? Gagasan yang dipopulerkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bekerja sama dengan TNI tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai persoalan remaja, mulai dari tawuran, kecanduan game, hingga keterlibatan dalam geng motor. Sebagian masyarakat menyambutnya dengan antusias. Di tengah meningkatnya keresahan sosial, banyak orang melihat pendekatan militer sebagai jalan pintas untuk membangun disiplin dan ketertiban.

Fenomena tersebut sesungguhnya membuka ruang perenungan yang lebih mendalam tentang wajah pendidikan kita hari ini. Ketika seorang anak terlibat tawuran, apakah masalah utamanya terletak pada kurangnya disiplin? Ketika seorang remaja menghabiskan waktunya berjam-jam di depan layar gawai, apakah akar persoalannya sekadar lemahnya pengawasan? Ataukah sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan krisis yang lebih kompleks: krisis relasi, krisis makna hidup, krisis empati, dan krisis ruang tumbuh yang sehat bagi generasi muda?

Dalam masyarakat yang semakin terburu-buru, solusi yang bersifat instan memang selalu tampak menarik. Kita ingin perubahan cepat. Kita ingin hasil yang segera terlihat. Kita ingin anak-anak kembali tertib tanpa harus memahami secara mendalam mengapa mereka kehilangan arah. Akibatnya, pendidikan sering kali direduksi menjadi proyek pengendalian perilaku.

Padahal manusia bukan mesin yang dapat diperbaiki hanya dengan pengetatan aturan. Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi, pengalaman sosial, luka batin, harapan, dan kebutuhan untuk dipahami. Di sinilah pendidikan seharusnya bekerja. Bukan semata-mata mengoreksi perilaku yang tampak di permukaan, melainkan memahami akar yang tersembunyi di bawahnya. Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan modern yang semakin sibuk mencari formula instan, hadir sosok yang memilih jalur berbeda. Sosok tersebut adalah Adit Barli.

Adit Barli merupakan putra sulung mendiang Agung Wikekaputra sekaligus cucu dari maestro seni rupa Indonesia, Barli Sasmitawinata. Ia tumbuh besar di lingkungan Sanggar Lukis Rangga Gempol, salah satu sanggar seni tertua di Bandung yang didirikan oleh sang kakek. Sejak kecil, kehidupannya tidak dipisahkan dari aroma cat, percakapan para seniman, dan suasana kreatif yang membentuk kepekaan estetik sekaligus kemanusiaannya. Berbeda dengan banyak pendidik yang dibentuk melalui jalur akademik formal, Adit memperoleh pendidikan hidup dari pengalaman yang berlangsung setiap hari. Seni tidak hadir sebagai mata pelajaran. Seni hadir sebagai cara memahami manusia.

Pada tahun 2008, Adit Barli dipercaya melanjutkan estafet keluarga sebagai Kepala Museum Barli menggantikan ayahnya, Agung Wikekaputra. Bersamaan dengan itu, ia juga mengelola Barli Art Studio yang berada di lingkungan Museum Barli Bandung. Dari ruang inilah ia membangun sebuah pendekatan pendidikan yang berbeda dari arus utama. Menariknya, Adit pernah menjadi kontributor Global Auction, sebuah balai lelang internasional yang bergerak dalam bidang karya seni rupa dan koleksi para maestro Indonesia serta Asia Tenggara. Namun ia hanya bertahan selama satu tahun. Alasan pengunduran dirinya sederhana tetapi sarat makna, ia tidak menyukai sistem yang terlalu bergaya industri.

Pilihan tersebut bukan sekadar keputusan karier. Itu merupakan kritik terhadap cara pandang modern yang cenderung mengubah segala sesuatu menjadi komoditas. Seni dinilai dari harga jual. Pendidikan diukur dari angka statistik. Bahkan manusia sering dihargai berdasarkan produktivitasnya. Dalam logika semacam itu, ruang kemanusiaan perlahan menyempit. Adit memilih jalan lain. Baginya, seni harus tetap menjadi ruang untuk merawat kehidupan batin manusia. Seni bukan sekadar objek ekonomi, melainkan sarana memahami diri sendiri dan dunia sosial yang mengelilingi kita.

Pandangan tersebut kemudian melahirkan pendekatan pendidikan yang menarik. Alih-alih berfokus pada hukuman atau kontrol perilaku, Adit mengembangkan metode pengembangan dasar anak yang bertumpu pada empat kemampuan dasar, yaitu kemampuan mengenali emosi, kemampuan konsentrasi atau fokus, pembentukan logika dasar, dan tahapan berpikir. Empat kemampuan ini mungkin terdengar sederhana. Namun justru di sinilah letak kekuatan pendekatannya.

Dalam banyak kasus, anak yang terlibat tawuran bukanlah anak yang kekurangan informasi tentang aturan. Mereka umumnya tahu bahwa kekerasan adalah tindakan yang salah. Persoalannya terletak pada ketidakmampuan mengelola emosi. Mereka tidak terbiasa mengenali kemarahan, frustrasi, atau rasa sakit yang mereka alami. Demikian pula dengan fenomena kecanduan game atau perilaku menyimpang lainnya. Akar persoalannya sering kali bukan semata-mata kurangnya disiplin, melainkan lemahnya kemampuan mengendalikan perhatian dan membangun fokus jangka panjang.

Karena itulah Adit tidak memulai pendidikan dari hukuman. Ia memulainya dari kesadaran diri. Melalui aktivitas menggambar dan proses kreatif lainnya, anak-anak dilatih mengenali emosi mereka sendiri, membedakan rasa marah, kecewa, bahagia, atau cemas. Pada saat yang sama, mereka juga melatih konsentrasi melalui proses menyelesaikan karya secara bertahap.

Ketika seorang anak berusaha mengatur bentuk, warna, dan komposisi dalam gambar, sesungguhnya ia sedang membangun logika berpikir secara alami. Ia belajar membuat keputusan, mempertimbangkan kemungkinan, dan memahami hubungan sebab akibat tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran formal.

Lebih jauh lagi, proses kreatif membantu anak mengembangkan tahapan berpikir yang lebih matang. Mereka belajar bahwa setiap hasil membutuhkan proses. Mereka belajar menunda kepuasan instan. Mereka belajar menerima kesalahan dan memperbaikinya. Semua itu berlangsung tanpa ancaman, bentakan, maupun rasa takut. Dalam perspektif psikologi sosial, pendekatan semacam ini jauh lebih berkelanjutan karena membangun motivasi intrinsik. Anak bertumbuh bukan karena takut dihukum, melainkan karena memahami dirinya sendiri.

Dari sinilah muncul dampak yang lebih luas. Anak yang mampu mengenali emosinya akan lebih mudah mengembangkan empati. Anak yang memiliki kemampuan berpikir yang matang akan lebih menghargai perbedaan. Anak yang terbiasa melihat dunia dari berbagai sudut pandang akan lebih toleran terhadap keberagaman. Bahkan dalam jangka panjang, berbagai kemampuan tersebut menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya kesadaran hukum sejak dini.

Kesadaran hukum yang sejati bukan lahir dari rasa takut terhadap hukuman. Kesadaran hukum lahir dari kemampuan memahami bahwa tindakan kita memiliki konsekuensi terhadap orang lain. Ia berakar pada empati, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Di tengah zaman yang semakin gemar mencari solusi cepat terhadap persoalan yang kompleks, Adit Barli menghadirkan pengingat yang penting. Bahwa pendidikan bukan sekadar proyek mendisiplinkan tubuh, melainkan proses mematangkan jiwa.

Mungkin itulah sebabnya tokoh pendidik anti-mainstream seperti Adit menjadi relevan hari ini. Ketika banyak orang sibuk memperbaiki perilaku anak dari luar, ia memilih membangun manusia dari dalam. Ketika sebagian pihak percaya bahwa ketertiban lahir dari kontrol, ia menunjukkan bahwa karakter sejati tumbuh dari kesadaran. Dan barangkali, di tengah krisis empati yang semakin terasa dalam kehidupan sosial kita, pendidikan yang berangkat dari seni, refleksi, dan kemanusiaan justru merupakan bentuk keberanian paling radikal yang kita butuhkan saat ini. (jbp 31/05/2026)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *